LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM

LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM
BERKELILING ISTANA,


__ADS_3

"Bagaimana kamu tahu barang ini anugrah dari dewa matahari ?"


ucap Karna dengan heran sambil menatap Wu Song.


"Aku tentu saja tahu karena ditempat ku sana guru Lu Sun sang legenda Jendral Naga Hitam juga memiliki nya."


ucap Wu Song sambil tersenyum menatap sahabatnya.


Karna menatap Wu Song dengan kagum dan berkata,


"Ternyata guru mu juga seorang jendral hebat, pantas kamu sepertinya tidak asing dengan berbagai macam peperangan."


Wu Song kemudian mengeluarkan dua botol arak Hang Zhou dari dalam cincin dan melempar sebotol kearah temannya dan berkata,


"Cobalah teman ku...ini minuman asal negeri ku, kalau suka sekali waktu datanglah ke negri ku bila ada waktu."


"Lewati pegunungan Himalaya di sana kamu akan sampai." ucap Wu Song sambil menunjuk ke deretan pegunungan yang tinggi dan panjang.


"Kalau ada waktu dan memiliki umur panjang, aku pasti akan berkunjung ke negri mu,


ucap karna sambil tersenyum.


Dan menyambut botol tersebut lalu membuka penutupnya Kemudian menciumnya dan berkata,


"Sungguh wangi sekali..."


Kemudian dia langsung meminumnya dan terus meminumnya dan mengacungkan jempol kearah Wu Song.


Setelah menghentikan minumnya dan mengelap mulutnya yang basah dia baru berkata,


"Terimakasih teman atas arak dan nasehat nya, tapi mengenai bila ada yang meminta perisai dan anting emas ku."


"Aku tetap tidak bisa menolaknya teman, meski aku tahu maksud dan tujuannya."


"Karena itu sudah sumpah ku, untuk memberikan apapun harta ku untuk orang yang tak mampu dan kesusahan."


"Sumpah seorang ksatria sampai matipun tidak bisa ditarik kembali lagi."


"Ini menyangkut prinsip dan ajaran guru ku parasurama."


Wu Song menghela nafas panjang menatap temannya, ada rasa kagum salut bangga tapi juga ada rasa sedih dan kasihan melihatnya.


Semua perasaan yang bercampur aduk itu, membuat Wu Song tidak sanggup berkata-kata.


Semua hanya muncul lewat tatapan matanya saja.

__ADS_1


Karna yang melihat ekspresi Wu Song menepuk pundak Wu Song sambil tertawa lepas menepuk pundak Wu Song dan berkata,


"Jangan bersedih begitu teman, seperti aku sudah akan pergi saja."


"Aku tidak akan semudah itu pergi teman,


tapi bila waktunya tiba aku juga tidak akan pernah menyesalinya."


"Aku akan terus berjuang melawan takdir ku, hingga hari itu datang, maka aku bisa pergi dengan hati puas tanpa menyesal."


ucap karna sambil berdiri dan tersenyum penuh kegagahan.


Lalu dia menegak arak pemberian Wu Song sampai habis dan membanting botolnya sampai hancur berantakan dan berkata,


"Senang mengenal mu teman, ada perjumpaan tentu ada perpisahan, sekarang lah waktunya kita berpisah."


Lalu sambil tertawa keras karna melompat keatas kereta perangnya, lalu dia menjalankan nya meninggalkan bukit di mana Wu Song masih duduk termenung.


Sesaat kemudian bayangan punggung nya perlahan-lahan menghilang dari pandangan Wu Song.


Seiring dengan itu matahari pun terbit dari arah kepergian karna.


Seakan-akan dewa Surya muncul menyambut kedatangan Pemuda yang sejak lahir selalu di penuhi kemalangan.


Wu Song akhirnya ikut berdiri dan menepuk-nepuk pantatnya membersihkan kotoran yang nempel.


Wu Song langsung mengenalinya itu adalah Lu Ping istrinya dan putri Utari, Wu Song pun mendarat di depan mereka berdua.


