LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM

LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM
WU SONG MENJALANKAN PESAN CENG CENG YANG KE DUA,


__ADS_3

Wu Song berlutut didepan makam Ceng Ceng sudah 7 hari tanpa makan dan minum kini tubuhnya kurus tinggal kulit membalut tulang.


Lu Ping sudah berulang kali membujuk dan menasehatinya bahkan Si Ma Jian juga ikut menasehatinya.


Tapi Wu Song tetap pada posisi nya dan tetap memejamkan matanya.


Pada malam hari ke 7 Wu Song merasa ada yang sedang menangis sedih berdiri dihadapannya.


Wu Song sangat familiar dengan suara dan wangi itu, itu adalah suara Ceng Ceng dan wangi itu Wu Song tidak pernah bisa melupakan nya.


Perlahan-lahan Wu Song membuka matanya, dia melihat Ceng Ceng sedang menangis sedih memunggunginya.


Wu Song berdiri dan ingin mendekati nya.


Terdengar suara yang sangat familiar itu berkata,


"Jangan mendekat, mengapa kamu begitu bodoh..? apa kamu harus membunuh diri mu baru puas..? perbuatan mu ini membuatku tidak bisa tenang untuk pergi.."


"Jangan keras kepala lagi, kamu sudah berjanji padaku, kalau kamu terus begini kamu akan kehilangan semuanya sadarlah Song ke ke.."


"Relakan kepergian ku, jaga dirimu baik-baik.


Jangan membuat aku tidak tenang dan harus terus mengkhawatirkan mu."


"Ping Cie Cie gadis yang baik jangan menyia-nyiakan cintanya padamu."


"Wu Song ingin bersuara tapi tidak bisa."


"Perlahan-lahan sosok itu menghilang dari hadapannya."


Wu Song kemudian tersadar perlahan-lahan dia membuka matanya, ternyata Ceng Ceng mendatangi nya dalam mimpi pikir Wu Song.


Sesaat kemudian Wu Song mendengar suara,


"Blukkk!"


Wu Song cepat menoleh ke asal suara itu, Wu Song tidak melihat ada apa-apa dibelakangnya.


Dengan curiga Wu Song berdiri dari berlutut nya. Wu Song mencoba melihat kebalik batu gunung yang menghalangi pandangannya.


Wu Song sangat terkejut melihat Lu Ping terbaring pingsan disana dengan tubuh kurus dan pucat.


Wu Song cepat-cepat mengalirkan tenaga dalam dan menotok beberapa jalan darah dan mengurutnya, akhirnya Lu Ping sadar.


Wu Song baru dapat bernafas lega, melihat nya sadar.


Wu Song bertanya dengan khawatir "mengapa kamu bisa pingsan disini? kamu kenapa sangat pucat dan kurus?"


Lu Ping mencoba bangun duduk tapi kepalanya sangat pusing.


Sehingga dia hanya bisa bersender dalam pelukan Wu Song.

__ADS_1


Lu Ping menatap Wu Song kemudian berkata,


"Kamu terus berlutut tidak mau makan dan minum aku sangat khawatir, juga tidak berhasil membujuk mu."


"Jadi aku memutuskan berlutut disini menemanimu."


"Mengapa kamu begitu bodoh..? tanya Wu Song sambil menatap Lu Ping.


"Aku sudah berjanji pada Ceng Ceng untuk menjagamu, mencintaimu, menyayangi mu dan menemani mu selamanya."


"Bila kamu ingin berlutut dan bunuh diri didepan makam Ceng Ceng tanpa makan dan minum."


"Maka akupun hanya bisa menemanimu untuk mati disini." ucap Lu Ping penuh emosi.


Wu Song menghela nafas panjang, dia sadar Lu Ping seperti sekarang ini karena sikapnya yang keras kepala.


Wu Song merasa menyesal dan bersalah pada Lu Ping, tanpa banyak kata-kata lagi Wu Song menggendong Lu Ping ke dapur.


Membuat beberapa masakan sederhana dan mengajak Lu Ping makan bersama nya.


Tanpa banyak kata-kata mereka berdua makan dalam diam.


Setelah selesai makan, Wu Song menatap Lu Ping dengan perasaan bersalah kemudian dia berkata,


"Maafkan aku Ping er, sikap ku yang bodoh dan keras kepala telah membuat mu ikut menderita."


Lu Ping menyentuh tangan Wu Song sambil berkata,


"Tidak apa-apa, yang penting saat ini kamu sudah sadar.


