LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM

LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM
PERTAMA KALI MAKAN DI RUMAH LIN LIN,


__ADS_3

Lin Lin mulai bisa menikmati pemandangan yang menakjubkan di bawahnya, seumur hidup dia belum pernah menikmati pemandangan seindah ini dari tempat setinggi ini.


Sungguh menakjubkan, apalagi di temani pria yang selama ini selalu menghiasi mimpinya dan selalu dia tunggu kedatangannya.


Semua kesedihan dan penyesalan tadi hilang tersapu angin, tergantikan dengan perasaan hangat dan bahagia.


Lu Fan tersenyum hatinya dipenuhi kebahagiaan, Lu Fan berpikir ternyata kebahagiaan nya begitu sederhana.


Asal ada Lin Lin menemani di sisinya dia sudah merasa dia lah orang yang paling bahagia di dunia ini.


Lu Fan terus membawa Lin Lin terbang berputar-putar melihat pemandangan yang sangat indah.


Perlahan-lahan Lu Fan membawa Lin Lin mendarat disebuah kolam yang airnya berwarna kebiruan dan mengeluarkan asap tipis.


Lu Fan mengajak Lin Lin duduk ditepi kolam sambil merendam kaki mereka di kolam air hangat itu.


"Bagaimana nikmat kan?" tanya Lu Fan memiringkan kepalanya menatap Lin Lin.


Lin Lin mengangguk dan berkata,


"Awalnya agak sakit seperti ditusuk ribuan jarum dan sedikit gatal, tapi lama-lama terasa sangat nyaman."


"Kenapa udara di sini begitu dingin tapi kolam ini airnya justru panas.?" tanya Lin Lin sambil menatap heran kearah kolam air panas itu.


Lu Fan meraih bahu Lin Lin kedalam pelukannya dan berkata,


"Kamu kedinginan ya,? biar aku membantumu menghangatkan."


Lin Lin tidak menolak hanya wajahnya menjadi merah, Lu Fan hanya tersenyum pura-pura tidak melihat nya dia tidak mau membuat Lin Lin semakin malu.


Lu Fan menjelaskan,


"Cuaca di sini dingin karena kita berada di salah satu puncak gunung, sedangkan air kolam ini panas karena di bawah kolam ini terdapat kawah gunung berapi yang masih aktip."


Lu Fan dengan nakal berbisik,


"Bila kita sudah menikah kita bisa berendam dan mandi bersama di sini, tentu lebih asyik lagi."


Lin Lin langsung merah wajahnya, dia jadi teringat gambar-gambar di koridor kediaman Si Men Cing dulu.


Lin Lin menutupi rasa groginya mengalihkan pembicaraan,


"Jadi selama ini kamu kemana saja? tidak pernah muncul di Xiao Pei lagi."


Lu Fan menatap Lin Lin sambil tersenyum nakal bertanya balik,


"Kenapa kangen ya setelah saya pergi,? dulu setiap hari datang bukannya kamu malah tidak suka.?"

__ADS_1


Lin Lin mengigit bibir bawahnya menatap kearah kolam tidak berani melihat Lu Fan dia pun menjawab,


"Aku juga tidak tahu kenapa? dulu setiap bertemu aku selalu kesal dan marah dengan mu, tapi setelah kamu pergi dari tidak pernah datang lagi, aku malah selalu berharap kamu kembali mencari ku."


Lu Fan membelai rambut Lin Lin kemudian berkata,


"Aku tidak pergi kemana-mana hanya pulang kerumah, mencari tempat sepi menenangkan pikiran."


Lin Lin menoleh melihat Lu Fan dan berkata,


"Kamu pasti sangat sedih dan kecewa ya dengan ku?"


Lu Fan menatap Lin Lin sejenak baru bercerita,


"Pagi siang biasa saja karena aku menghabiskan waktu untuk berlatih, tapi jelang sore wajah mu akan muncul.


Saat menjelang matahari tenggelam aku akan kembali ke kenyataan bahwa aku hanya sendirian."


"Untuk mengurangi beban hatiku aku akan berteriak sepuasnya, sampai hati ku terasa lega, aku baru bisa lanjutkan meditasi ku."


