
Lu Ping dengan senyum lembut menyentuh bahu suaminya dan berkata,
"Sayang cukup hentikan... tidak ada yang menyalahkan mu... aku tidak tersakiti lihat lah aku baik-baik saja."
"Ayo kita segera pulang dan temui Se Se, kasihan dia sendirian di lembah."
"Lihat kamu sudah sebesar ini, masih tidak bisa jaga diri, dahi mu aduhh ..sampai lecet memar dan berdarah..." sshhh ...!"
pasti pedih ini..." ucap Lu Ping sambil mengomel dan meniup luka di dahi Wu Song dengan lembut dan menaburkan obat luka di kening Wu Song.
Wu Song tersenyum sedih menatap Lu Ping,
hatinya sangat terharu juga merasa bersalah.
Bukan dia tidak suka dan tidak berharap Se Se bisa kembali ke alam mereka, tapi kehadirannya membuat Lu Sun merasa kasihan dan sangat bersalah dengan Lu Ping.
Kelihatannya nasibnya kedepan akan mirip-mirip dengan gurunya pikir Wu Song.
Hanya saja Lu Ping dan Se Se memiliki sifat yang mirip.
Berbeda dengan ibu Siau Ching jadi kedepannya ada kemungkinan nasib Wu Song yang lebih parah di banding Lu Sun mertuanya itu.
Lu Sun sambil tersenyum menepuk pundak Wu Song dan berkata,
"Semua sudah takdir terima dan jalankan saja, yang penting kamu bisa menjadi suami yang tidak mengecewakan bagi mereka berdua."
"Ada orang mau satu aja sulit, kamu malah dapat dua jadi bersyukurlah."
"Ya dan kamu hampir 3 jadi aku dan Siau Ching harus bersyukur juga dengan takdir mu ?"
ucap Xue Yen menyela.
Lu Sun kembali nyengir kuda dan menjawab,
"Tidak lah sayang seumur hidup ku cuma ada 2, jangan terus libatkan dia lagi."
"Dia sudah cukup kasihan hidup sebagai biksuni yang kehilangan semuanya."
Xue Yen langsung mencibir dan berkata,
"Emang aku ada bilang kalau orang ke3 itu si sundal tersebut.?"
Lu Sun langsung memeluk Xue Yen dan berkata,
"Ya..ya... aku yang Genit, aku yang salah... maafkan aku ya ? sayang.."
__ADS_1
"Ayo kita sekarang pulang ke lembah ramai-ramai dan berkumpul beramai-ramai membuat pesta kecil, ok..."
Sambil manyun tapi karena Lu Sun sudah memeluknya dengan mesra sambil merapikan rambut dan diam-diam mencium tengkuk wilayah sensitif nya.
Xue Yen pun sudah tidak melanjutkan Omelan dan rasa kesalnya lagi.
Sementara Siau Ching hanya tersenyum penuh pengertian tidak terlihat mengeluarkan sepatah kata pun.
Melihat Xue Yen sudah mereda, Lu Sun pun berkata,
"Song er di luar hujan sudah berhenti, ayo lebih baik kita berangkat sekarang menuju lembah."
"Situasi di luar terlalu rumit dan tidak aman lebih baik kita cepat-cepat kembali ke lembah saja."
"Urusan pergolakan politik yang tiada habisnya bukan urusan kita, tidak ikut campur tentu lebih baik."
Wu Song meski kurang setuju, tapi dia mana berani membantah kata-kata Lu Sun,jadi dia hanya mengangguk penuh hormat.
Maka rombongan tersebut yang di pimpin oleh Lu Sun melesat ke udara terbang dengan sangat cepat kembali ke lembah.
Hanya perlu 3 hari perjalanan mereka ber5 pun tiba di lembah tanpa mengalami hambatan apapun sepanjang jalan.
Karena mereka melakukan perjalanan lewat udara, berhenti hanya untuk makan dan tidur.
