LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM

LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM
PEMUDA PENGEMIS,


__ADS_3

Wu Song tidak berani ikut campur, dia hanya duduk di kereta mengamati saja.


Dan menggunakan Indra pendengaran nya yang tajam, mencuri dengar apa yang diperdebatkan oleh kedua belah pihak.


Wu Song mengenal tujuh pendeta itu, karena saat di puncak Hua San mereka pernah bertemu sekali, kemudian saat menolong Bun Houw dan Yi Yi, Wu Song kembali bentrok dengan ke 7 pendeta itu, yang memiliki jurus yang unik dan berbahaya.


Sedangkan pemuda itu, Wu Song tidak pernah bertemu dan mengenalnya.


Tapi dari pakaian yang di kenakan olehnya, Wu Song dapat menebaknya.


Pemuda itu pasti berasal dari partai pengemis (Kay Pang)


Partai ini meski tidak seterkenal Shaolin, Wu Tang,, Thian San, Xu San.


Tapi dia memiliki anggota yang paling banyak dan tersebar di segala penjuru, mereka adalah suatu partai yang tidak bisa di remehkan kekuatannya.


Bahkan pemerintah pun tidak berdaya dan sedikit segan dengan partai ini.


Partai ini juga sering di jadikan patokan kemakmuran suatu dinasti, semakin makmur rakyat di sebuah kerajaan, maka akan semakin kecil partai ini


Tapi bila suatu kerajaan rakyatnya banyak hidup miskin dan sengsara, maka partai ini akan semakin besar bahkan bisa menggulingkan suatu kerajaan.


Bila mereka tidak di urus dengan benar.


"Cepat kembalikan pusaka kami, maka kami akan membiarkan mu pergi dari sini, "


ucap pendeta wanita yang biasa di panggil pendeta Mo sambil menunjuk muka Pemuda itu dengan geram.


Pemuda itu hanya menanggapinya dengan tersenyum nakal dan berkata,


"Nenek tua, bila benda itu pusaka kalian, tentu benda itu ada di kediaman kalian."


"Sedangkan aku mendapatkan benda tersebut bukan di kediaman kalian, bagaimana bisa di bilang itu pusaka kalian."


"Lebih tepatnya benda ini berjodoh dengan ku, makanya bisa bersama ku."


Wu Song menjadi penasaran benda apa yang mereka perebutkan, sehingga keretanya diam di tempat tidak bergerak.


"Sayang apa yang terjadi? kenapa kereta kita berhenti di sini?" tanya Lu Ping sambil menyingkap tirai penutup kereta.


Wu Song tanpa menoleh menjawab,


"di depan ada keramaian, keributan terjadi di depan,


gerbang pintu masuk, sehingga kereta kita tidak bisa lewat.


Lu Ping keluar dari dalam kereta, duduk di sebelah Wu Song dan bertanya,

__ADS_1


"Kenapa tidak lemparkan saja mereka kesamping biar kereta kita bisa lewat.?"


Wu Song menggelengkan kepalanya dan menjawab,


"Sayang mereka orang bukan sampah, tidak bisa sembarangan di lempar."


Lu Ping mencibir dan berkata,


"Lalu buat apa kamu punya ilmu tinggi-tinggi, bila terhadap keributan kecil itu saja kamu tidak bisa atasi.?"


Wu Song memeluk istrinya dan berkata,


"Aku memang dapat mengalahkan mereka, tapi meski yang kuat bisa melakukan apa saja, itu bukan berarti aku bisa berbuat se suka hati."


"Bila aku terus seperti itu, musuh ku akan semakin banyak, mereka suatu hari akan bersatu dan mengeroyok ku."


"Taruhlah aku sanggup mengatasi mereka, bagaimana bila mereka membalaskan dendam lewat kamu dan anak kita."


"Emangnya kamu mau lihat aku dan anak kita celaka, karena terlalu banyak ribut dengan orang"


Lu Ping cepat-cepat menggeleng dan berkata,


Tentu tidak mau.."


Lu Sun tersenyum dan mempererat rangkulannya dan berkata,


Saat menoleh kembali kearah tempat keributan, di sana terlihat pemuda itu menggunakan sebatang tongkat giok hijau.


Menghadapi keroyokan ke 7 pendeta dengan tenang, Pedang terbang berseliweran mengelilinginya.


