LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM

LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM
PEMBICARAAN PANGLIMA SIE DAN SI TOPENG BESI


__ADS_3

Di saat bersamaan Pasukan para pendekar aliran putih keluar dari dalam hutan bergabung dengan pasukan Panglima Sie.


Si Topeng Besi langsung berjalan menghampiri Panglima Sie, dia melirik kearah Yi Yi yang terus menatapnya, dia menganggukkan sedikit Kepalanya kearah Yi Yi.


Kemudian dia kembali melihat kearah Panglima Sie dan berkata,


"Panglima Sie sebagian dari pasukan ku yang dari golongan hitam telah berbelot."


"Kini mereka telah bergabung dengan Pasukan Rajawali Merah di Shouchun."


Pasukan utama kita tentu sudah lelah, lebih baik kita membuat kemah di sini."


"Memulihkan kondisi Pasukan kita, sambil merundingkan strategi untuk menahlukkan kota ini."


Panglima Sie mengangguk dan berkata,


"Baiklah, lakukan sesuai saran Pendekar Topeng Besi..!"


ucap Panglima Sie sambil menoleh kearah Ketiga Jendral dan ajudannya.


"Panglima Sie bisakah anda ikut dengan saya sebentar, ada yang ingin saya bicarakan dengan anda."


ucap Si Topeng Besi serius.


Panglima Sie mengangguk kemudian melompat turun dari atas punggung kuda, berjalan mengikuti Si Topeng Besi.


Si Topeng Besi membawa Panglima Sie kepinggir hutan, yang sepi jauh dari semua orang.


"Maafkan sikap ku ini Panglima, hal ini terpaksa saya lakukan untuk keamanan dan menghindari terdengar oleh orang yang tidak perlu."


Panglima Sie mengangguk dan berkata,


"Tidak apa-apa aku percaya padamu, apapun tindakan yang kamu ambil pasti sudah dipertimbangkan dengan baik."


"Begini Panglima nanti malam Pasukan dari Shouchun dan Pasukan Pendekar golongan hitam."


"Pasti akan datang melakukan serangan membokong secara dadakan untuk mengacaukan kita."


"Aku ingin Panglima Sie dan seluruh pasukan utama pura-pura panik dan kalah melarikan diri ke segala arah."


"Semua perbekalan dan perkemahan harus di tinggalkan, bahkan semua tombak tameng pun harus di tinggalkan..termasuk semua atribut bendera dan baju perang tinggalkan semua.."


"Cukup bawa sebilah belati pendek dan tali saja.."


"Nanti semuanya harus berkumpul kembali, di balik hutan ini bersiaga menunggu kode dari arah kota Shouchun."


"Bila sudah melihat kode kita baru boleh bergerak, sebelum itu tidak boleh ada yang bergerak."

__ADS_1


"Panglima mengerti kan maksud ku ?"


Panglima Sie tersenyum dan mengangguk sambil berkata,


"Aku sungguh bangga pada mu nak, alangkah baiknya putri ku yang bodoh itu beberapa tahun yang lalu bertemu dengan mu.."


"Sehingga dia tidak perlu mengalami nasib seperti sekarang ini."


"Aku tahu kamu melakukan begitu banyak hal dan mengorbankan begitu banyak pikiran, hanya karena tidak ingin anak bodoh itu tidak bahagia dan bersedih."


"Melihat begitu banyak Pasukan Rajawali Merah didikan Pria tak berhati itu mati semua."


"Tapi kamu juga takut dan akan merasa bersalah seumur hidup bila Pasukan Golongan Hitam yang sudah menganggap mu seperti saudara sendiri itu."


"Rahasia mereka di ketahui orang, sehingga akan sangat membahayakan nyawa mereka semua."


"Makanya kamu mengajak ku berbicara berdua saja di sini.."


"Bukan begitu..maksud mu ?"


Tanya Panglima Sie sambil menatap dan menepuk pundak si Topeng Besi penuh rasa haru.


Si Topeng Besi yang rahasia hatinya di kupas tuntas oleh panglima Sie, merasa malu dan kikuk.


"Semua Budi baik mu kepada keluarga kami, entah bagaimana aku yang tua ini akan membalasnya."


"Terimalah hormat dan ucapan terimakasih dari ku anak muda.."