Setiba di lembah mereka melihat seorang gadis cantik yang berwajah imut sedang tersenyum bahagia menyambut kedatangan mereka.
Sepasang bukit kembarnya juga terlihat lebih besar dan montok dibandingkan dengan gadis seusianya.
Gadis berbaju kuning itu adalah Se Se istri kedua Wu Song, usia sebenarnya gadis tersebut sebenarnya sudah 18 tahun hampir masuk 19 tahun.
Hanya saja karena wajahnya sangat imut dan cantik sehingga dia terlihat jauh lebih muda ketimbang usia aslinya.
Yang berbanding terbalik adalah perutnya yang harusnya dengan usia kandungan 7 bulan kini terlihat seperti 8 bulanan.
Dan terlihat lebih besar dari milik Lu Ping.
Yang usia kandungannya memasuki bulan ke 6
Melihat di dalam rombongan ada Wu Song dan Lu Ping, Se Se langsung berlarian sambil memegang perutnya yang besar.
Memeluk Lu Ping, setelah itu dia baru melompat kedalam pelukan Wu Song dengan melingkarkan tangannya di leher Wu Song sambil mengangkat kedua kakinya.
Se Se menatap Wu Song dengan mesra dan bertanya,
"Kamu ada merindukan ku tidak ?"
__ADS_1
Wu Song hanya berdiri bodoh tidak tahu mau jawab apa hanya melirik Lu Ping.
Lu Ping hanya menanggapinya dengan tertawa kecil sambil menutup mulutnya.
Se Se pun cemberut dan melepaskan pelukannya dan membalikkan badannya berkata,
"Aku sudah tebak kamu pasti tidak akan perduli dengan keberadaan ku.."
"Dasar laki-laki tidak punya hati."
Melihat reaksi Se Se, Wu Song menjadi bingung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Wu Song maju memeluk Se Se dari belakang meletakkan sepasang tangannya didepan perut Se Se yang besar dan berbisik,
"Jangan seperti ini, di sini banyak orang aku tentu sulit berbicara, tentu saja aku sangat khawatir dan selalu teringat dengan mu dan merasa bersalah padamu."
Se Se pun tersenyum ceria dan berkata dengan puas,
"Baiklah, kamu masih terhitung sedikit berhati nurani, ayo kita pergi ke air terjun dan ngobrol di sana."
"Ayo kak Lu Ping kita bertiga pergi ke air terjun ngobrol-ngobrol, sudah lama kita tidak berbincang-bincang."
Ucap Se Se melepaskan pelukan Lu Sun berjalan menggandeng tangan Lu Ping.
Lu Ping mengangguk kecil dan berkata,
"Benar, ayo kita kesana sekarang, aku juga ingin tahu perjalanan mu setelah berpisah dengan Song ke ke diportal dimensi itu."
Kini masing-masing tiga pasang berjalan kearah berbeda.
Lu Sun dan kedua Istrinya masuk kedalam rumah mereka beristirahat.
Sedangkan Wu Song membawa kedua istrinya yang sedang hamil berjalan menuju kolam air terjun di mana habitat ikan lele putih hidup.
Mereka bertiga duduk santai didekat aliran air dari kolam besar ke sungai kecil setinggi mata kaki.
Sambil merendam kaki mereka yang sedikit bengkak kemerahan karena harus menahan beban perut mereka yang kini semakin hari semakin besar.
Kedua istri Wu Song bersandar manja dalam pelukan Wu Song.
Wu Song yang penasaran dengan perjalanan Se Se langsung bertanya,
"Se er apa yang terjadi setelah kita terpisah di portal dimensi.?"
Se Se sambil tersenyum berkata,
__ADS_1
"Aku juga tidak tahu, aku pingsan saat kita memasuki portal tersebut,.saat bangun aku berada di tepi danau dekat Jiang Nan."
"Aku sempat beristirahat beberapa hari di Jiang Nan, setelah kondisi ku pulih, aku menyewa sebuah kereta menuju ke lembah."