
Lu Ping menahan tangan Wu Song,
" kamu serius bagaimana bila seluruh dunia persilatan. nanti mengejar mu?"
Wu Song memegang tangan Lu Ping dengan kedua tangannya sambil menatap Istrinya dengan serius berkata,
"Sayang di dunia ini, tidak ada yang ku takuti.
Atas kejadian ini, selain salah paham Ayah Ibu dan kamu pada ku."
"Seluruh dunia boleh tidak mempercayaiku, aku tidak akan menyesal, tapi aku tidak dapat menerima bila kalian juga ikut salah paham padaku."
"Meski karena rasa sayang mu pada ku, kamu memilih mempercayai ku.
Tapi aku tetap ingin membersihkan dan membuktikan padamu bukan aku pelakunya."
"Kini kamu sudah melihat sendiri, dan bisa menjadi saksi ketika bertemu ayah dan ibu.
Jadi tidak ada yang perlu aku khawatirkan lagi."
Lu Ping langsung memeluk Wu Song sambil tersenyum bahagia dia berkata,
"Baiklah aku akan menemanimu menghadapi semua ini, dan mendukung semua keputusan mu."
Wu Song sambil merangkul istrinya, mereka berdua berjalan menuju kereta yang membawa dua buah peti mati.
Tidak menghiraukan Jiang Nan San Ni Sia yang berdiri menatap bayangan punggung mereka berdua.
Tiba-tiba Li Se Se berlari mengejar Wu Song dan istrinya, sambil berseru.
"Wu Song ke ke tunggu...!"
Li San San dan Yi Sian Sian hanya saling pandang tidak mengerti, apa yang sedang di lakukan saudari seperguruan mereka saat ini..
Wu Song dan Lu Ping menghentikan langkahnya, menoleh kebelakang.
Mereka melihat Li Se Se sedang berlari menghampiri mereka.
Li Se Se tiba di depan Wu Song, dia dengan sedikit malu-malu berkata,
"Wu Song ke ke, terimalah aku sebagai pelayan mu."
Wu Song terdiam, dia berjalan mendekati Li Se Se, tubuh Li Se Se sedikit bergetar grogi.
__ADS_1
Tanpa sadar tangan Li Se Se meremas gaunnya erat-erat.
Wu Song mengulurkan tangannya mengelus kepala Li Se Se sambil berkata,
"Adik Se Se kamu sangat cantik dan masih muda, pasti kelak akan banyak pria yang jauh lebih tampan dan lebih baik dari ku ."
"Yang akan mencintaimu dengan setulus hati, buat apa kamu menyia-nyiakan masa depan mu? mengikuti seorang pria tua yang sudah beristri."
"Aku sarankan kamu jangan membuang masa muda mu demi seorang pria beristri, yang selamanya tidak akan pernah lagi bisa mencintai wanita lain selain dia." ucap Wu Song sambil menunjuk Lu Ping.
Lu Ping tersenyum penuh haru menatap suaminya.
Bahu Li Se Se sedikit bergetar mendengar ucapan Wu Song, tapi dia adalah gadis yang sangat keras kepala dan keras hati.
Bila sudah memutuskan sesuatu dia tidak akan pernah mundur.
Li Se Se menghapus dua butir airmata yang menetes disela-sela pipinya.
Kemudian mengangkat kepalanya, tidak menatap Wu Song lagi.
Dia langsung berjalan kearah Lu Ping, menggenggam tangan Lu Ping dengan kedua tangannya dan berkata,
"Ping Cie Cie aku mohon terimalah aku sebagai pelayan mu, aku berjanji akan melayani seumur hidup dengan sepenuh hati."
"Bila Ping Cie Cie menerima ku, aku dan kedua kakak ku akan ikut , pergi membersihkan nama Wu Song Ke ke."
Tidak ada salahnya dia menerima gadis ini disisinya, dengan kondisinya yang tidak bisa punya anak.
Siapa tahu kelak, bila suatu hari dia benar-benar tidak bisa memiliki anak.
