LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM

LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM
SYARAT DARI RAJA ANGGA.


__ADS_3

Seluruh pasukan kerajaan Wirata yang ada di benteng pertahanan menatap melongo, melihat Wu Song terbang diudara sambil menggendong pangeran mereka.


Tidak butuh waktu lama Wu Song sudah kembali ke istana dan mendarat persis di depan istana bersama Pangeran Utara, Wu Song mengikuti pangeran Utara menaiiki undakan tangga menuju ruang sidang istana.


Melihat Utara yang masih sedikit mabuk karena di ajak terbang cepat, Wu Song maju mendampinginya, menggandeng tangan nya sambil menyalurkan hawa hangat ke tubuhnya.


Utara merasakan ada hawa hangat memasuki tubuhnya berputar-putar membuat dia merasa sangat nyaman dan segar mabuk dan pusing di kepala nya perlahan-lahan lenyap.


Wu Song yang melihat Utara sudah pulih dia pun melepaskan gandengan nya membiarkan Utara berjalan sendiri.


Begitu mereka memasuki ruangan sidang terlihat di sana masih sangat ramai.


Semua Mentri bangsawan dan kepala daerah masih lengkap berada di sana termasuk beberapa tetua yang tadinya duduk diluar istana kini ikut bergabung di dalam.


Kecuali tetua Agam dan Utari yang lainnya semua lengkap berada di sana, dari wajah mereka terlihat takut dan cemas.


Melihat Utara dan Wu Song memasuki ruang sidang mereka bertanya-tanya dalam hati, apa yang terjadi mengapa peperangan yang biasa nya menghabiskan waktu berbulan-bulan kini mereka sudah kembali.


Apakah Pasukan kerajaan Wirata sudah di tahlukan musuh atau bagaimana, mereka semua bertanya-tanya dalam hati dengan perasaan tidak tenang menatap Wu Song dan Pangeran Utara.


Setelah berada di tengah ruang sidang pangeran Utara mengangkat tangannya menenangkan suasana istana yang berisik.


Ketika Suasana ruang sidang sudah hening, Utara baru berbicara menghadap kearah ayahnya,


"Yang mulia Raja,.saya ingin menyampaikan situasi terakhir pertahanan benteng kita ."


Raja Wirata mengangguk, meski wajahnya terlihat tenang tapi sorot matanya tetap menunjukkan kecemasan.


Raja Wirata mempersilahkan Pangeran Utara melanjutkan penjelasannya.


Pangeran Utara menarik napas sejenak baru mulai bicara,


"Yang mulia Raja berkat kehadiran Kakak Wu Song di Medan perang, kita telah berhasil memukul mundur Raja Chedi."


"Sedangkan Raja Angga juga menyetujui tawaran damai dari Kakak Wu Song dan menarik mundur pasukannya."


Raja Wirata tersenyum lega dan menatap Wu Song dengan penuh rasa terimakasih.


Sedangkan suasana di dalam ruang sidang kembali, mereka mulai bisa tertawa senang dan saling melontarkan pujian kepada Wu Song.


Bahkan ada beberapa yang berkata mereka mendukung sepenuhnya Wu Song menjadi menantu raja Wirata dengan menikahi putri Utari yang cantik jelita.

__ADS_1


Mendengar hal ini wajah Wu Song menjadi merah dia sedikit canggung, dia kemudian menatap Utara berharap Utara bisa membantunya.


Utara mengerti, dia mengangguk ke Wu Song lalu berkata,


"Hadirin sekalian dengarkan aku..!"


Suasana pun kembali hening saat Pangeran Utara berbicara,


"Aku akan katakan terus terang kepada kalian semua, Raja Angga belum sepenuhnya mundur."


"Raja Angga dan Pasukan nya sekarang berkemah di bukit Sena 5 kilometer dari benteng pertahanan kita."


Utara menutup penjelasannya sambil menatap para hadirin yang kini kembali pucat dan cemas, termasuk ayahnya Raja Wirata.


Sejenak kemudian Pangeran Utara kembali berkata,


"Raja Angga tidak akan mundur sebelum kita memenuhi syaratnya mengusir Rival abadinya yang sedang bersembunyi di wilayah kita."


