
"Hidup Dewa petir..! Semoga Dewa Petir sehat selalu dan panjang umur..!"
teriak semua orang yang berlutut kompak.
"Kalian semua berdirilah, tidak perlu banyak peradatan.."
"Adakah di antara kalian ada yang tahu di mana Susiok Couw Feng Yi Lei Dian berada.?"
"Tolong antarkan aku segera pergi menemui mereka.."
Salah seorang pelatih itu maju memberi hormat dan berkata,
"Ketua muda silahkan ikut dengan saya.."
Lee Yong di ajak memasuki sebuah bangunan yang megah dan besar, melewati ruang utama bangunan itu, Lee Yong di bawa terus memasuki bagian dalam hingga tembus ke halaman belakang.
Setelah melewati area perkebunan yang luas, mereka berdua berjalan memasuki sebuah hutan yang angker dan sepi.
Begitu masuk ke dalam hutan mereka mulai di kepung oleh angin hujan gemuruh petir dan cahaya kilat yang menyambar-nyambar.
Dengan tubuh basah kuyup mereka berdua terus berjalan menelusuri hutan tersebut, tanpa banyak bicara.
Akhirnya mereka berdua berhasil melewati hujan badai, yang mengepung seluruh area hutan itu.
Mereka tiba di sebuah halaman luas, ditengah halaman luas itu terlihat sebuah pondok sederhana.
Penunjuk jalan itu menunjuk kearah pondok dan berkata,
"Para tetua ada di dalam sedang melakukan meditasi tertutup."
"Murid tidak berani mengusik mereka, sebaiknya ketua sendirian saja pergi menemui mereka.."
Lee Yong mengangguk dan berkata,
"Terimakasih banyak, siapa nama ? kamu boleh langsung kembali ke halaman depan."
"Nama ku Lee Wi Hong, aku permisi dulu ketua."
ucapnya penuh hormat kemudian buru-buru meninggalkan tempat terlarang tersebut.
Lee Yong berjalan menghampiri pondok tersebut, di depan pintu pondok sederhana itu Lee Yong berkata,
"Para Susiok Couw, yang muda Lee Yong datang mengunjungi anda mohon bertemu.."
Lee Yong menunggu beberapa saat tidak ada jawaban dari dalam, dia kembali berkata.
"Yang muda Lee Yong datang menghadap atas ijin kakek ku Lee Kong, beliau menyampaikan salam kepada para Susiok Couw."
Pintu pondok tiba-tiba terbuka, dari dalam pondok berjalan keluar 4 orang pria berusia 60 an tahun.
Orang pertama adalah seorang pria berambut awut-awutan, orang kedua juga seorang pria, wajah nya selalu dihiasi senyum sabar dan ramah,
Orang ketiga adalah seorang pria berkepala botak di tengah, rambutnya hanya tumbuh dipinggir kiri kanan berdiri-berdiri.
Orang keempat adalah seorang pria yang sangat dingin sikapnya wajahnya tanpa ekspresi.
__ADS_1
Mereka berempat inilah yang terkenal dengan nama Feng Yi Lei Dian.
Lee Yong memberi hormat kearah mereka dan berkata,
"Maaf kedatangan Lee Yong telah menggangu ketenangan kalian berempat."
"Jadi kamu cucu ketua Lee ? bagaimana kabarnya sekarang ?"
tanya orang kedua dengan senyum ramah.
"Benar sekali tetua Yi, kakek ku sehat dan baik-baik saja."
"Kakek ku menitip salamnya kepada kalian berempat."
ucap Lee Yong dengan penuh hormat.
"Tua Bangka itu masih ingat dengan kami itu bagus, Ha..ha..ha..ha...!"
"Dia menyuruh mu datang menemui kami, tentu kamu membawa tanda pengenal mu kan.?"
"Katakan saja apa yang perlu kami lakukan, tidak perlu banyak peradatan."
"Kamu sekarang adalah ketua kami.."
ucap orang ketiga yang di kenal sebagai tetua Lei.
Seperti namanya karakternya sangat terbuka, suaranya keras seperti suara geledek.
Lee Yong mengangguk kemudian mengeluarkan plakat hitam dari saku bajunya dan mengangkatnya tinggi-tinggi diatas kepala.
Melihat benda di tangan Lee Yong, mereka berempat tidak berani berayal lagi, mereka berempat segera menjatuhkan diri berlutut di hadapan Lee Yong.