"Panglima harap jangan bersikap seperti ini, ini akan membuat ku merasa kikuk dan dianggap sebagai orang luar oleh Panglima."


"Semua ini hanya masalah kecil, tidak perlu dipikirkan.." ucap Si Topeng Besi.


Panglima Sie menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Bagi mu ini cuma hal kecil, tapi bagi kami sekeluarga Budi besar ini sampai matipun aku tidak bisa melupakannya."


"Bila suatu hari putri bodoh ku itu membuat mu kecewa, yang tua ini sungguh tidak ada muka untuk hidup dan punya wajah untuk bertemu dengan mu lagi."


ucap Panglima Sie sedikit sedih dan menyesal.


Dengan wajah sedikit merah dan agak Canggung, Si Topeng Besi berkata,


"Panglima Sie ada jangan menganggapnya seberat itu, begini saja ijinkan saya memanggil Panglima Xie ayah."


"Kelak apapun yang terjadi, Panglima Sie tidak perlu merasa terbebani karena aku tetap adalah anak mu."


"Terimalah hormat ku, ayah.."

__ADS_1


ucap Si Topeng Besi menjatuhkan diri berlutut dan memberi hormat tiga kali dengan menempelkan dahinya sebanyak tiga kali di atas tanah.


Panglima Sie segera membangunkannya, sambil memeluk si Topeng Besi dan berkata,


"Anak baik...anak baik...ayah sungguh berharap kelak kamu akan menjadi anak mantu ku.."


Dua butir airmata jatuh menitik dari mata tua Jendral Sie yang terkenal keras dan tegas.


Seumur hidup dia hanya dua kali mengalirkan air mata, pertama adalah saat kematian istrinya, ibu kandung Yi Yi.


Kedua adalah saat ini, dia tidak dapat lagi menahan airmata haru yang runtuh.


Mereka berdua kemudian saling berpelukan dan tertawa bersama, Panglima Sie kemudian merangkul bahu Si Topeng Besi berjalan kembali kearah Pasukan mereka.


Mereka berdua kembali disambut dengan tatapan heran dari Yi Yi.


Yi Yi sangat penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh kedua orang itu, sejak mereka berdua pergi menjauh dia terus memperhatikan gerak-gerik mereka.


Dia bahkan dengan penasaran mengerahkan pendengaran dan penglihatan nya yang tajam, untuk mencoba mendengar apa yang mereka bicarakan.


Tapi dia tidak berhasil mendengar apapun, karena pendengarannya terhalang oleh perisai tak kasat mata yang di pancarkan oleh Si Topeng Besi.


Sehingga dia hanya bisa melihat dan menebak dengan penasaran tingkah laku kedua orang itu.


Si Topeng Besi yang melihat tatapan penuh penasaran Yi Yi dia hanya tersenyum lembut mengangguk kecil.


Kemudian meninggalkan tempat tersebut, kembali ke arah Pasukannya yang bergerak meninggalkan tempat itu.


Si Topeng Besi memimpin mereka kembali kedalam hutan.


Semua gerak-gerik Si Topeng Besi dan Panglima Sie, bukan hanya di amati oleh Yi Yi saja.


Beberapa Komandan Pasukan Rajawali Merah juga melakukan pengamatan dari menara pengawas yang terletak di antara benteng kota Shouchun.


Mereka mengangguk senang melihat para pendekar meninggalkan rombongan pasukan Panglima Sie.


Setelah kepergian Si Topeng Besi, Yi Yi langsung bertanya kepada ayahnya dan bertanya,


"Ayah sebenarnya apa yang kalian bicarakan di sana ?"


"Kenapa harus sampai menjauhi semua orang ?"


Panglima Sie sambil tertawa senang berkata,


"Tidak ada yang penting hanya obrolan diantara pria."


Kemudian Panglima Sie bergerak pergi melakukan inspeksi, atas tenda tenda militer yang di buat oleh pasukan nya.

__ADS_1


Yi Yi berdecak kesal, karena jawaban ngambang yang diberikan oleh ayahnya.


Saat pertengahan malam, terlihat dari pintu gerbang Shouchun, berbaris keluar sekelompok pasukan, yang mengendap-endap bergerak menuju perkemahan Pasukan panglima Sie.


__ADS_2