LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM

LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM
RELA MENUNGGU SEUMUR HIDUP,


__ADS_3

Wu Song masuk kedalam kamar bertepatan dengan pelayanan itu sedang mengambil Bubur dan menumpukan segala macam sayur kedalam satu mangkok.


Wu Song menatap marah kearah pelayan itu sambil bertanya,


"Itu kamu mau berikan kepada siapa..?!"


Dengan sedikit takut pelayan itu menjawab,


"Ini untuk nyonya tuan, nyonya merasa lapar jadi meminta ku mengambilkan makanan untuknya."


Wu Song sangat emosi aura panas dan dingin mulai terpancar dari tubuhnya tanpa terkendali.


Tapi Wu Song cepat sadar dia menekan emosinya agar aura yang terpancar dapat ditarik kembali sehingga tidak sampai membahayakan Ceng Ceng dan Cin Hai.


Wu Song mulai sedikit tenang kemudian berkata,


"Makanan yang kamu ambil bawa pergi berikan pada babi dihalaman belakang."


Pelayan itu ketakutan dan mengangguk-anggukkan kepalanya lalu cepat-cepat berlalu sambil membawa makanan di mangkuk itu meninggalkan kamar.


Wu Song mengibaskan tangannya, meja terbang ke dekat tempat tidur istrinya, tapi semua makanan bahkan sup tidak ada yang terlihat tumpah sedikitpun.


Kemudian dia mengambil Bubur dan lauk secara bergantian menyuapi Ceng Ceng.


Ceng Ceng hanya diam terpaku melihat suaminya dengan heran.


Karena selama mereka menikah dia baru 2 kali melihat Wu Song emosi.


Pertama adalah saat dia direbut paksa oleh pangeran Si Ma Ong dari sisi Wu Song.


Kedua adalah saat barusan ini.


Ceng Ceng dengan lembut menyentuh tangan Wu Song yang sedang memegang mangkuk.


"Song ke ke kenapa kamu bisa se emosi itu sama pelayan tadi..?"


Wu Song menghela nafas menenangkan diri baru menjawab,


"Orang lain menghina dan melecehkan diriku aku tidak masalah dan akan menelan semuanya dengan sabar."


"Tapi siapa pun berani bersikap tidak sopan pada mu aku pasti tidak akan membiarkannya lolos begitu saja."


Ceng Ceng tersenyum kemudian berkata,


"Pelayan tadi tidak salah sayang, aku harap kamu tidak mengambil hati hal kecil itu."


Wu Song hanya bisa mengangguk dan menjawab,


"Baiklah.."


Sambil tersenyum sabar Ceng Ceng menjelaskan pada Wu Song,


"Song ke ke aku yang salah, tidak bisa menahan diri karena mencium bau masakan mu yang sangat Wangi."


"Jadi aku meminta tolong kepadanya mengambilkan makanan untukku.


Sehingga terjadi kesalahpahaman yang membuatmu kesal."

__ADS_1


Wu Song menatap Ceng Ceng sambil menghela nafas,


"Sayang kamu adalah wanita yang paling baik hatinya, selalu memikirkan perasaan orang lain."


"Sehingga kamu sering mengorbankan perasaan mu sendiri demi orang lain."


Wu Song kemudian tersenyum lembut mencium dahi Istrinya sambil berkata,


"Aku yang salah harusnya aku bangun lebih pagi dari menyiapkan semuanya untukmu. Sehingga tidak terjadi kejadian konyol seperti tadi."


Ceng Ceng menggenggam tangan Wu Song dengar terharu,


"Song ke ke kamu sangat baik terhadapku, aku merasa sangat bahagia saat ini."


Wu Song tersenyum kemudian berkata,


"Kamu adalah istriku tentu aku akan selalu baik padamu, ayo makanlah nanti makanannya dingin tidak enak lagi."


Wu Song melanjutkan menyuapi Ceng Ceng, sampai Ceng Ceng mengatakan dia sudah kenyang baru Wu Song menghentikan nya.


"Song ke ke kamu juga harus makan jangan hanya selalu fokus pada diriku saja, sedangkan diri sendiri tak terurus."


Wu Song mengangguk kemudian dia pun ikut makan. Selesai makan dia membereskan semua mangkok piring menggunakan nampan lalu membawanya langsung ke dapur.


Ketika ingin kembali ke kamarnya Wu Song bertemu Lu Ping.


Kemudian Wu Song mengajak Lu Ping untuk berbicara di taman.


Lu Ping memulai pembicaraan,


Wu Song menatap Lu Ping sambil berkata,


"Dia berada dalam kondisi baik-baik saja, besok atau lusa sudah bisa keluar dari kamarnya."


