LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM

LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM
MENGUNJUNGI KAMP PELATIHAN MILITER


__ADS_3

Thian San seperti akan mengatakan sesuatu, tapi si Topeng Besi memotongnya dengan memberikan sebatang permen berbentuk kupu-kupu, yang dia keluarkan dari cincin penyimpanan nya.


Lalu dia memakai kembali topengnya,.dan menggendong Thian San yang sedang asyik menikmati permen pemberian nya, kembali ke tempat Panglima Sie dan Yi Yi berada.


Yi Yi dan Jendral Sie sangat terkejut, melihat begitu mudahnya, si Topeng Besi mendapatkan simpati Thian San yang terkenal rewel.


Bahkan ibu nya pun kesulitan mengaturnya, selain Nenek Yang tidak ada yang sanggup menundukkan sikap keras kepala anak ini.


Kini hanya dengan beberapa kata dan sebatang permen, anak itu langsung akrab dan bersedia berdekatan dengan si Topeng Besi,


Ini benar-benar membuat Yi Yi dan ayahnya tak habis pikir.


Yi Yi tidak bisa menutupi kekagumannya terhadap si Topeng Besi, dari sinar mata Yi Yi terlihat dia sangat kagum dan berterimakasih dengan Si Topeng Besi.


Keheranan mereka semakin menjadi-jadi, saat beberapa jendral bawahan panglima Sie telah datang, dan jamuan makan sudah di mulai.


Si Topeng Besi dengan santai memangku Thian San menyuapinya makan seperti sedang merawat adik ataupun anak sendiri.


Si Topeng Besi terlihat santai, tidak terlalu memperdulikan obrolan panglima Sie dan para bawahannya tentang situasi saat ini.


Dia terlihat lebih fokus menyukai makan Thian San, mengobrol dan bercanda dengan nya.


Bahkan Thian San menceritakan semua kesedihannya atas kepergian Nenek Yang kepada si Topeng Besi.


Yi Yi diam-diam sambil makan sering menatap si topeng besi dengan perasaan haru dan berterimakasih.


Selesai acara makan, baru di lanjutkan dengan diskusi strategi, yang akan di ambil dalam rangka menahlukkan beberapa kota yang ditugaskan kaisar kepada mereka.


Saat diskusi berlangsung si Topeng Besi tetap menggendong Thian San, Thian San yang di ajak ikut hadir di ruang kerja kakeknya, yang ada peta miniatur seluruh wilayah Jin.


Dia sangat senang, selama ini dia sangat ingin masuk bermain di ruangan ini, di mana miniatur itu terlihat seperti mainan baginya.


Di miniatur itu ada gunung sungai pohon sampai prajurit orang-orangan kuda benteng dan lainnya.


Semua itu sangat menarik perhatiannya, tapi dia selalu di larang keras oleh ibu dan kakeknya masuk kemari.


Kini berkat si Topeng Besi, dia bebas melihat-lihat, tapi sewaktu dia mau menyentuhnya, dia mendapat teguran dari kakeknya.


Hal ini membuatnya sedikit takut dan kembali ke dalam pelukan dan gendongan Si Topeng Besi.


Si Topeng Besi dengan cuek mengambil sebuah patung prajurit berkuda dan seorang prajurit pemanah, lalu dia berikan kepada Thian San, yang menyambutnya dengan kegirangan.


Beberapa Jendral menatap nya dengan tidak senang, tapi dia tidak perduli, dan berkata,

__ADS_1


"Panglima Sie maaf, bila kehadiran ku menganggu diskusi kalian, biar aku dan San er menunggu hasil diskusi kalian di taman saja."


Lalu dia membalikkan badannya hendak berjalan meninggalkan ruangan tersebut.


"Kakak Pendekar tunggu..!


ucap Yi Yi sedikit tidak enak hati, dia mendapat kode dari ayahnya agar membujuk si Topeng Besi tidak pergi.


Si Topeng Besi menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya menatap Yi Yi dan berkata,


"Yi Yi ada apa ?"


