LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM

LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM
PERTEMPURAN DI ATAS JEMBATAN KOTA,


__ADS_3

Pemuda itu menatap ketiga gadis itu tanpa berkedip seakan-akan bila berkedip ketiga gadis cantik itu akan hilang dari hadapannya.


Ketiga gadis itu tidak terlalu perduli dengan pemuda itu, hanya orang pertama yang memiliki tahi lalat di dagu sedikit mengerutkan alisnya tidak senang.


Tapi dia hanya diam saja melewati pemuda ceriwis yang terus menatap mereka.


Gadis berbaju merah mengambil tempat duduk menghadap ke jalan raya, di ikuti oleh kedua saudaranya.


Sehingga hanya bagian punggung mereka yang menghadap ke arah punggung pemuda ceriwis itu.


Tapi pemuda ceriwis itu tidak menyerah,


dia masih terus menatap bagian belakang tubuh ketiga gadis itu yang sedang duduk memunggunginya.


Pemuda ceriwis dan tampan ini bernama Ouwyang Kok, dia masih terhitung keponakan dari Ouwyang Thian yang pernah di kalahkan oleh Wu Song di arena pertandingan di puncak Hua San.


Sedangkan ketiga gadis cantik yang duduk memunggungi Ouwyang Kok adalah Tiga Pendekar Wanita Jiang Nan ( Jiang Nan San Ni Sia).


Gadis berbaju merah bernama Li San San,


Gadis berbaju hijau bernama Yi Sian Sian.


Gadis berbaju kuning bernama Li Se Se.


Nama mereka bertiga cukup terkenal di kota Jiang Nan.


Karena mereka sering mengulurkan tangannya membantu yang lemah dan membasmi kejahatan di sekitar daerah Jiang Nan.


Pesanan makanan Wu Song datang dia tidak terlalu perduli dengan keadaan sekitarnya.


Dia terlihat sibuk mengupas udang dan kepiting buat Lu Ping.


Sesekali Lu Ping akan menyuapi Wu Song dengan mesra.


Setelah Lu Ping kenyang, Wu Song baru mulai makan menghabiskan sisa makanan yang tidak sanggup lagi di habiskan Lu Ping.


Ternyata lantai dua tidak seramai lantai satu, sampai Wu Song selesai makan pengunjung di lantai dua ini selain Wu Song, Ouwyang Kok, tiga Pendekar wanita.


Wu Song hanya melihat seorang pria yang memakai topi caping petani duduk di suatu sudut minum arak seorang diri.


Dua meja lagi diisi oleh pedagang antar kota, yang di kawal oleh pengawal expedisi yang mereka sewa dari perusahaan penyedia jasa pengiriman barang dan perlindungan keamanan.


Selesai makan Wu Song meninggalkan restoran, pergi mencari penginapan yang direkomendasikan oleh kasir restoran kepada mereka berdua.

__ADS_1


Penginapan yang direkomendasikan cukup besar sehingga tidak terlalu sulit untuk menemukannya.


Siang itu di gunakan oleh Wu Song dan Lu Ping untuk istirahat karena nanti malam mereka berdua akan melakukan patroli malam.


Menjelang sore Wu Song dan Lu Ping terlihat keluar dari penginapan, seperti janji Wu Song siang tadi.


Kini dia kembali menemani istrinya jalan-jalan, menikmati keindahan dan keramaian Jiang Nan di sore hari yang bercuaca sejuk.


Karena siang tadi ketika Wu Song dan Lu Ping beristirahat Jiang Nan diguyur hujan sampai sore ini baru berhenti.


Wu Song dan Lu Ping menyusuri jalanan yang masih sedikit basah bekas air hujan.


Para pedagang terlihat mulai menyusun kembali barang dagangan mereka.


Wu Song dan Lu Ping hanya berjalan sembarangan tanpa arah dan tujuan pasti.


Tanpa terasa langkah mereka membawa mereka menuju kaki sebuah jembatan kota.


Wu Song melihat di atas jembatan terjadi pertarungan seru 3 lawan lawan 4


Ternyata yang sedang bertarung adalah 3 gadis cantik Pendekar wanita Jiang Nan, melawan 4 orang gadis berbaju putih.


Pertandingan berjalan seru, pedang mereka berkelebatan seperti cahaya kilat saling mengancam titik vital ditubuh mereka masing-masing.