Wu Song membalas pegangan tangan Lu Ping sambil berkata,


"Ping Er kedepan nya aku berjanji tidak akan pernah melakukan hal bodoh tanpa mempertimbangkan perasaan mu."


Lu Ping tersenyum manis kemudian berkata,


"Ayo kita pergi menemui Kakek mertua mu dia bilang ada hal penting yang ingin dia bicarakan dengan mu."


"Tapi karena saat itu kamu sedang bersedih dan berkabung, dia tidak mengganggu mu, dia hanya berpesan kepada ku bila kamu sudah sadar tolong bawa kamu menemuinya."


Wu Song masih terpesona oleh senyum Lu Ping barusan, dia seperti orang linglung hanya berjalan mengikuti tarikan tangan Lu Ping.


Lu Ping menyadari sikap konyol Wu Song, tapi dia sangat senang hatinya berbunga-bunga.


Si Ma Jian sedang duduk santai sambil menyeduh teh, ketika Wu Song dan Lu Ping datang menemuinya.


Tentu didepan Si Ma Jian, Lu Ping tidak berani


memegang tangan Wu Song seperti tadi.


Sambil tersenyum lembut Si Ma Jian berkata,

__ADS_1


Song Er, Ping Er silahkan duduk.


"Song Er syukurlah Akhirnya kamu sadar dan tidak terus menerus larut dalam kesedihan."


"Kondisi mu kemaren sungguh membuatku khawatir tapi tidak berdaya."


Wu Song tertunduk dan menyadari kesalahannya yang telah membuat semua orang khawatir.


"Maafkan saya kek.."


Si Ma Jian tersenyum penuh pengertian sambil menyeduh teh dia memberi nasehat pada Wu Song,


"Tidak apa-apa yang lalu biarlah berlalu, kamu harus menyongsong masa depan mu sebaik-baiknya, jangan selalu terikat dan larut dalam kesedihan masa lalu."


Si Ma Jian kemudian menyajikan teh buat Wu Song, Lu Ping dan untuk dirinya sendiri.


Wu Song dan Lu Ping menghirup aroma wangi teh didalam gelas mereka, kemudian baru menikmati teh itu perlahan-lahan.


Setelah meminum teh tersebut, Wu Song dan Lu Ping merasa tubuh mereka lebih segar dan pikiran mereka lebih tenang.


Mereka berdua memuji teh seduhan Si Ma Jian sangat enak.


Si Ma Jian tertawa, kemudian berkata,


Aku sudah tua, tidak banyak kegiatan, kerja nya cuma menyeduh teh ini lama-lama jadi ahli.


Si Ma Jian kini menatap Wu Song dengan serius kemudian berkata,


"Song Er aku tidak akan bicara panjang lebar, aku sudah tua, dan hanya punya seorang putra dan putra ku hanya memiliki anak Ceng Ceng seorang."


"Kini Ceng Ceng telah tiada, harapan kami untuk menyambung garis keturunan keluarga ini kini terletak pada Cin Hai."


"Aku tahu permintaan ku ini sedikit kelewatan bagaimana pun kamu adalah ayah kandung Cin Hai, tapi aku...ucapan Si Ma Jian langsung dipotong Wu Song.


Wu Song memberi kode kepada Si Ma Jian untuk tidak melanjutkan kata-katanya.


Si Ma Jian sedikit khawatir melihat sikap Wu Song.


Wu Song tersenyum sedih kemudian berkata,


Kakek jangan khawatir, Ceng Ceng sudah berpesan setelah dia pergi nanti....


Sampai di sini Wu Song berhenti berkata dia menengadah keatas, berusaha menenangkan perasaannya yang kembali sedih karena diingatkan Ceng Ceng telah tiada.


Airmata kembali bercucuran membasahi pipinya, suaranya tercekat di tenggorokan.


Lu Ping menyentuh tangan Wu Song seakan-akan ingin memberi nya kekuatan untuk menenangkan perasaan nya.


Wu Song menatap Lu Ping dia tersenyum sedih, kemudian dia kembali menatap Si Ma Jian lalu melanjutkan perkataannya yang terhenti barusan.


Wu Song menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan kata-katanya,

__ADS_1


"Ceng Ceng berpesan agar Cin Hai diserahkan kepada Kakek dan Bibi Hua untuk merawatnya hingga dewasa."


"Dan aku akan mendukung semua keputusan Ceng Ceng dengan sepenuh hati."


__ADS_2