
Mimi sedikit terkejut sehingga menghentikan langkah kakinya, dia menoleh menatap Wu Song dengan penuh permohonan.
"Song ke ke tidak bisakah kamu menginap barang semalam saja, dan menikmati sedikit jamuan esok pagi yang secara khusus di siapkan untuk mu."
"Sebagai ungkapan rasa terimakasih kami yang tulus atas semua bantuan yang sudah kamu berikan kepada kami."
Wu Song tersenyum dan berkata,
"Mimi kita sebagai sahabat saling bantu dengan tulus tanpa pamrih dan tidak pernah berharap balasan apapun, benar tidak ?"
"Tapi Song ke ke..aku..."
ucap Mimi tidak bisa berkata dan kepalanya tertunduk.
Wu Song tersenyum dan berkata,
"Aku tahu niat baik mu dan niat tulus dari ayah mu, kalian punya niat itu aku pun sudah sangat puas."
"Mengenai ke ikut sertaan ku dalam acara tersebut, ku harap kamu bisa membantu ku menjelaskan pada mereka, tugas dan tanggung jawab ku masih banyak."
"Bila semuanya selesai, aku baru akan kembali kemari menjenguk mu bersama istri dan anakku."
Mimi menghela nafas dan berkata,
"Baiklah Song ke ke kamu pergi saja dengan tenang, urusan di sini serahkan pada ku."
Wu Song tersenyum lebar dia menarik Mimi dan memeluknya sambil berkata,
"Terimakasih sahabat ku, kamu memang sangat pengertian, terima kasih sampai jumpa.."
Saat Mimi tersadar dari pelukan hangat Wu Song, Wu Song sudah melesat jauh meninggalkan tempat itu.
"Song ke ke.. selamat jalan berhati-hati lah..!!"
teriak Mimi sekeras-kerasnya mengiringi kepergian Wu Song.
Kemudian dia berjalan dengan lesu Kembali ke perkemahan ayahnya, untuk menjelaskan semuanya kepada ayahnya.
Dulu dia selalu berharap siang dan malam agar bisa kembali ke sini berkumpul dengan ayahnya dan teman-temannya.
Tapi tidak tahu kenapa setelah pulang dia malah merasa sangat kesepian dan tidak bahagia.
Mungkin ini karena kekasih hati yang dia rindukan baik pagi siang dan malam itu ternyata kini sudah menikah dan menjadi milik wanita lain.
Dia merasa semua pengorbanannya, selama ini yang menolak melakukan hubungan suami istri dengan raja Sanggha, menjadi sia-sia.
__ADS_1
Sebaliknya kini dia merasa sangat berdosa terhadap Raja Sanggha yang sangat mencintainya.
Hingga apapun permintaannya, raja itu tidak pernah menolaknya.
Termasuk permintaan anehnya, yang tidak mengijinkan raja Sanggha melakukan hubungan dengannya, sebelum dia benar-benar jatuh cinta dengan raja tersebut.
Bahkan tanpa banyak berpikir raja Sanggha langsung meluluskan permintaan nya.
Padahal semua itu adalah triknya, agar bisa menjaga kesuciannya buat Agoda bila dia suatu hari bisa berkumpul kembali dengan Agoda.
Tapi semua trik itu sekarang sia-sia, yang tersisa kini adalah kesepian dan rasa bersalah terhadap Raja Sanggha.
Mimi merasa dia kini menjadi wanita terbodoh di dunia, biarlah mungkin ini yang namanya karma.
Aku akan menjalani kesepian ku ini hingga maut datang menjemput, anggap saja sebagai penebus dosa.
Sementara itu menjelang pagi Wu Song sudah tiba di kota Ping Yuan, Wu Song langsung pergi menemui Jendral Wu.
"Jendral Wu segera persiapkan seluruh pasukan mu, hari ini juga kita akan menempuh perjalanan secepatnya kembali ke Luo Yang."
"Jalan tercepat adalah melalui jalur sungai kuning, yang akan membawa kita langsung menuju dermaga Meng Jin."
Dermaga Meng Jin adalah dermaga yang terletak persis di ibu kota Luo Yang.