"Ku harap kakak Pendekar tetap tinggal di sini melanjutkan diskusi, anak ku San er yang nakal


Biar aku membawanya pergi dari sini."


ucap Yi Yi maju ingin mengendong Thian San.


Tapi anak itu malah merangkul erat-erat si Topeng Besi dan berkata,


"Ibu aku tidak mau, aku mau bersama kakak tampan."


Yi Yi mempelototi anaknya dan berkata,


"San er jangan nakal dengarkan ibu...!"


Si Topeng Besi membelai kepala Thian San dan berkata,


"Maaf Yi Yi dia sudah memilihku, San er juga tidak nakal."


"Aku hanya akan ada di sini, bila San er juga di sini, bila kamu memaksa membawanya pergi, aku hanya bisa ikut dengan mu pergi."


Akhirnya Panglima Sie terpaksa angkat bicara, yang paling penting dalam diskusi ini adalah Si Topeng Besi.


Bila membuatnya tersinggung dan pergi maka semua urusan akan kacau.


Demi hal besar, Panglima Sie terpaksa mengabaikan hal kecil.


"Sudahlah Yi Yi kamu dan San er tetap di sini saja tidak masalah, ayo kita lanjutkan diskusi kita."


Thian San yang cerdik sangat senang, melihat Topeng Besi berhasil membelanya, di dalam hati dia menertawakan kakeknya yang selalu keras dan disiplin, kini tidak berdaya dengan teman barunya.


Si Topeng Besi sambil tersenyum kearah Yi Yi dan berkata,

__ADS_1


"Maaf Yi Yi bukan maksudku berbantah dengan mu."


Yi Yi tersenyum lembut dan mengangguk mengerti, dia mana mungkin menyalahkan Si Topeng Besi yang terlihat sangat menyayangi anaknya.


Dia malah sangat senang mereka berdua terlihat akrab dan akur.


Sehingga Thian San tidak kesepian dan terus bersedih akan kepergian Nenek Yang.


Begitu diskusi di lanjutkan, Panglima Sie kini dan beberapa Jendral nya menatap kearah Si Topeng Besi menanyakan pendapat nya.


Si Topeng Besi tidak memberikan usul dan saran atas diskusi cara penyerangan mereka.


"Panglima Sie bolehkah aku berjalan-jalan ke kamp militer kalian.?"


Panglima Sie mengangguk dan berkata,


"Tentu saja boleh, Jendral Hei Jendral Bai dan Jendral Huang ayo kita berangkat."


"Maaf Panglima Sie, bolehkah aku membawa Yi Yi dan Thian San ikut menyertai ku."


Panglima Sie menghela nafas tak berdaya dan berkata,


"Kalau tuan Pendekar menginginkan nya, silahkan saja."


Thian San bertepuk tangan gembira dan mencium pipi Si Topeng Besi sambil berkata,


"Kakak tampan hebat...kakak tampan hebat .!"


Yi Yi hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Kamu jangan terlalu memanjakan nya, dia nanti semakin nakal."


Si Topeng Besi tersenyum dan berkata,


"Dia masih kecil, tentu ingin di manja, bila sudah besar nanti, kita ingin memanjakan nya pun dia belum tentu mau."


Yi Yi hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya dan berjalan di sisi Si Topeng Besi yang berjalan sambil menggendong Thian San.


Thian San sangat gembira saat di ajak duduk diatas kuda bersama Si Topeng Besi, apalagi Si Topeng Besi Kembali menghadiahinya sebuah permen berbentuk naga.


Thian San semakin senang dia sepanjang perjalanan selalu tertawa dan tersenyum gembira.


Yi Yi yang duduk di atas seekor kuda mengiringi mereka juga ikut merasa sangat bahagia.

__ADS_1


Yi Yi tidak pernah melihat Thian San sebahagia dan segembira saat ini, meski ada Nenek Yang sekalipun Thian San tidak pernah sebahagia ini.


Yi Yi tahu mungkin yang Thian San inginkan adalah kasih sayang seorang ayah, yang tidak pernah bisa Yi Yi berikan kepadanya selama ini.


__ADS_2