
Pria tersebut terlihat berumur 25 tahunan padahal usia aslinya telah mencapai hampir memasuki kepala 5.
Pria tersebut wajahnya sangat tampan dan gagah berwibawa, tubuhnya juga tinggi besar.
Tapi dia cuma ada satu tangan kiri saja.
Sedangkan tangan kanannya dibiarkan menggantung begitu saja lengan bajunya.
Sedangkan ke dua wanita yang duduk di sampingnya sangat cantik dan terlihat masih berumur 20 tahunan, padahal usia asli mereka berdua tidak berbeda jauh dengan pria yang duduk di apit oleh mereka berdua.
Kedua wanita tersebut dengan terkejut berdiri dari kursi mereka dan berlari kearah Lu Ping, di susul oleh pria tersebut yang berjalan tenang dengan wajah tersenyum bahagia.
"Ping er...! Ping er...! Ping er...! kamu kah itu,?"
ucap kedua wanita itu sambil berlari memeluknya, tanpa memperdulikan pakaian mereka yang jadi ikut basah.
Lu Ping dengan kaget berteriak
"Ibu...!!" " Ayah...!"
Lu Ping juga membalas pelukan mereka dengan gembira.
Tapi sesaat kemudian dia pun sadar dan berkata,
"Ayah ibu Song ke ke dalam bahaya..."
"Dia berhadapan dengan musuh yang cukup banyak di kuil tua tidak jauh dari sini."
Lu Sun bereaksi cepat dan berkata,
"Cepat tunjukkan tempatnya...!"
Lu Ping mengembalikan handuk tadi kepada pelayan yang masih berdiri bengong disana, sambil berkata,
"Terimakasih handuknya, aku pergi dulu nanti baru kembali lagi ini untuk mu."
ucap Lu Ping sambil menyisipkan 1 tael perak kedalam tangan Pelayan tersebut.
Lalu Lu Ping kembali berlari keluar dari restoran mengaktifkan baju Zirah raja naga laut Utara nya dan terbang kembali kearah kuil di ikuti oleh Lu Sun yang menggandeng kedua tangan kedua istrinya menggunakan Jin Tou Yun menyusul Lu Ping.
Tentu saja Lu Sun tidak bisa menggunakan dua tangan karena tangannya tinggal satu.
Tapi lengan baju yang tergantung itu bisa di gunakan sebagai pengganti tangannya dengan leluasa.
__ADS_1
Sementara itu setelah Lu Ping pergi, hati Wu Song menjadi tenang, Wu Song tidak terlihat takut sama sekali meski jumlah musuh lebih banyak.
Wu Song yakin bila dia terdesak, dengan pedang Naga Siluman Semesta ditangannya dia akan dengan mudah membantai mereka semua satu persatu.
Ouw Yang Mo segera maju menerjang kearah Wu Song dengan pukulan katak nya yang kini sudah dia sempurna kan ketimbang saat bertemu di.lembah Selaksa obat.
Angin pukulan dan bau amisnya semakin tajam.
Wu Song menebaskan sulingnya membentuk huruf tenang menyambut serangan yang datang dari Ouw Yang Mo.
Ouw Yang Mo melejit menghindar, lalu meneruskan serangannya kedepan.
Wu Song kembali menuliskan huruf abadi menyambut serangan susulan Ouw Yang Mo.
Serangan pertama Wu Song yang dihindari Ouw Yang Mo menghantam meja sembahyang hingga pecah berantakan.
Sedangkan serangan kedua huruf abadi berbenturan dengan sepasang telapak Ouw Yang Mo.
Menimbulkan beberapa kali ledakan dahsyat yang membuat Ouw Yang Mo terdorong mundur kebelakang.
Ouw Yang Mo berjumplitan dua kali membuang daya dorong serangan Wu Song.
Ouw Yang Mo Kembali jatuh mendekam diatas tanah dengan pipi mengembung tangan dan kakinya juga menggembung.
"Kok...kok...kok...!"
Setelah tiga kali berulang, Ouw Yang Mo kembali melesat kearah Wu Song dengan kecepatan dan kekuatan 3 kali lipat yang membuat bangunan kuil tua bergetar hebat seperti akan roboh .