Mungkin lewat gadis inilah Wu Song bisa mendapatkan seorang anak untuk menjadi penerus keluarga Wu.
Dia tidak boleh egois, membiarkan keluarga Wu kehilangan penerus, Wu Song memang memiliki Cin Hai, tap Lu Ping yakin kakek Si Ma Jian kelak pasti ingin Cin Hai menjadi penerus keluarga Si Ma.
Setelah berpikir sesaat Lu Ping membalas genggaman Se Se dan berkata,
"Aku tidak membutuhkan pelayan...
Ekspresi Wajah Se Se menjadi pucat, airmata mulai menetes ke pipinya.
"Tapi aku membutuhkan seorang adik, untuk menemani ku dan menjadi teman berbicara." ucap Lu Ping tersenyum, menyambung kata-kata nya yang sengaja dibuat terputus ingin memberi Se Se kejutan.
Se Se langsung tertawa girang dan memeluk Lu Ping sambil berbisik,
__ADS_1
"Terimakasih... terimakasih... Ping Cie Cie... terimakasih."
Lu Ping menepuk-nepuk punggung Se Se dengan lembut.
Wu Song menatap tak berdaya, dia hanya bisa menghela napas menahan kegelisahan hati.
Wu Song paling tidak bisa menolak keinginan Lu Ping.
Dalam hal Wu Song berpikir hidupnya bakal sangat repot, dengan kehadiran Li Se Se yang sangat keras kepala dan mencintai dirinya.
Gadis ini bahkan bersedia menjadi pelayan, hanya karena ingin bisa melihat dan berdekatan dengan dirinya.
Ini adalah suatu tindakan yang agak tidak masuk akal, sekarang dia memanfaatkan Lu Ping untuk menekannya.
Li Se Se yang posisinya menghadap kearah Wu Song dia dapat melihat jelas wajah Wu Song yang muram tapi tak berdaya itu.
Ketika kedua pasang mata mereka bertemu dengan nakal Li Se Se menjulurkan lidahnya yang lancip merah kearah Wu Song sambil mengedipkan sebelah matanya.
Wu Song tidak mau meladeni gadis nakal dan banyak akal itu.
Wu Song berjalan sendiri naik keatas kereta kemudian membawa kereta mendekati Lu Ping dan berkata,
"Sayang duduklah di sini temani aku, biar Jiang Nan San Ni Sia duduk di dalam kereta saja."
Tapi Lu Ping tidak meladeni ajakan Wu Song dia menggandeng tangan Li Se Se dan melambaikan tangan kearah Li San San dan Yi Sian Sian agar ikut dengannya masuk kedalam kereta.
Lu Ping tentu akan dengan senang hati duduk menemani Wu Song di depan.
Tapi dia tidak boleh tidak sopan, membiarkan Jiang Nan San Ni Sia yang jelas-jelas mengikuti mereka untuk membantu membersihkan nama Wu Song.
Dengan membiarkan mereka duduk di belakang kereta yang terdapat dua peti mati, Sedangkan dirinya bermesraan bersama suaminya dikursi depan.
Dari info Jiang Nan San Ni Sia, mereka menuju kota Chang Zhou di mana perguruan Bangau Putih didirikan.
Hanya menempuh waktu beberapa jam saja mereka pun tiba di kota itu, yang letaknya memang tidak jauh dari Jiang Nan.
Setelah memasuki kota Zhang Zhou, mereka langsung bertanya-tanya pada warga disana,
Dimana letak perguruan Bangau Putih.
Tanpa kesulitan mereka berhasil menemukan perguruan tersebut.
Wu Song langsung turun dari kereta menghampiri dua pemuda yang bertugas menjaga gerbang perguruan tersebut.
__ADS_1
Wu Song menyampaikan keinginannya bertemu ketua perguruan tersebut, karena ada hal penting menyangkut cucunya yang akan Wu Song sampai kan.
Kedua pemuda itu tidak berani menunda-nunda, karena ini menyangkut cucu kesayangan guru mereka.