
Wu Song sambil mendekap Ceng Ceng didalam pelukannya tiba-tiba teringat dengan kata-kata yang disampaikan Si Ma Jian barusan.
Wu Song tidak dapat menahan perasaan menyesal nya yang menyesakkan dada.
Tanpa terasa dua butir air bening mengalir dikedua sisi pipinya.
Wu Song teringat dengan jelas penjelasan Si Ma Jian padanya, Ceng Ceng bisa mengalami kondisi kandungan seperti itu karena suasana hati yang buruk di saat sedang mengandung.
Meski Si Ma Jian tidak menyalahkan dirinya dan menggunakan kalimat sehalus mungkin menjelaskan padanya.
Tapi Wu Song tahu dengan jelas semua ini disebabkan oleh dirinya.
Wu Song sangat menyesal dan menyalahkan dirinya yang tidak bisa memberikan kebahagian dan perlindungan yang baik pada wanita dalam dekapannya ini.
Wu Song sangat takut sesuatu yang buruk bisa menimpa Ceng Ceng saat melahirkan nanti tapi Wu Song tidak tahu cara untuk memperbaiki situasi ini.
Wu Song sempat berpikir meminta bantuan gurunya, tapi dia sadar gurunya bukan ahli pengobatan dan tidak mengerti sama sekali tentang hal-hal seperti ini.
Wu Song cepat-cepat menghapus airmata nya takut diketahui oleh Ceng Ceng yang berada dalam pelukannya sehingga kembali berpikir banyak.
Untuk menenangkan Ceng Ceng Wu Song berbisik ditelinga istrinya,
"Sayang kamu tunggu dikamar ya sebentar, udara di luar sangat dingin aku mau ke dapur memaksakan pangsit kesukaan mu."
Ceng Ceng mengangkat kepalanya menatap Wu Song kemudian menggeleng,
"Aku tidak mau ditinggal, kalau cuaca dingin aku bisa pakai mantel musim dingin yang hangat dan tebal, aku ingin melihatmu memasak..."
Wu Song tidak berdaya menolak permintaan Ceng Ceng, Wu Song melepaskan rangkulannya berjalan menuju lemari mengambil sebuah mantel musim dingin yang tebal dan memakaikannya pada Ceng Ceng.
Setelah itu dia menggandeng Ceng Ceng dengan mesra berjalan menuju dapur.
Wu Song bukan orang bodoh kesaktian saat ini tidak kalah dibanding Lu Fan maupun gurunya.
Dari awal dia tiba di kediaman ini, dia sudah menyadari ada orang yang diam-diam terus mengamatinya.
Hanya saja Wu Song tidak merasakan niat jahat ataupun aura yang membahayakan Ceng Ceng maupun dirinya.
Jadi dia tidak berniat mengungkapnya, saat ini bagi Wu Song tidak ada waktu untuk mengurus hal lain.
Selain berusaha mengurus dan menyayangi Ceng Ceng yang banyak mengalami penderitaan hidup karena memilih bersamanya.
Wu Song mulai membuat adonan kulit pangsit kemudian membuat isinya membungkusnya kemudian mulai merebusnya.
Wu Song tahu istrinya lebih suka pangsit kuah jadi dia hanya membuat pangsit kuah untuk Istrinya saja.
Wu Song menggunakan kuah tulang yang ada di dapur sebagai pelengkap para koki dapur menyiapkan segala macam masakan untuk sarapan dan makan siang.
Wu Song duduk disebelah Ceng Ceng, melihat Ceng Ceng makan dengan lahap.
__ADS_1
Wu Song merasa hatinya sangat bahagia.
Song ke ke tidak makan? tanya Ceng Ceng sambil makan dan memiringkan kepalanya menatap Wu Song.
Wu Song tersenyum sambil berkata,
"Ini mau makan.."
Kemudian Wu Song mengambil dua butir bakpao buatan koki dapur dan makan menemani Ceng Ceng.
Setelah selesai makan, Wu Song mengajak Ceng Ceng jalan sebentar di taman, saat itu hujan salju sudah berhenti dan terlihat matahari mulai muncul memberikan sinar hangatnya.
Wu Song mengajak Ceng Ceng duduk ditempat peristirahatan didekat taman.
Wu Song menyeduh teh dan menikmatinya bersama Ceng Ceng sambil ngobrol-ngobrol.