Tapi dia selalu bisa menghindar dan menangkis, bahkan mementalkan kembali pedang para pendeta yang mengeroyoknya.


Pemuda itu menanggapi serangan ke 7 orang itu sambil tertawa melontarkan ejekan dan hinaan kepada tujuh pendeta Tao itu.


Terutama terhadap kedua pendeta wanita, pemuda itu sengaja melontarkan ejekan dan hinaan yang lebih banyak.


Membuat kedua pendeta wanita itu sangat marah, dan berusaha membunuhnya.


Tapi justru kedua pendeta wanita itu masuk dalam siasatnya, tanpa di sadari kedua pendeta itu.


Karena terlalu bernafsu mereka sampai keluar dari formasi, dan beberapa kali mengacau pergerakan temannya sendiri.


Salah satu pendeta yang biasanya di panggil Tetua Cia berteriak kepada pendeta Mo dan pendeta Lian,


"Kalian berdua tahan diri mundurlah, jaga ketenangan kalian."


Kedua pendeta wanita itu menjadi sadar, mereka menahan serangan dari melompat mundur.

__ADS_1


Tapi jalan mundur mereka kini tertutup oleh tongkat hijau yang beterbangan kesana-kemari, mengancam seluruh tubuh mereka.


Kemudian tengkuk punggung dan pinggul mereka menerima hantaman tongkat, saat tubuh mereka terhuyung-huyung kedepan.


Pengemis muda sambil tersenyum senang, melepaskan sebuah tendangan putar yang sangat cepat sambil berteriak "Naga Sakti mengibaskan ekor.!"


Pipi kedua pendeta wanita itu terkena tendangan yang sangat cepat dan kuat itu, mereka berdua terpental kebelakang menabrak saudara seperguruan mereka.


Sehingga formasi menjadi rusak dan kacau, Pemuda itu melesat cepat kedepan menyambut tongkat giok hijau nya.


Sambil melepaskan sebuah pukulan dan kembali berteriak, "naga terbang di langit,"


18 Tapak Penahluk Naga.


Wu Song dan Lu Ping sangat terkejut melihat Pemuda itu bisa memainkan jurus andalan ayah mereka.


Wu Song dan Lu Ping saling pandang dengan tatapan heran.


Sisa ke 5 pendeta yang kurang siap segera berlompatan menghindari pukulan Tapak pengemis muda yang menimbulkan ledakan dahsyat ditempat mereka tadi berdiri.


Debu batu berhamburan tanah berlubang, melihat mereka berlima berlompatan berhamburan.


Tiba-tiba pemuda itu bayangan nya muncul di segala penjuru memberikan pukulan tongkat yang kini kembali berada dalam genggamannya kearah ke 5 pendeta itu.


Sedangkan kedua pendeta wanita yang tadi terkena tendangan di pipi mereka, selain pipi kiri mereka merah hitam membengkak.


Mereka juga harus kehilangan dua gigi mereka yang tanggal, kekalahan mereka hari ini benar-benar memalukan.


Belum sempat mereka memperbaiki posisi dan kembali kedalam formasi untuk membantu saudara mereka.


Mereka melihat ke 5 saudara mereka kini jatuh tumpang tindih di dekat mereka, masing-masing menerima beberapa pukulan tongkat yang membuat mereka berlima babak belur.


Pemuda itu memberi hormat ke mereka berlima sambil berkata,


"Terimakasih kalian sudah banyak mengalah pada ku, sampai jumpa."


Kemudian dia berlari di udara, melompati tembok kota memasuki kota Xiang Yang.


Melihat keramaian sudah selesai Wu Song memacu kereta nya memasuki kota Xiang. Yang.


"Sayang bagaimana pemuda berpakaian pengemis itu bisa memiliki ilmu ayah, apa dia murid ayah yang baru?" tanya Lu Ping heran.


Wu Song menggeleng dan berkata,


"Tidak mungkin, pemuda itu memiliki jurus tongkat yang sangat lihai, sedangkan tapak 18 Penahluk Naga, miliknya meski mirip tapi berbeda."


"Sepertinya punya dia lebih sederhana tapi sangat efektif, setiap pergerakan nya selalu punya daya serang mematikan."

__ADS_1


"Sangat berbeda dengan milik ayah yang terlalu banyak variasi gerakan sehingga kurang efektif."


__ADS_2