LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM

LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM
RENCANA PEMAKAMAN


__ADS_3

Bun Houw sudah merasa kondisinya membaik, tapi setelah berulang kali mencoba menghimpun hawa murni dan selalu gagal akhirnya dia menyadari.


Meskipun nyawanya terselamatkan, tapi dia sekarang tak ada bedanya dengan orang mati.


Dia bukan hanya kehilangan kedua tangannya dan seluruh tenaga saktinya.


Yang lebih parahnya lagi kelihatannya Tan Tian miliknya telah rusak total tidak bisa di gunakan untuk menyimpan hawa murni yang sudah dia serap dari alam.


Setiap hawa murninya terkumpul dia akan pecah bocor merembes kemana-mana, tidak bisa dikumpulkan untuk di salurkan ke titik yang dia inginkan.


Dari sini Bun Houw menyadari dirinya kini hanya seorang cacat yang tidak bisa apa-apa.


Awalnya Bun Houw sempat kecewa dan putus asa, tapi setelah merenungkan semuanya berulang kali.


Akhirnya dia sadar dan paham semuanya, dia mulai bisa menerima kenyataan.


Seiring dengan itu semangat hidupnya mulai tumbuh, akhirnya dia memutuskan untuk melanjutkan hidupnya dengan mencari sebuah tempat memulai usaha rumah makan.


Di mana dia masih memiliki keahlian dan ketrampilan memasak, memang dia sendiri tidak bisa turun tangan lagi.


Tapi dia masih bisa menjadi pengawas dan mentor dari masakan orang yang akan direkrutnya.


Berdasarkan pengalamannya dalam merekrut pasukan Bun Houw yakin dia pasti mampu merekrut beberapa koki handal untuk membantunya.


Soal keuangan Bun Houw tidak khawatir, karena dia memiliki simpanan yang cukup banyak selama bekerja dibawah Shi Ma Ong.


Bun Houw ingin melupakan masa lalunya yang penuh penyesalan dan kekelaman dengan memulai hidup baru di dunia yang baru.


Anggap saja ini sebagai penghargaan dan rasa terimakasih nya atas pengorbanan So Soo dan suaminya panglima Lee Yong, yang demi menyelamatkan nya akhirnya gugur di Medan perang.


Setelah menempuh perjalanan selama 30 hari, akhirnya kapal besar dan mewah itu tiba di pelabuhan Goguryeo.


Kaisar Kim Douk sendiri beserta seluruh menterinya, termasuk panglima tua Lee Kong kakek panglima muda Lee Yong, hadir di pelabuhan menyambut kedatangan rombongan pasukan perguruan Dewa petir itu.


Tapi saat melihat suasana berkabung dan berkibarnya bendera tanda berkabung.


Semua yang hadir merasa cemas dan khawatir, tidak tahu ini perkabungan siapa.


Terutama kaisar Kim Douk dan Panglima tua Lee Kong adalah orang yang paling cemas ditempat itu.


Mereka berdua berdiri mematung dan terus melihat kearah atas kapal menanti kabar duka yang datang dari atas kapal tersebut.


Panglima tua Lee Kong akhirnya tahu perguruan petir sedang berkabung buat siapa.

__ADS_1


Dia hampir terjatuh saat mendapat kabar itu, tubuhnya yang biasa tegap, kini terlihat lemas dan ringkih, dalam beberapa saat saja Panglima itu terlihat menjadi jauh lebih tua dan lemah.


Di hadapan panglima Lee Kong berlutut 4 tetua perguruan Dewa petir, lewat mulut mereka ber 4 lah Panglima Tua Lee Kong mengetahui cucunya Lee Yong telah gugur di Medan perang.


Kaisar Kim Douk juga sangat sedih, siapapun diantara Kim So Soo putrinya dan Lee Yong menantunya adalah yang paling tidak ingin dia dengar terjadi sesuatu dengan mereka.


Awalnya ijin pergi bulan madu adalah sesuatu yang membahagiakan kenapa harus pulang dengan cara menyedihkan seperti ini.


Berpikir sampai di sini kaisar Kim Douk pun menengadahkan kepalanya menatap langit mencegah airmatanya jatuh menetes.


