
Yao Su didalam toko terkejut melihat sebuah bungkusan yang dilemparkan dari luar toko kepadanya.
Yao Su menyambut bungkusan tersebut dan menyusul keluar toko tapi orang yang melemparnya sudah pergi tidak terlihat.
Hanya terdengar suaranya yang mohon pamit dan memintanya menjaga diri.
Dari suaranya Yao Su mengenali itu suara pria bertopeng yang pernah menyelamatkannya.
Yao Su kemudian membawa bungkusan itu kedalam, setelah membukanya dia melihat ada belasan jamur Ling Zhi Darah yang sangat langka, dan harganya sangat mahal.
Tanpa sadar Yao Su mengeleng-gelengkan kepalanya dan bergumam di dalam hati.
Pemuda yang luar biasa, kalau saja gadis bodohku bisa berjodoh dengan pemuda seperti ini.
Mati pun hati ku bakal lebih tenang saat bertemu ibunya di alam sana.
Di bandingkan saat ini bergulang-galung dengan pemuda begajul yang bernama Si Men Cing itu.
Dasar gadis bodoh yang keras kepala, punya mata tapi tidak bisa melihat.
Hanya membuat orang tua khawatir saja.
Yao Su menghela nafas dan kembali mengeleng-gelengkan kepalanya sambil menyusun jamur Ling Zhi Darah yang mahal dan langka ketempat obat khusus.
Baru selesai menyusun dia melihat putri kesayangannya pulang dengan kepala tertunduk lesu dan terlihat sedih.
Di tangannya terlihat menenteng bungkusan sarapan yang di kirim oleh pelayan kedai.
Yao Su melanjutkan pekerjaannya menumbuk daun obat, dia tidak mau banyak bertanya.
Karena dia paham bertanya juga percuma, Lin Lin tidak akan pernah memberitahu kepadanya.
Lagipula Yao Su malas tahu kalau itu menyangkut Si Men Cing hanya membuat keki dan emosi saja kalau mendengarnya.
Lin Lin dengan lesu membawa bungkusan berisi sarapan menuju dapur.
Membuka bungkusan tersebut duduk sambil makan sarapan bubur cakwe dan bakpao yang mulai dingin.
Lin Lin terlihat tidak perduli dengan makanan yang mulai dingin itu.
Dia makan bubur yang bercampur airmata, dia kini tidak bisa membedakan.
Bubur itu asin dari airmata atau asin dari bubur yang sedang di makannya.
Lin Lin entah mengapa merasa ingin menangis, mungkin ini adalah perasaan menyesal yang datangnya terlambat atau kecewa Lu Fan pergi begitu saja meninggalkan dirinya.
Atau marah dan kecewa pria bertopeng yang dikaguminya selama ini adalah bajingan cabul yang selalu melecehkan dirinya.
Lin Lin sendiri tidak paham dia hanya merasa ingin menangis saja.
__ADS_1
Saat makan siang bersama ayahnya,
Yao Su bercerita,
"Bahwa sebelum Lin Lin pulang ada yang melemparkan sebungkus Jamur Ling Zhi yang sangat berharga ke dalam toko."
"Orang yang melempar bungkusan itu memohon pamit dan meminta ayah menjaga diri."
"Ayah tidak bertemu dengan orang nya, ketika ayah menyusul keluar toko, dia sudah pergi.
Tapi dari suaranya ayah yakin dia adalah pria bertopeng yang pernah menolong kita."
"Ayah heran di dunia ini masih ada orang yang tidak hanya sakti tapi hatinya sangat baik dan tulus memberi tanpa mengharap kembali."
Mendengar cerita ayahnya, Lin Lin tiba-tiba berlari kedalam kamarnya mengunci pintu.
Menjatuhkan dirinya ke kasur menangis tersedu-sedu sampai akhirnya tertidur.
Sore harinya ketika toko hampir tutup,
dia baru keluar dari kamarnya, langsung menuju dapur menyiapkan makan malam untuk dirinya dan ayahnya.
Saat makan malam Yao Su dapat melihat sepasang mata anaknya merah dan bengkak.