Wu Song menyimpan sulingnya di pinggang kemudian menyambut serangan Ouw Yang Mo dengan jurus ke 14 dari 18 tapak Penahluk Naga.
6 ekor naga mas melesat keluar dari tubuh Wu Song terbang kearah Ouw Yang Mo dari enam arah.
Ouw Yang Mo juga membelah diri menjadi 6 menapak ke 6 arah dengan kedua telapak tangannya.
Ketika ke 6 Naga Emas terpental dan Sirna ke 6 tubuhnya menyatu kembali melesat menyerang Wu Song.
Wu Song yang memiliki kemampuan membaca arah gerakan menghilang dari posisinya berdiri dengan mengunakan 6 nadi Pedang Sakti.
Wu Song Melesatkan beberapa cahaya merah mengincar beberapa bagian penting ditubuh Ouw Yang Mo.
Ouw Yang Mo kembali terpental kebelakang menabrak sebuah pilar penyangga bangunan kuil hingga hancur berantakan.
Melihat hal ini Shi Ma Ong pun berteriak,
__ADS_1
"Tunggu apalagi cepat maju bersama habisi dia."
Wu Song melesat keluar dari dalam kuil, tidak mau menunggu kuil hancur dan runtuh nanti menimpa dirinya.
Meskipun tidak akan melukainya tapi dapat mengotori pakaiannya.
Wu Song berdiri di bawah guyuran hujan tapi tidak ada setetes pun air hujan yang bisa menyentuh tubuhnya.
Seluruh tubuhnya di lindungi oleh cahaya biru dan merah.
Dari kepala sampai ke kaki seperti cangkang telur yang melindungi isinya.
Wu Song tetap tersenyum tenang menghadapi kepungan belasan orang itu.
Di awali dengan serangan sepasang tapak berwarna merah dan menari-nari di udara,
Yang lain pun ikut menyerang dengan pedang dan tongkat dari berbagai arah ketubuh Wu Song.
Lalu di susul dengan dua sosok tubuh yang melesat cepat dengan sepasang telapak tangan yang mengeluarkan bau amis.
Dan kedua sosok tersebut dari mulutnya terdengar bunyi "Kok..kok...kok...!"
Yang menyerang Wu Song dengan pedang adalah Thie Mien Cin Jin, Im Yang Cin Jin dan Pai Hu Lao Jen, serta keempat dayang Ouw Yang Hok yang melakukan serangkaian serangan susulan pendukung.
Yang menggunakan Toya Adalah Biksu Hong Sin.
Sedangkan Shi Ma Ong dan Yi Dao dengan licik bergerak paling belakang sambil mengamati situasi memberikan serangan dari sisi tak terduga dengan Cakar tengkorak putih 9 Im yang ganas dan berbahaya karena banyak perubahan nya.
Wu Song kembali mencabut sulingnya dengan mengalirkan tenaga Im Yang Sen Kung ke sulingnya, Wu Song bergerak dengan kemampuan membaca gerakan dasar dan memberikan serangan dengan Feng Yun Wen Hua.
Yang pertama kali tertotok suling hitam dan terpental tidak bisa bergerak adalah ke 4 gadis itu.
Disusul dengan Thie Mien Cin Jin dan Im Yang Cin Jin, sedangkan Pai Hu Lao Jen berhasil menangkis serangan Wu Song dengan pedangnya dan mencegah Wu Song mengejarnya dengan totokan ketiga arah menggunakan janggutnya.
Yang membuat Wu Song terkejut, dan tidak meneruskan serangannya.
Sedikit merundukkan tubuhnya menangkis serangan Toya Biksu Hong Sin dari samping dan memberikan sebuah tendangan putar kearah dada biksu Hong Sin.
Biksu Hong Sin berhasil menangkis tendangan Wu Song dan melompat mundur.
Saat itu juga dari arah belakang Wu Song datang dua Sosok ayah dan anak menggunakan jurus kodok memukul punggungnya yang terbuka.
Sedangkan dari arah bawah empat buah tangan mencengkram dengan deras mengeluarkan sinar putih .
__ADS_1
Kearah kedua tulang paha Dan Tian dan Daerah Terlarang Wu Song, ingin melumpuhkannya dengan kejam.