Dan bertanya,


"Kenapa kalian berdua ada di sini ? sejak kapan kalian ada di sini ?"


Karena Wu Song bertanya dalam bahasa Han maka Utari cuma tersenyum saja karena dia tidak mengerti.


Lu Ping lah yang menjawab,


"Sejak hari pertama kamu pergi, dia langsung datang mencari mu, aku bilang aku kurang tahu suruh dia tanya kakaknya."


"Tapi begitu dia pergi tanya kakaknya, tak lama kemudian dia kembali berlarian datang ketempat ku lagi."


"Dan terus merengek mengajakku kemari, karena gak tahan aku pun ikut dia duduk di sini selama 2 hari satu malam."


ucap Lu Ping sewot.


Sebaliknya Utari yang tidak mengerti hanya terus tersenyum lebar.

__ADS_1


Wu Song yang paham Lu Ping dan Utari kesulitan komunikasi, dia mengerti kenapa Lu Ping jadi sewot.


Wu Song kemudian berbisik pada Lu Ping,


"ayo kita pulang, tapi kamu saja yang pegang dia."


Lalu Wu Song pun merangkul pinggang Lu Ping sedangkan Lu Ping memegang tangan Utari lalu mereka bertiga pun terbang kembali ke istana.


Utari sedikit kecewa karena Wu Song cuma memeluk Lu Ping saja.


Tapi dia tidak berani menunjukkan nya, hanya menyembunyikan nya dalam hati saja.


Tidak butuh waktu lama Wu Song dan kedua wanita itu sudah tiba di taman depan kamar Lu Ping.


Wu Song dengan hati-hati menuntun Lu Ping yang perutnya mulai makin besar masuk ke kamarnya.


Tak lama kemudian Wu Song baru keluar dari dalam kamar dan berkata kepada Utari yang dengan setia duduk menunggu di taman depan kamar.


"Ayo kita jalan-jalan keliling seluruh istana mu, aku belum pernah mengelilingi seluruh istana ini, kamu mau kan menemani ku ?"


Putri Utari langsung mengangguk cepat dan tersenyum gembira, dia langsung menggandeng tangan Wu Song mengajak Wu Song berkeliling istana.


Tempat yang paling dekat dengan kediaman Wu Song adalah dapur istana, Wu Song di ajak berjalan-jalan melihat dapur istana yang luas secara keseluruhan.


Wu Song setiap hari memang ke dapur masak buat Lu Ping dan Utari, tapi dia hanya berada di tempat sebagian kecilnya saja.


Yaitu bagian tempat masak saja, tapi kali ini berbeda, bersama putri Utari dia di ajak melihat bagian persiapan bahan, bagian penyimpanan bahan sampai bagian pengadaan bahan semua dia kelilingi.


Bila dia sedang masak dapur selalu sepi, hanya ada satu asisten yang di sediakan ratu untuk menemani dan membantunya mencari bahan masakan yang Wu Song perlukan saja.


Kini suasana tentu beda semua bagian terlihat lengkap orang nya, semua terlihat sangat sibuk.


Ada satu orang yang membuat Wu Song menatap nya dengan curiga, orang itu tahu Wu Song sedang menatap dirinya, tapi dia pura-pura tidak tahu.


Dan terus memotong sayuran, menimba dan membawa air untuk mengisi tong air di dapur.


Tubuhnya tinggi besar bahkan lebih besar dari Lu Fan, dia adalah orang dengan tubuh terbesar di seluruh bagian dapur ini.


Sehingga sangat mudah di kenali, Wu Song kemudian berbisik pada Utari,


"Panggil orang berbadan besar itu kemari."


Utari pun maju dan melambaikan tangannya kearah orang bertubuh tinggi besar itu dan berteriak,


"Hei kamu kemarilah, cepat kesini...!!"

__ADS_1


Orang tinggi besar itu celingak-celinguk melihat kiri kanannya.


.


__ADS_2