Yao Su pura-pura tidak melihat dan tidak mau bertanya takut anaknya bersedih.
Sehabis makan Lin Lin membersihkan meja makan piring mangkuk dan sumpit, setelah mencuci bersih dan menyusunnya.
Dia kembali ke kamarnya kembali mengunci pintu.
Keesokan paginya Lin Lin pagi-pagi sudah buka toko menunggu si pelayan kedai datang mengantar makanan.
Tapi sampai matahari naik tinggi tetap tidak terlihat pelayan itu datang.
Akhirnya Lin Lin menyusul ke kedai didepan ada banyak orang sedang duduk makan minum di kedai.
Tapi orang yang di carinya tidak terlihat, dengan lesu Lin Lin kembali ke toko obat dengan kepala tertunduk.
Sejak saat itu dan hari-hari berikutnya tidak ada lagi sarapan yang datang, juga tidak terlihat lagi bayangan Lu Fan yang duduk di kedai.
Juga tidak terlihat lagi ada pemuda yang sedang mengamati Lin Lin dari jauh ketika sedang menjemur obat di depan toko.
Hari berganti hari bulan berganti bulan tahun berganti tahun Lu Fan tidak pernah lagi terlihat muncul di kota Xiao Pei.
Kota yang di penuhi kenangan yang menyaksikan kegagalan cinta pertamanya yang tulus.
Lin Lin hanya bisa menunggu dengan perasaan menyesal kecewa dan sedih tanpa ujung pangkalnya.
Sudah cukup lama kita tinggalkan cerita Wu Song dan lainnya mari kita ikuti lagi.
__ADS_1
Siang itu terjadi suasana tidak enak di dalam lembah, Wu Song tampak berlutut di hadapan mertuanya.
Di sana terlihat Lu Sun duduk dengan wajah merah padam menahan kemarahan.
Lu Ping yang berdiri di samping ayahnya terlihat pucat wajahnya dan sepasang matanya yang indah terus mengalirkan air mata.
Sedangkan Xue Yen dan Siau Ching hanya diam disamping Lu Sun.
Siau Ching menatap Wu Song dengan pandangan kasihan.
Sedangkan Xue Yen hanya menatap dingin kearah Wu Song.
Terdengar suara Lu Sun bertanya,
"Wu Song aku tidak pernah mengajari mu berbohong jawablah dengan jujur."
"Apakah tuduhan warga desa dan kota disekitar lembah dan beberapa perguruan silat aliran putih disekitar lembah kepada mu benar adanya?"
"Jawablah dengan jujur jangan berbohong, dan jadilah pria yang bertanggungjawab."
Wu Song mengangkat wajahnya menatap
Lu Sun dan berkata,
"Aku Wu Song bersumpah atas nama ayah ibu ku, aku tidak pernah melakukan hal yang dituduhkan kepada ku itu."
"Orang lain aku tidak perduli apa pandangan mereka kepada ku."
"Tapi Guru, kedua ibu guru yang membesarkan ku dan istri ku Lu Ping yang sangat kucintai, ku mohon percayalah kepadaku."
"Guru ku mohon ijinkan aku meninggalkan lembah untuk membersihkan nama ku."
Tiba-tiba Lu Ping maju ikut berlutut di sebelah Wu Song dan berkata,
"Ayah aku percaya dengan karakter Wu Song suamiku, mohon ijinkan aku ikut dengannya."
"Ping Er kamu..." ucap Wu Song tanpa dapat melanjutkan kata-katanya hatinya di penuhi rasa haru.
Wu Song hanya menatap Lu Ping dengan penuh rasa haru dan berteimakasih.
Wu Song mengulurkan tangannya membersihkan airmata di pipi Lu Ping.
Lu Sun menghela napas panjang kemudian berkata,
"Baiklah aku percaya padamu, pergilah buktikan tuduhan itu tidak benar."
"Tapi diluar sana pasti banyak Pendekar aliran putih yang akan memusuhi mu.
Berhati-hatilah usahakan jangan sampai membunuh mereka itu akan memperumit masalah mu."
__ADS_1