LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM

LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM
PEWARIS ILMU XUE YEN,


__ADS_3

"Di satu sisi aku sadar, dia berlatih dengan semangat agar kelak dia bisa melindungi ku .


Selain itu dia ingin menjadi seorang yang sukses dan terpandang."


"Sehingga dia bisa mendapatkan restu dari ayahku, seharusnya aku bangga dan bahagia memiliki kekasih yang seperti dirinya."


"Tetapi di sisi lain, hati ku menjadi sedih.


aku merasa sangat kesepian dan semakin jauh dan tertinggal olehnya."


"Aku merasa keberadaan ku hanya menjadi beban bagi kesuksesan nya." Sambil bercerita sepasang mata Yi Yi yang indah mulai berkaca-kaca.


"Aku bahkan sering bertanya-tanya pada diriku sendiri, sebenarnya kehidupan seperti apa yang kuinginkan?"


"Jawaban nya ternyata sangat sederhana, asal bisa selalu berada disisinya, menjalani suka duka bersama aku sudah cukup puas dan bahagia."


"Seberapa susah dan menderita aku tidak takut dan tidak perduli, asal ada dirinya yang selalu dengan setia menemani ku itu sudah cukup, aku akan hidup dengan sangat bahagia tanpa penyesalan."


Xue Yen langsung meraih kepala Yi Yi kedalam pelukannya, dia tidak kuat melihat air mata Yi Yi yang bercucuran membasahi wajahnya yang putih dan halus.


"Apakah aku terlalu naif dan bodoh guru? apakah aku terlalu egois dan kurang mensyukuri ? atau aku yang terlalu egois kurang pengertian dan terlalu banyak menuntut..? katakan padaku guru..."


Yi Yi menangis tersedu-sedu dalam pelukan Xue Yen, akhirnya dia menemukan tempat untuk bercerita dan mengeluarkan semua beban perasaan yang menghimpitnya selama ini.


Xue Yen terus mengelus kepala Yi Yi, perlahan-lahan berkata,


"Kamu tidak salah muridku, yang salah ada situasi dan keadaan yang membuat kamu dan Bun Houw memiliki pandangan yang berbeda."


"Bun Houw adalah pria yang mengutamakan cita-cita, karir dan masa depan, disamping itu dia juga memerlukan pengertian dukungan dari cinta dari wanita yang di cintai nya."


"Kamu harus menyadarinya dan mendukungnya, bila kamu ingin dia berubah lebih baik kamu yang berubah." ucap Xue Yen memberi nasehat.


"Atau kamu bisa meninggalkan Bun Houw, mencari pasangan lain yang bisa memenuhi harapan dan keinginan mu."


"Guru yakin diluar sana masih banyak pria yang memiliki sifat akan mengorbankan dunia demi kebahagian wanita yang di cintai nya."


Mendengar penjelasan guru nya, hati Yi Yi mulai terasa ringan dan dia juga sudah memutuskan akan mendukung dan lebih pengertian terhadap Bun Houw.


Dia tidak akan merubah Bun Houw, dia sendiri yang akan berubah demi Bun Houw.

__ADS_1


Yi Yi melepaskan pelukan guru Xue Yen, sambil tersenyum dia berkata dengan lembut,


"Aku tahu pria yang bersedia kehilangan dunia demi wanita yang dicintainya, bukankah pria itu adalah suami guru."


Xue Yen tersenyum senang tapi sesaat kemudian wajahnya berubah kesal,


"Kamu benar sebagian, pria yang bersedia mengorbankan dunia bahkan nyawanya itu benar suamiku, tapi wanita yang beruntung itu bukan aku."


Yi Yi menatap bingung, kemudian tersenyum dan berkata,


"Maksud guru, guru cemburu pada bibi Siau Ching. Tapi bukannya aku lebih sering melihat suami guru tidur di pondok guru?"


"Kamu salah lagi, kalau Siau Ching aku tentu akan menerima nya dengan senang hati." ucap Xue Yen geram.


"Maksud guru? tanya Yi Yi bingung..."


Xue Yen sepasang matanya berapi-api tubuhnya mengeluarkan hawa dingin sepasang tangannya terkepal kuat.


