LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM

LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM
MENUJU KOTA JIANG NAN,


__ADS_3

Ketika Lu Sun melesat kedepan dengan serangan Cakar Naga Sakti Meradang, Lu Fan


Terlihat bersiap mengeluarkan jurus Pemusnah Bodhisatva dan Buddha.


Baru jurus pembukaan bumi dan langit bergetar hebat angin kencang petir sambar menyambar suara gemuruh dan ledakan nya memekakkan telinga.


Langit yang cerah kini menjadi gelap diselimuti oleh awan hitam yang bergulung-gulung.


Sebelum Lu Fan melepaskan pukulannya,


Tiba-tiba Yi Yi melesat menghadang di depan Lu Fan dan berteriak,


"Adik Fan tidak boleh...!!"


Gerakan Yi Yi yang cepat membuat Bun Houw tidak sempat mencegahnya.


Lu Sun yang sedang melayang dengan cakar Naganya menarik kembali serangannya.


Berdiri mematung menatap Yi Yi dengan terkejut.


Lu Fan yang hampir melepaskan serangan pembukanya juga menarik kembali serangannya, menatap Yi Yi dengan sedih dan air menetes dari kedua matanya.


Yi Yi menghadang di depan Lu Fan melanjutkan kata-katanya,


"Adik Fan jangan kamu akan menyesal nanti bila melakukannya."


"Dengarkan aku, kegagalan adalah awal dari kesuksesan."


"kamu tidak boleh menyerah dan melakukan perbuatan bodoh yang akan menyakiti orang-orang yang perduli padamu." ucap Yi Yi sambil menatap Lu Fan dan tersenyum lembut.


Yi Yi kemudian menghadap kearah Lu Sun dan berkata,


"Paman aku menceritakan semuanya harap jangan menuduh adik Fan tanpa dasar jelas."


Lu Fan langsung berteriak panik,


"Kakak Yi Yi jangan. !"


Yi Yi menoleh menatap Lu Fan dengan lembut dan berkata,


"Maafkan aku adik Fan."


Yi Yi setelah meminta maaf pada Lu Fan, dia kembali menatap Lu Sun dan berkata,


"Paman Liu Fan selama ini tidak kemana-mana, dia setiap hari ada di Xiao Pei."


Lu Sun mengerutkan alis dan bertanya,


"Buat apa dia di sana?"


Sebelum Yi Yi menjawab Lu Fan telah terbang pergi meninggalkan tempat tersebut bersama Jin Tou Yun miliknya.


Yi Yi melanjutkan penjelasannya sambil melihat kearah Lu Fan dengan iba,

__ADS_1


"Lu Fan menyukai seorang gadis bernama


Yi Yi tapi cintanya hanya bertepuk sebelah tangan."


"Kemarin malam Lu Fan pulang mengatakan dia sudah mengakhiri semuanya dan dia sudah melepaskannya."


"Lu Fan sedang bersedih dan galau kini paman menuduhnya dengan sesuatu yang tidak dia lakukan."


"Tentu emosinya menjadi meledak tidak terkendali."


"Dia masih muda emosinya belum stabil harap paman bisa memakluminya."


"Jangan terlalu keras padanya, lebih baik biarkan bibi Siau Ching saja yang menasehatinya."


Mendengar penjelasan ini emosi Lu Sun perlahan-lahan turun, dan berkata,


"Sudahlah urusan anak itu aku tidak akan ikut campur lagi bikin pusing saja."


Setelah berucap Lu Sun dengan wajah kaku dan menahan emosi berkata,


"Lu Ping, Wu Song ikut denganku ke pondok Ibu Xue Yen."


Pondok Lu Sun sudah hancur berantakan, sehingga kini hanya bisa minjam pondok Xue Yen.


Lagipula Lu Ping putrinya Xue Yen tentu lebih pantas bila dibicarakan ditempat Xue Yen.


Itulah mengapa ketika Lu Ping dan Wu Song datang menghadap wajah Lu Sun terlihat kaku dan penuh emosi.


Kini Wu Song dan Lu Ping keluar dari lembah bergandengan tangan.


Akhirnya menghentikan langkahnya dan menatap Lu Ping sambil bertanya,


"Sayang banyak bukti dan saksi juga alasan yang membuat aku berada dalam posisi yang patut dicurigai, mengapa kamu malah memilih mempercayai ku?"