Wu Song terlihat termenung kemudian perlahan-lahan dia berkata,


Ping Er maafkan aku yang pergi tanpa pamit, ini semua salahku,. maaf...


Wu Song tidak sanggup menghadapi tatapan penuh perasaan dari Lu Ping.


Dia cepat-cepat memutar badannya dan hendak pergi.


Tapi tangannya tertahan oleh Lu Ping dan Lu Ping pun berkata,


"Song Ke ke tahukah kamu, aku sangat berharap bahwa yang sakit itu adalah diriku."


"Aku akan merasa puas meski hanya bisa hidup 1 Minggu asal mendapatkan perhatian mu."


Wu Song menengadah menahan perasaan nya perlahan-lahan berkata,


"Ping Er lupakanlah aku, jangan membuang waktu mu untuk pria seperti aku."


Lu Ping wajahnya mulai berlinang airmata, dengan suara gemetar dia berkata,


"Aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri, aku mencintaimu. Bahkan bila bisa menukar nyawaku dengan sedikit perhatian dari mu aku rela."


"Bagiku kamu adalah segalanya, selamanya tidak ada yang dapat menggantikan nya."

__ADS_1


"Aku tidak akan menyulitkan posisi mu, Song ke ke tenang saja."


"Jaga lah dan cintai Ceng Ceng dengan baik, aku berharap aku akan menanti mu seumur hidupku."


"Mungkin itu cuma harapan dan angan-angan ku saja."


"Tapi aku akan selalu berdoa agar hal itu bisa menjadi kenyataan."


"Jagalah dirimu..."


Setelah berkata, Ceng Ceng langsung berkelebat pergi meninggalkan Wu Song yang terpaku berdiri seorang diri.


Hatinya terasa sakit ada perasaan tidak rela dan tidak berdaya yang menyesakkan dada.


Di mulutnya hanya bisa bergumam,


"Maafkan aku.... Maafkan aku... maafkan aku.."


Wu Song merasa separuh nyawanya telah dibawa pergi seiring berlalunya Lu Ping yang membawa kesedihan dan penyesalan yang begitu mendalam.


"Wu Song tidak bodoh dia sangat tahu maksud ucapan Lu Ping itu."


Dia tahu Lu Ping memilih mengalah mengorbankan perasaan nya sendiri, demi kebahagian dirinya dan Ceng Ceng.


Semakin lama Lu Ping harus menunggu Wu Song berarti semakin panjang umur Ceng Ceng.


Setelah menghela nafas panjang Wu Song menenangkan perasaan nya dia tidak ingin Ceng Ceng mengetahui kondisi perasaan nya saat ini.


Yang akan mengganggu kesehatan Ceng Ceng karena terlalu banyak beban pikiran.


Sambil tersenyum Wu Song membuka pintu kamar kemudian masuk melihat Ceng Ceng yang sedang bercanda dengan Cin Hai.


Meski belum bisa melihat karena baru lahir, tapi Cin Hai dapat merasakan kasih sayang ibunya yang sedang bercanda dengannya.


Sehingga anak itu tertawa cekikikan, sangat menggemaskan dan lucu.


Wu Song ikut duduk disamping Ceng Ceng, melihat kebahagian ibu dan anak itu, perasaan Wu Song yang sedang galau sedikit terobati.


Sesaat kemudian Bibi Hua datang mengetuk pintu, setelah masuk dia memberitahu Wu Song dan Ceng Ceng sekarang waktunya menyusui dan tidur bagi Cin Hai.


Dengan sedikit tidak rela Ceng Ceng melepas Cin Hai untuk dibawa pergi bibi Hua.


Setelah Cin Hai dan bibi Hua pergi, Wu Song mengunci pintu.


Kemudian dia memeriksa kondisi Ceng Ceng.


Setelah itu dengan hati-hati Wu Song Memindahkan Ceng Ceng untuk berbaring dikursi santai.


Setelah mengganti sprei dan selimut yang terkena noda darah, Wu Song baru perlahan-lahan memindahkan Ceng Ceng kembali ke kasur.


Ketika Wu Song ingin kembali ke kursi santainya, Ceng Ceng tiba-tiba memegang tangan Wu Song menahannya, sambil menatap Wu Song dengan mesra dan penuh permohonan,


"Song ke ke kamu mau kan temani aku tidur sambil memeluk ku."


Wu Song ragu sejenak tapi dia akhirnya naik keranjang merangkul mesra Ceng Ceng.


Membiarkan Ceng Ceng tidur dalam dekapan nya.

__ADS_1


__ADS_2