Sambil menggerakkan gigi Xue Yen berkata,


"Wanita itu adalah Sundal Betina yang menjadi biksuni dan tinggal di biara Dewi Kwan Im diluar kota Lu Jiang."


Tiba-tiba terdengar suara siulan riang menuju dapur, sesaat kemudian yang muncul adalah Lu Sun.


Dia sempat mendengar Xue Yen menyuruh Yi Yi menampar seseorang tapi dia tidak mendengar siapa orang yang hendak ditampar itu.


Dengan Kepo dia berjalan mendekati Xue Yen bertanya,


"Sayang kamu ingin menampar siapa? tak perlu meminta Yi Yi sekarang juga aku akan membantumu menamparnya."


Dengan geram Xue Yen berkata,


"Yang mau ku tampar adalah Sundal Betina bernama Sun Ting apa kamu tega..!?"


Lu Sun nyengir kuda dan menjawab,


"Sayang kenapa kamu begitu membencinya, dia kan tidak salah dengan mu? lagipula hidupnya juga sangat kasihan, seorang putri harus menjadi biksuni hidup seorang diri di biara kecil pinggir kota."


"Benar, saat ini aku berubah pikiran yang paling ingin ku tampar adalah kamu...!"

__ADS_1


PLAAKK...! PLAAKKK...! PLAAKK..!


ADUHH..! ADUHH..! ADUHHHH...!


"Tamparan pertama karena berani membela sundal itu dan masih berani bertanya salah apa Sundal itu dengan ku, merangkul-rangkul suami orang didepan umum masih berani bertanya salah apa denganku."


"Tamparan kedua karena mengasihani Sundal Betina yang katanya kesepian itu. Apa kamu berniat pergi menemaninya bila dia kesepian disana. Sekalian aja bikin adik buat Lu Fan dasar tidak tahu malu."


"Tamparan ketiga adalah sudah punya dua istri disamping, dalam tidur masih berani mimpiin wanita ketiga dan memanggil-manggil nama Sundal Betina itu."


Lu Sun memegang kepala belakang nya yang terasa berdenyut-denyut dan agak kebas terkena tamparan istrinya Xue Yen.


Kemudian dia segera menggandeng tangan Istrinya yang masih belum puas dan ingin menamparnya sambil berkata,


"Jangan disini sayang kita ke kamar saja memalukan dilihat dan didengar anak-anak."


"Biarin biar mereka semua tahu, sifat asli bapaknya yang tidak tahu malu dan genit ini, istri sudah dua tidur pun masih memanggil nama Sundal Betina itu."


Mulut Xue Yen mengoceh tapi dia tidak menolak ketika Lu Sun menggandengnya menuju kamar, dia hanya berpesan pada Yi Yi agar sehabis makan siang menunggu dia disini.


Lu Fan yang kebetulan lewat sempat mendengar dan melihat bapaknya disiksa Xue Yen dia tertawa sampai terbungkuk-bungkuk.


Sejak saat itu Yi Yi mulai berlatih di bawah bimbingan Xue Yen, dia mewarisi ilmu 9 bulan sebagai dasar dan ilmu meringankan tubuh Zou Sang Fei ( berjalan diatas udara)


setingkat lebih tinggi dari ilmu Wu Ying Sui Sang Piau milik Lu Sun.


Sedangkan jurus cakar tulang putih dan tapak dan pedang es abadi, baru akan diwariskan bila kedua macam ilmu dasar itu Yi Yi kuasai dengan matang.


Begitu lah kisah Yi Yi menutup ceritanya, tentu Yi Yi menutupi masalah curhatnya bersama Xue Yen.


Bun Houw melihat Yi Yi kini terlihat lebih cantik, kulitnya menjadi lebih putih halus juga bercahaya.


Bun Houw menatap Yi Yi dengan lembut berkata,


Yi Yi terimakasih ya, bila tidak ada kamu malam ini aku pasti mati.


Yi Yi sambil tersenyum lembut berkata,


"Bun Houw ke ke diantara kita apa masih perlu mengucapkan kata seperti itu seperti orang asing saja."

__ADS_1


"Atau Bun Houw ke ke benar sudah "menganggap Yi Yi sebagai orang asing, dan tidak menghendaki Yi Yi lagi?" ucap Yi Yi dengan kepala tertunduk sedih.


__ADS_2