Lin Lin menggenggam tangan Lu Fan dan berkata,


"Maafkan aku, aku berjanji kedepan nya tidak akan membiarkan mu sendirian lagi."


Lu Fan menatap Lin Lin dan bertanya,


Lin Lin melihat kearah bayangan dan matahari sejenak, kemudian berkata.


"Kita pulang dulu makan di rumahku, setelah itu baru kita main kesana, gimana?"


Lu Fan sedikit ragu, dia menatap Lin Lin dengan ragu.


" Makan di rumah mu? Kamu serius? bagaimana kita makan di restoran saja?, aku akan mentraktir mu."


Lin Lin tersenyum dan berkata,


"Itu pemborosan, jangan khawatir ayah ku tidak akan memakan mu.


Masa pahlawan kota Xiao Pei manusia bertopeng takut sama tukang obat." ucap Lin Lin sambil tertawa mengoda Lu Sun.


Lu Sun tersenyum canggung dan menjawab,


"Itu dua hal yang berbeda tidak bisa di samakan, mereka orang jahat.


Sedangkan Paman Yao itu ayah mu tentu aku takut dengan nya."


Lin Lin tertawa dan berkata,

__ADS_1


"Sudah jangan terlalu banyak berpikir, hayo antar aku pulang, kemaren aku ada bikin Coi Pan masih ada sisa kamu mau tidak?"


Lu Fan menelan ludah teringat Coi Pan buatan Lin Lin yang sangat enak itu.


Dengan mengeraskan hati menebalkan muka.


Lu Fan merangkul pinggang Ying Ying membawanya terbang dengan Jin Tou Yun menuju rumah Lin Lin.


Lu Fan dan Lin Lin mendarat ditempat yang sepi agar tidak menimbulkan kehebohan warga.


Lin Lin menggandeng tangan Lu Fan masuk ke tokonya dengan santai, sedangkan berjalan sedikit di belakang Lin Lin dengan ragu.


Baru saja Lin Lin masuk toko terdengar suara teguran dari Yao Su yang lagi sibuk menyusun obat,


"Gadis nakal kamu keluyuran kemana lagi,? tidak masak untuk tamu malah membiarkan kakak misan mu masak buat kita."


"Ehh kamu bawa siapa pulang?" ucap Yao Su kurang senang apalagi saat melihat Lin Lin menggandeng tangan Lu Fan.


Lin Lin tidak menjawabnya dengan santai dia menarik tangan Lu Fan masuk kerumahnya.


Lu Fan menjadi tidak enak, dia cepat-cepat tersenyum sambil menganggukkan kepalanya kearah Yao Su dan berkata,


"Paman maaf aku masuk dulu."


Lu Fan tidak sempat bicara panjang lebar terpaksa mengikuti tarikan Lin Lin ikut dengannya masuk kedalam rumah.


Yao Su hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap putrinya, dia tidak bisa mengikuti mereka masuk kedalam karena toko tidak ada yang jaga.


Lin Lin memperkenalkan Lu Fan kepada kakak misan dan suaminya yang sedang asyik bermain dengan anak mereka.


Setelah berbasa-basi sejenak Lin Lin menarik Lu Fan menuju dapur, kemudian dia mulai sibuk memanaskan Coi Pan buatannya untuk Lu Fan.


Lu Fan tiada henti-hentinya menatap Lin Lin yang sedang sibuk sambil tersenyum sendiri.


Lin Lin tentu menyadarinya tapi dia diam saja, membiarkan Lu Fan menatapnya sepuasnya.


Tak lama kemudian Lin Lin membawa puluhan Coi Pan yang masih mengepulkan uap panas ke hadapan Lu Fan.


Kemudian mengeluarkan nasi dan lauk meletakkan nya di depan Lu Fan dan berkata,


"Ayo di makan jangan cuma di lihat."


Lu Fan tersenyum canggung, dia mengambil sebiji Choi Pan dengan sumpitnya dan mulai mencicipinya.


Sekali makan Lu Fan tidak bisa berhenti dia terus makan Choi Pan Sampai lupa dengan nasinya.


Lu Fan akhirnya tidak makan nasi, dia cuma makan Choi Pan sampai kenyang

__ADS_1


__ADS_2