Dan berkata,
"Hidup Dewa Petir semoga panjang umur dan sehat selalu."
"Para tetua berdirilah," ucap Lee Yong buru-buru menyimpan kembali plakat hitamnya yang memiliki pengaruh besar di perguruan Dewa petir ini.
Keempat orang itu kini bersikap hormat kepada Lee Yong, orang kedua mempersilahkan Lee Yong masuk ke pondok mereka yang sederhana tapi sangat rapi dan bersih di dalam nya.
Setelah mereka berlima duduk satu meja, Lee Yong baru menyampaikan keinginannya kepada mereka berempat.
Setelah menyampaikan keinginannya, Lee Yong pun berjalan keluar dari pondok tersebut, kemudian terbang ke udara meninggalkan tempat tersebut.
Lee Yong mengunjungi barak militernya, setelah mengawasi mengecek dan membagi-bagi tugas latihan kepada kepala komandan pasukan nya.
Lee Yong pun bergegas kembali kerumahnya, saat tiba dirumah hari pun sudah sore.
Begitu sampai dirumahnya, seperti biasa So Soo sudah menunggu dan menyambutnya didepan pintu rumah.
So Soo tersenyum manis maju menggandeng tangan suaminya dengan manja mengajaknya masuk kedalam rumah.
So Soo sangat memanjakan Lee Yong, dia mengurus semua keperluan suaminya seorang diri, dia tidak mengijinkan pelayan nya mengurusi Lee Yong.
"Sayang air mandi sudah siap, kamu pasti lelah aku bantu mandi kan ya ?"
__ADS_1
Lee Yong tersenyum bahagia dan berkata,
"Baiklah.."
Sambil berjalan bersama istrinya, Lee Yong berkata,
"Sayang kamu terlalu memanjakan aku, bila suatu hari kamu tidak ada di sisi ku."
"Aku benar-benar tidak tahu bagaimana cara aku melanjutkan hidup ku."
"Hushh..! jangan bicara sembarangan, aku akan selalu mendampingi mu hingga kita berdua tua dan berambut putih."
ucap So Soo sedikit cemberut.
Tapi dia tetap merangkul lengan suaminya dengan manja.
Lee Yong mengangguk dan berkata,
"Ya kamu benar maaf.."
"Tapi hidup sangat sulit di prediksi sayang, hari ini kita bisa bersama dengan bahagia itu adalah anugrah."
"Tentu saja aku juga berharap bisa terus seperti ini setiap hari, tapi hari esok tidak ada yang tahu."
"Lahir Tua Sakit Mati, semua sudah di atur, kita tidak bisa menghindarinya.
"Hidup ini sangat singkat, tapi aku sudah sangat puas dan bahagia, karena kini ada kamu yang dengan setia selalu menemani mencintai dan menyayangi ku setiap hari."
ucap Lee Yong menyentuh tangan istrinya dengan lembut.
So Soo tersenyum mendengar ucapan suaminya, sambil menggosok punggung suaminya dengan handuk lembut, dia berkata,
"Hari ini kamu kenapa ? ucapan mu seperti kakek-kakek yang lebih tua dari ayah ku saja."
Lee Yong tertawa ringan dan berkata,
"Baiklah kita ganti topik saja, agar tidak cepat tua."
"Sayang beberapa waktu ini setiap pagi aku selalu melihat mu berdiri termenung di depan jendela."
ucapan Lee Yong membuat So Soo terkejut secara reflek dia berhenti menggosok punggung suaminya.
Lee Yong sambil tersenyum melanjutkan berkata,
"Apakah kamu ada beban perasaan atau ada kesedihan ataupun penyesalan yang membebani hati mu."
"Kita suami istri kalau ada sesuatu, kamu bisa berbagi cerita dengan ku."
So Soo melanjutkan menggosok punggung suaminya dan berkata,
"Tidak ada aku hanya suka menghirup udara pagi yang sejuk dan segar saja."
"Mau ada beban kesedihan dan penyesalan apalagi ? bisa hidup bersama mu bukan kah itu sudah sebuah anugrah kebahagiaan terbesar dalam hidupku."
"Sayang aku ingin mengajak mu pergi berdua jalan-jalan mengarungi lautan kamu mau tidak ?"
__ADS_1
tanya Lee Yong