Tapi tetap saja airmata itu tidak dapat di cegah bergulir jatuh membasahi kerah baju kebesarannya.


Secara pribadi dia berduka kehilangan menantu terbaiknya, secara kerjaan dia kehilangan Panglima terbaiknya dan merupakan pelindung masa depan kerajaan nya.


Ini benar-benar suatu pukulan keras bagi dirinya dan kerajaan nya.


Setelah mendapat laporan dari 4 tetua tentang semua yang terjadi, dan apa yang sedang di alami oleh Putri Kim So Soo.


Maka kaisar Kim Douk melarang siapapun naik keatas kapal, kecuali dia bersama panglima Lee Kong dan keempat tetua.


Keempat tetua hanya mengantar sampai di depan kamar dan mereka berempat berjaga disana.


Yang masuk kedalam kamar adalah Kaisar Kim Douk dan Panglima Tua Lee Kong.


Sambil bercucuran air mata jatuh menetes ke kepompong ulat sutra yang ada di hadapannya.


"So Soo...!"


panggil Kaisar Kim Douk dengan lembut.


So Soo mengangkat kepalanya menatap kearah dua pria yang berdiri di hadapannya.


Dia mulai menahan sedu sedan nya, perlahan-lahan dia berdiri dan berjalan menghampiri kedua orang itu dengan airmata yang mengucur semakin deras.


Setelah berada di hadapan mereka, So Soo akhirnya jatuh bersimpuh dihadapan mereka berdua dan menangis tersedu-sedu.


"Ayah...kakek...ini semua salah...So Soo..."


Di sela-sela suara Isak tangisnya, So Soo akhirnya berkata dengan suara terputus-putus.


"Kalian hukumlah.. So Soo... antarkan..istri berdosa ini...pergi menemui.. suaminya...agar bisa meminta maaf pada nya..."


"So Soo... yang mencelakai...Yong ta ke...So Soo lah...penyebab semua ini...Hu...hu...hu..hu.."

__ADS_1


"Ayah..kakek...bunuh lah So Soo... setelah bayi kami lahir nanti... "


"Tolong rawat keturunan Yong Ta ke dengan baik..."


Kedua pria tua itu saling pandang, kemudian Kaisar membungkuk membangunkan putrinya dan memeluknya sambil berkata,


"Anak bodoh kamu omong apa ? setelah semua ini bila kamu tidak melahirkan dan membesarkan keturunan satu-satunya."


"Kamu akan semakin berdosa padanya, bagaimana kamu punya muka untuk menemuinya di sana.."


"Tidak anak ku kamu harus melahirkan dan membesarkan anak itu sendiri, anggap saja dia datang untuk menggantikan ayahnya yang telah pergi.."


Panglima Lee Kong tidak berkata apa-apa, dia hanya menatap sedih kearah jasad cucunya. Yang kini terbungkus dalam gulungan benang sutera putih.


"Putri ku kamu tidak bisa terus di sini dan membiarkan jasad suami mu seperti itu."


"Kita harus segera memberikan penguburan yang layak baginya agar dia tenang di sana.."


ucap kaisar Kim hati-hati menunggu respon putrinya.


"Ayah setelah..Yong Ta ke di kuburkan, bolehkah aku...


tinggal disana..menemaninya..?"


Kaisar Kim menghela nafas panjang dan berkata,


"Begini saja.. bagaimana bila ayah mengatur makamnya di taman istana kediaman kalian ?"


"Dengan demikian kamu bisa bebas menemani dan melihat makam suami mu.."


"Sedangkan ayah lebih bisa bertenang hati.."


Sp Soo termenung sejenak kemudian dia menatap kearah panglima Lee Kong dan berkata,


"Kakek...bolehkah itu ?"


Panglima Lee Kong tersenyum sedih dan menganggukkan kepalanya sambil berkata,


"Boleh saja,.. asalkan kamu harus berjanji pada ku, untuk menjaga kesehatan mu dan bayi di kandungan mu itu dengan baik."


So Soo menganggukkan kepalanya dengan cepat dan berkata,


"Terimakasih banyak kek.. terimakasih.."

__ADS_1


__ADS_2