Sambil minum teh Ceng Ceng bertanya,
"Song ke ke anak kita kamu mau beri nama apa..?"
Wu Song tersenyum sambil meletakkan gelas tehnya diatas meja dia berkata,
"Bukankah kakek sudah menentukan nama untuk anak kita..?"
Ceng Ceng terlihat mengerucutkan bibirnya tidak puas,
Wu Song terlihat berpikir sejenak kemudian berkata,
"Nama kalau anak ini terlahir pria saya sependapat dengan kakek Wu Ming nama yang tepat untuknya."l
"Sedangkan nama kalau anak kita terlahir cewek kurasa Wu Fei Lan bagaimana menurutmu..?"
Sambil mengerucutkan bibirnya Ceng Ceng berkata dengan tidak puas,
"Berarti bila anak kita terlahir laki-laki, namanya Wu Ming yang artinya tidak punya nama."
Wu Song tertawa kemudian menyentuh tangan istrinya dia berkata,
"Kalau kamu tidak cocok, ganti saja aku pasti akan setuju."
Ceng Ceng menghentakkan kakinya sedikit kesal sambil berkata,
"Aku tidak mau aku ingin Song ke ke yang mencari nama untuknya."
Wu Song terkejut melihat respon Cengl42 Ceng, dia tidak ingin membuat Ceng Ceng semakin kesal. Dia takut Ceng Ceng nanti akan kembali menangis kalau terlalu kesal.
Sambil tersenyum dan menyentuh tangan Ceng Ceng dengan lembut Wu Song berkata,
"Bagaimana kalau di beri nama Wu Cin Hai..?"
__ADS_1
Mata Ceng Ceng langsung berbinar, mulutnya yang tadi mengerucut kini tersenyum senang.
Wu Song tersenyum tidak berdaya melihat tingkah laku Ceng Ceng, mungkin ini bawaan orang sedang hamil pikir Wu Song.
Mereka ngobrol sampai menjelang siang, Wu Song kemudian berkata,
"Sayang aku ke dapur dulu ya, aku mau masak beberapa macam makanan kesukaan mu dulu."
Ceng Ceng tampak gembira dia pun berkata,
Kalau begitu aku menunggu mu di kamar, kamu sibuk saja aku tidak mengganggumu dulu.
Kemudian dengan gembira Ceng Ceng bernyanyi kecil berjalan menuju kamar nya.
Wu Song merasa hatinya sangat senang dan bahagia.
Baginya saat ini apapun akan dia lakukan saat ini asal bisa melihat Ceng Ceng senang dan tertawa bahagia.
Hari-hari berlalu dengan cepat setiap hari Wu Song memantau perubahan letak posisi janin Istrinya.
Tapi dia tetap tidak melihat ada perubahan berarti.
Hingga tiba hari yang ditunggu-tunggu tetap tidak ada perubahan.
Akhirnya Wu Song hanya bisa terduduk diam dipenuhi kecemasan didepan kamar dan Si Ma Jian hanya bisa berjalan mondar-mandir didepan kamar tersebut.
Sementara didalam kamar terus terdengar rintihan dan teriakan Ceng Ceng yang sedang dalam proses persalinan.
Setiap mendengar rintihan dan teriakan Ceng Ceng hati dan jantung Wu Song terasa seperti sedang diiris dan diremas-remas.
Dia ingin masuk kedalam menemani dan memberi semangat serta menenangkan Ceng Ceng.
Tapi bidan tua yang membantu proses persalinan istrinya melarang nya, karena keberadaan Wu Song takut mengganggu konsentrasi mereka dalam membantu proses persalinan Ceng Ceng yang sangat sulit ditangani.
Akhirnya Wu Song hanya bisa menunggu didepan kamar dengan perasaan tidak karuan.
Dia berusaha terlihat tenang padahal pikiran dan perasaan nya saat ini sangat kacau.
Tiba-tiba Lu Ping muncul dan duduk di samping Wu Song memegang tangan Wu Song dan berkata,
"Song ke ke kamu tenanglah semua pasti baik-baik saja jangan terlalu cemas."
"Istri dan anakmu pasti baik-baik saja."
Wu Song terlihat terkejut melihat kemunculan Lu Ping yang tiba-tiba ini.
Kemudian dia teringat orang misterius yang selama ini terus mengawasi dirinya dan Ceng Ceng sekarang dia pun paham.
Orang tersebut pastilah Lu Ping.
__ADS_1