Para hadirin kembali sibuk berbicara sendiri, mereka yang lebih tua tentu saja tahu tentang hal ini.


Mereka mulai asyik bercerita sendiri, ruangan kembali menjadi riuh rendah.


Pangeran Utara sendiri tidak tahu siapa rival abadinya raja Angga yang begitu perkasa bahkan Kakak Song pun terlihat segan berkonfrontasi dengan nya.


"Hadirin sekalian mohon tenang...!"


Suara pangeran Utara berhasil meredam suasana berisik diruang sidang yang kini kembali hening.


Pangeran Utara kemudian menghadap kearah ayahnya dan berkata,


"Yang mulia, Raja Angga tidak memberitahu siapa rival abadinya, mohon penjelasannya."


"Agar masalah ini tidak berlarut-larut dan segera bisa segera di atasi sebelum Raja Angga kehilangan kesadarannya dan mengamuk di negara kita.!"


Raja Wirata menghela nafas panjang dan berkata,


"Masalah ini sudah berlalu 10 tahun tidak di sangka kini kembali muncul."


"Musuh abadi raja Angga adalah Arjuna, pangeran Ketiga dari ke 5 bersaudara dari raja pandu dari dinasti Kuru yang agung."


"10 tahun yang lalu mereka sempat mengasingkan diri di bukit Utara wilayah kita, dan saat itu juga kerajaan kita sempat diserang."

__ADS_1


"Tapi berkat paman mu Kacika yang berhasil menipu raja Angga, bahwa ke 5 putra pandu sudah tidak lagi berada di negeri kita."


"Maka bencana kehancuran kerajaan kita bisa teratasi."


"Saat itu paman mu Kacika sudah menggerakkan semua orang untuk mencari dan menangkap mereka baik mati ataupun hidup dengan hadiah besar."


"Tapi tetap tidak berhasil, karena daerah perbukitan Utara yang luas banyak gua alam dan hutan lebat dan bukit terjal serta jurang yang dalam."


"Tidak ada satupun orang yang disebarkan oleh paman mu berhasil menemukan keberadaan mereka."


"Karena hal itu, dengan terpaksa pamanmu menipu raja Angga,. dengan cerita mereka ber 5 telah pergi ke Yedawa."


Mendengar penjelasan ayahnya pangeran Utara pun berkata,


"Kalau begitu sekarang juga kita harus berhasil menemukan mereka ber 5 dan memohon baik-baik kepada mereka agar tidak mempersulit negara kita."


Semua yang hadir pun mengangguk setuju atas ide pangeran Utara.


Raja Wirata akhirnya berkata,


"Kalian semua dengar kan titah ku, segera cari ke segala pelosok Wilayah kita, kita harus segera menemukan mereka dan meminta mereka ber 5 pergi baik-baik dari negara kita."


"Ingat harus meminta dan memohon dengan baik-baik, karena mereka ber 5 bukan orang biasa, terutama pangeran kedua Bima dan pangeran ke 3 Arjuna."


"Kesaktian mereka berdua tidak berada di bawah Jayasanda Raja magada dan Raja Muda Angga Karna.!"


Semua yang hadir mengangguk patuh Kemudian sambil memberi hormat satu persatu mundur pergi melaksanakan tugas yang baru saja di perintahkan oleh Raja mereka.


Sambil menunggu kedatangan Utari yang pergi menjemput Lu Ping, Wu Song berdiam di istana sebagai tamu kehormatan.


Tak terasa sudah seminggu Wu Song tinggal di istana raja Wirata, Wu Song tadinya sempat berpikir pergi menyusul Utari dan tetua Agam.


Tapi karena takut selisih jalan, ditambah lagi belum ada kabar ditemukannya ke 5 orang putra pangeran pandu.


Membuat Wu Song tidak tega meninggalkan istana, karena khawatir raja Angga akan kembali menyerang ketika dia sedang pergi.


Pagi ini saat Wu Song sedang duduk termenung di taman depan kamarnya.


Tiba-tiba terdengar suara lembut di belakang nya,


"Sayang aku datang.."

__ADS_1


Wu Song tersentak, kemudian cepat-cepat berdiri dan membalikkan badannya kebelakang.


.


__ADS_2