Lu Ping menatap Wu Song dengan lembut sambil menyentuh wajah Wu Song dengan mesra dia berkata,


"Karena kamu adalah suami ku, aku dulu pernah menyakiti perasaan mu."


"Karena kebodohan ku dulu aku hampir kehilangan pria yang paling baik, paling mengerti dan paling mencintai ku."


"Jadi aku tidak akan pernah mengulangi kebodohan yang sama seperti dulu lagi."


"Lagipula aku sudah berjanji pada adik Ceng Ceng, akan menggantikan dirinya menjaga dan menemani mu selamanya."


Wu Song sangat terharu mendengar semua penjelasan Lu Ping istrinya.


Wu Song menarik Lu Ping kedalam pelukannya memeluknya dan membelai rambut dan punggung nya dengan mesra.


Ada sepasang mata yang diam-diam terus mengawasi gerak-gerik Wu Song dan Lu Ping dengan tatapan penuh kebencian dari tempat persembunyiannya.


Karena dia lebih dulu bersembunyi disana dibandingkan kedatangan Wu Song dan Lu Ping.


Jadi Wu Song dan Lu Ping tidak menyadari keberadaan orang tersebut.

__ADS_1


Setelah berpelukan sejenak Wu Song dan Lu Ping bergerak meninggalkan tempat tersebut.


"Sayang kemana tujuan kita sekarang?" tanya Lu Ping sambil merangkul lengan Wu Song.


Mereka berdua terlihat tidak seperti sedang menjalankan misi penting, tetapi lebih terlihat seperti pasangan yang sedang berpelesiran.


Terutama Lu Ping dia tidak terlihat khawatir dan tertekan sama sekali dengan kejadian ini.


Wu Song sambil berjalan berkata,


"Kita ke Jiang Nan saja, selain kotanya sangat indah dan memilki tempat wisata yang indah-indah."


"Di sana juga terkenal dengan gadis-gadisnya yang cantik jelita."


Itu tu maunya kamu, dasar lelaki semua sama saja. ucap Lu Ping dengan bibir cemberut.


Wu Song langsung menunduk dan berkata,


"Hei..hei.. hei.. begitu saja cemburu."


"Siapa yang cemburu?" ucap Lu Ping sewot.


Wu Song sambil tersenyum menjelaskan,


"Kita mau mencari penjahat pemetik bunga, tentu harus di mulai dengan kota terdekat lembah dan kota tersebut harus sarat dengan wanita cantik."


"Baru ada kemungkinan kita bisa menemui dan menangkapnya saat dia beraksi."


"Kalau bisa memilih aku lebih baik pergi ke lembah obat mencari pewaris tabib Hua to.


"Agar bisa membantu kita memiliki anak." ucap Wu Song serius.


Lu Ping dengan kesal berkata,


"Bukan kita tapi aku yang bermasalah."


"Kamu kan sudah terbukti bisa punya Cin Hai dengan Ceng Ceng."


Wu Song merasa salah bicara membuat Lu Ping makin kesal, dia kembali menghentikan langkahnya kemudian berkata,


"Bagaimana kalau kita coba bikin disini? tempat ini sepi dan nyaman mungkin dengan berganti suasana kita bisa dapat."


Lu Ping wajahnya menjadi merah tapi dia tidak marah hanya malu dia berkata,


"Dapat kepalamu, ide memalukan bagaimana bila ada yang lewat dan melihatnya? Dasar genit aku tidak perduli lagi dengan mu."


Lu Ping langsung berlari sambil tertawa malu meninggalkan Wu Song


Wu Song pun tertawa dan mengejar Istrinya.


Ditempat persembunyiannya sepasang mata itu menatap dengan cemburu emosi dan penuh kebencian.


Wu Song dan Lu Ping yang selalu bermesraan tidak menyadari ada yang mengikuti perjalanan mereka secara diam-diam dari jarak jauh.

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan santai selama satu hari satu malam akhirnya Wu Song dan Lu Ping tiba di kota Jiang Nan yang ramai dan padat penduduknya.


Kota tersebut sangat ramai dan hidup.


__ADS_2