Jendral Wu dan beberapa orang jendral bawahan nya mengangguk kemudian mereka bergegas bergerak bersiap-siap meninggalkan Ping Yuan melalui jalur sungai kuning.
Raja Sanggha dan Panglima Burhan terlihat di giring menuju dermaga Gao Tang, sepanjang jalan melewati jalan utama kota Ping Yuan.
Raja Sanggha dan Panglima Burhan, yang duduk dalam kerangkeng kayu dengan kaki dan tangan terborgol.
Mereka berdua habis menjadi sasaran kemarahan rakyat Ping Yuan yang melempari mereka dengan sayuran dan telur busuk.
Panglima Burhan terlihat marah tapi tidak berdaya, sebaliknya Raja Sanggha terlihat lebih tenang, dia menanggapi semuanya dengan tersenyum pasrah.
Ketika Jendral Wu sedang sibuk mengatur anak buahnya di dermaga Gao Tang, seorang pemuda tampan yang diikuti oleh seorang gadis cantik yang wajahnya terlihat seperti orang asing.
Mereka berjalan menghampiri jendral Wu, lebih tepatnya pemuda itulah yang menghampiri Jendral Wu, sedangkan gadis itu hanya mengikutinya dari belakang.
"Maaf tuan Jendral, bolehkah anda memberitahu saya di mana Kakak ipar ku Wu Song ?"
Mendengar pertanyaan pemuda itu, Jendral Wu yang sedang sibuk segera menghentikan kesibukannya.
Dia cepat-cepat menoleh menatap pemuda bertubuh tinggi besar yang berdiri di hadapannya.
Bahkan untuk melihat wajah pemuda yang sangat tampan itu Jendral Wu sampai harus mengangkat kepalanya keatas.
__ADS_1
"Anda ini...anda adalah Dewa Sadis yang pernah menggemparkan kota..Chen Liu beberapa waktu yang lalu ?"
tanya Jendral Wu gugup, karena orang yang mampu menghabisi 300.000 Pasukan Rajawali Merah.
Bukan orang yang boleh di buat main-main, saking paniknya Jendral Wu bukannya menjawab malah bertanya.
"Haaa...!!"
"Awas aku akan memakan mu...!"
ucap Lu Fan pura-pura mendekatkan kepalanya ke Jendral Wu.
"Ahhh..!"
Jendral Wu langsung meloncat mundur dengan tubuh menggigil ketakutan, wajah nya sedikit pucat.
Dia bukan seorang penakut, bila penakut dia tidak mungkin bisa menjadi Jendral senior.
Tapi kisah tentang Lu Fan di Chen Liu lah yang terlalu luar biasa.
Saling bunuh di Medan tempur adalah hal biasa, tapi memenggal kepala orang dan menyiksa orang buat di jadikan lelucon itu yang luar biasa.
Yang benar-benar diluar perkiraan Jendral Wu, Dewa Sadis itu ternyata masih sangat muda dan sangat tampan.
Bila dia tidak mengaku sendiri namanya, dia datang menghadap Jendral Wu ingin menjadi cucu mantunya, tanpa pikir panjang Jendral Wu pasti akan menerimanya.
Melihat Jendral Wu yang mundur ketakutan, Lu Fan yang jahil semakin ingin mengerjainya.
Dia tiba-tiba menghilang dari tempatnya berdiri, muncul di samping Jendral Wu sambil memegang bahunya dan berkata,
"Bagaimana kamu mau di potong telinga atau di congkel matanya ?"
Jendral Wu berdiri terkejut, mendengar bisikan suara Lu Fan yang dingin.
Dia sampai tidak bisa menoleh dan bergerak, seluruh tubuhnya menggigil hebat terutama sepasang lututnya.
"Fan er mulai ya..! awas nanti ku beritahukan ke ibu Siau Ching dan Lin Lin ya ?"
terdengar suara halus dan lembut dari arah atas kapal yang berada di belakang Lu Fan.
Lu Fan terkejut dia segera memegang kedua daun telinganya dan berkata,
"Jangan...jangan...kak Wu Song, aku cuma bercanda tidak ada maksud lain, maaf maafkan aku Jendral Wu.."
ucap Lu Fan sambil mencium tangan Jendral Wu meminta maaf.
__ADS_1