Tapi tarian Pedang ketiga gadis cantik itu lebih unggul, akhirnya dua orang gadis berbaju putih ter tendang jatuh ke bawah jembatan yang dialiri sungai kecil yang airnya berwarna hijau.


Tapi sebelum tubuh mereka jatuh ke dalam sungai itu, sepasang tangan menyambar pinggang kedua gadis bercadar dan bergaun putih itu.


Kaki penolong mereka menapak di atas air dengan ringan kemudian melayang kembali keatas jembatan.


Ketika sudah mendarat di atas jembatan,


Kedua gadis berbaju putih yang memakai cadar langsung memberi hormat ke pemuda yang menolong mereka sambil berkata,


"Terima kasih banyak tuan muda."


Pemuda itu hanya menjawab dengan anggukkan kepala sambil membentangkan kipasnya di depan dada


Dan berjalan kearah arena pertempuran sambil berkata,


"Mundurlah kalian berdua telah berusaha maximal, mereka bertiga bukan tandingan kalian."


Wu Song tidak mengetahui penyebab pertikaian mereka jadi dia tidak berani ikut campur hanya berdiri menonton saja.

__ADS_1


Pemuda ceriwis itu maju mendekati ketiga gadis cantik yang sedang menatap tajam kearahnya.


Tidak terlihat siapa yang memulai nya pertarungan kembali berlanjut.


Tapi pertandingan saat ini berbeda, bila tadi 3 Pendekar Jiang Nan menguasai pertempuran.


Kini sebaliknya mereka mulai terdesak oleh kibasan kipas yang mendatangkan angin menderu-deru ke wajah mereka.


Membuat mata mereka sulit terbuka, di saat bersamaan kipas akan kembali menutup.


Kemudian ujung kipas yang tertutup selalu bergerak cepat menotok kejalan darah penting di tubuh ke tiga gadis itu, secara bergantian.


Ketiga gadis itu mengerahkan segenap kemampuan mereka untuk bertahan mati-matian saling melindungi satu dan yang lain.


Kerja sama mereka bertiga cukup baik, tapi mereka kini kehilangan kesempatan untuk menyerang.


Sehingga Ouwyang Kok dapat dengan bebas menyerang mereka bertiga.


Tiba-tiba terdengar jeritan tertahan dari gadis berbaju kuning pedangnya terlepas dari pegangannya.


Tadi ketika dia mencoba menusuk leher Ouwyang Kok yang terlihat terbuka, ternyata itu adalah jebakan yang dibuat Ouwyang Kok untuknya.


Ketika ujung pedang hampir menyentuh leher Ouwyang Kok, tiba-tiba tangannya kesemutan tidak sanggup mempertahankan pedang yang dipegangnya.


Karena tangannya yang sedang memegang ganggang pedang tertotok jalan darahnya oleh ujung kipas Ouwyang Kok.


Ketika pedangnya terlepas, gadis baju hijau menerjang dari samping kanan, mencegah Ouwyang Kok melanjutkan serangan susulan kearah gadis berbaju kuning.


Ouwyang Kok dengan cerdik menendang pedang Li Se Se yang terlepas dari pegangannya, kearah Yi Sian Sian yang sedang menerjang dari samping kanan.


Yi Sian Sian si gadis baju hijau terpaksa membuang diri menghindari serangan pedang nyasar yang terarah ke dirinya.


Gadis berbaju merah Li San San tidak tinggal diam dia juga melesat dari sebelah kiri menusukkan pedangnya kearah perut Ouwyang Kok.


Bila Ouwyang Kok tetap bergerak mengejar Li Se Se, perutnya akan tertembus oleh pedang Li San San dari sebelah kirinya.


Tapi Ouwyang Kok tidak kehabisan akal dia mengebutkan kipasnya kearah Li San San puluhan jarum halus keluar dari tempat rahasia yang tersimpan dalam kipasnya.


Sehingga Li San San harus mati-matian menghindar, tetapi masih tetap ada beberapa jarum halus menancap di dada dan dibahunya.


Sehingga dia terjatuh bergulingan dengan jerit tertahan.


Ouwyang Kok tetap meluncur ke arah Li Se Se yang kini tidak memegang senjata.

__ADS_1


Telunjuk Ouwyang Kok berhasil menotok jalan darah di dada Li Se Se membuat nya berdiri mematung dengan mata terbelalak ketakutan.


__ADS_2