
Tapi saat angin lembut berhembus, tebing tersebut hancur menjadi debu.
Koai Lau Jen sangat terkejut, untung dari awal dia selalu menghindar, bila tidak sudah dapat di pastikan yang menjadi tepung bukan tebing itu tapi dirinya lah yang akan menggantikan tebing itu jadi tepung.
Fu San tidak memperdulikan keterkejutan Fu Sen (Koai Lau Jen) dia hanya fokus bertanya,
dengan tubuh gemetar,
"Adik seperguruan, kamu tidak menipu ku kan ? benarkah dia Fu Lang anak ku ?"
Koai Lau Jen menjawab,
"Mana saya punya nyali menipumu, dia benar Fu Lang anak mu ."
"Lihat lah tanda di punggungnya bila kamu tidak percaya, dia benar anak mu."
"Musuh mu sengaja meletakkan mayat bayi orang lain yang sudah mati, di sisi mayat Ling Mei istri mu."
"Agar kamu bersedih sampai mati, sedangkan anak mu yang masih hidup dia pelihara untuk di siksa melampiaskan dendamnya pada mu."
Mendengar penjelasan kebohongan dari Fu Sen tanpa pikir panjang, karena otaknya memang terganggu akibat terlalu sedih memikirkan anak istri.
Fu San langsung memeluk Yue Han dan menangis tersedu-sedu seperti anak kecil, sambil terus bergumam,
"Fu Lang...Fu Lang... anak ku...oh anak ku...!"
Kalau saja Fu San otaknya sedang tidak terganggu harusnya dia curiga.
Usia nya sendiri sudah ribuan tahun seperti Fu Su kakak seperguruannya yang dibunuh Shi Ma Ong tempo hari.
Bila yang di hadapan nya benar adalah Fu Lang, pertama anaknya memiliki ilmu kultivasi keabadian sehingga awet muda.
Kedua anaknya adalah seorang kakek-kakek yang juga punya kultivasi keabadian tingkat tinggi.
Ketiga tentu anaknya sudah tinggal tulang belulang karena mati termakan usia karena tidak memiliki kemampuan.
Sedangkan kenyataan di hadapannya saat ini, semua bertolak belakang,
Pertama Fu Lang hanya orang biasa, meski tubuhnya memiliki kualitas struktur tulang dan kecerdasan berlatih ilmu silat yang sangat baik.
Tapi kenyataannya dia tidak ada yang melatihnya sama sekali.
Kedua Fu Lang juga masih sangat muda untuk menjadi anak Fu San sangat tidak cocok.
Sebaliknya Yi Han yang sejak kecil tidak memiliki orang tua hanya hidup bersama Yi Dao kakaknya saja.
Begitu mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari Fu San, dia sangat terharu dan menerimanya dengan penuh kebahagian.
__ADS_1
Dia membalas pelukan Fu San dengan erat sambil memanggil,
"Ayah...!"
dengan suara yang sangat tulus, datang dari kerinduan nya akan kasih sayang orang tua.
Fu San yang bisa merasakan getaran ketulusan dari anaknya, dia pun menyahut.
"Ya... anak ku...anak ku .. tersayang ini ayah...ini ayah... mulai saat ini, ayah akan menjaga dan mewariskan semua ilmu ayah pada mu...agar tidak ada yang berani menggangu dan menghina mu lagi."
Yi Han memeluk erat dan berkata,
"Aku juga akan menyayangi dan merawat ayah, menjalankan bakti ku pada ayah."
"Mulai sekarang aku lah yang akan menjaga dan merawat ayah."
ucap Yi Han tulus.
Fu San tertawa terbahak-bahak dan berkata,
"Adik seperguruan kamu jangan menyesal dan iri ya ? lihat anak ku sungguh baik dan berbakti."
"Tapi bagaimanapun aku harus ucapkan terima kasih banyak pada mu, kamu bukan hanya membebaskan aku, tapi juga mempertemukan kami."
Koai Lau Jen sambil tersenyum penuh kepalsuan berkata,
"Kakak aku sudah menemukan siapa dalang di balik semua ini, dia kini menggunakan julukan Pendekar Suling Hitam Wu Song,
"Ilmu yang tadi ku gunakan untuk menghindari serangan mu adalah ilmu yang ku curi belajar darinya."
Fu San melepaskan pelukannya dari Yi Han dan berkata,
"Aku tadi hanya bermain-main dengan mu, coba kamu bersiap-siap lihat aku masih bisa menangkap mu atau tidak bila aku serius."
Koai Lau Jen mengangguk dan berkata,
"Baiklah kak kita coba main-main lagi sehingga kamu tidak kaget saat bertemu musuh mu."
Fu San tertawa terbahak-bahak dan berkata,
"Boleh-boleh mari kita coba, berhati-hati lah aku akan mulai."
Setelah menyelesaikan kata-katanya tubuh Fu San menghilang dari tempatnya berdiri bersama Yi Han tadi.
Langsung muncul di dekat Koai Lau Jen, saat cengkraman tangan Fu San datang, Koai Lau Jen langsung menghilang dari tempatnya muncul ditempat lain.
Tapi alangkah kagetnya saat dia muncul Fu San sudah tersenyum menyeringai di hadapannya.
__ADS_1
Sebelum dia sempat menghilang lagi tangan kaki nya telah terpegang erat oleh 10 bayangan Fu San yang membelah diri.
Memegang kaki tangan dan kepalanya dengan erat, sedang Fu San sendiri mengulurkan tangannya sambil tersenyum dingin mengelus-elus dada kiri Fu Sen dengan lembut.
Fu Sen terbelalak ketakutan dan berteriak,
"Kakak ampun...! Jangan kak.. aku masih ingin hidup... jangan kak..!"
Fu San sambil tertawa mengetuk jidat Fu Sen adik seperguruannya dan berkata,
"Kamu ini apa-apa an sudah begini tua masih aja penakut dan pengecut."
"Kamu sudah berjasa besar pada ku, mana mungkin aku membunuh mu."
ucap Fu San sambil tertawa dan melepaskan Fu Sen (Koai Lau Jen).
Bayangan tubuhnya yang 10 orang tadi hilang kembali menyatu ketubuhnya.
"Ayo ada ilmu atau trik apa lagi tunjukkan pada ku ?"
ucap Fu San tersenyum senang, karena jiwa haus pertarungan nya muncul.
Koai Lau Jen merapal pelindung Im Yang Sen Kung yang di tunjang oleh kekuatan 9 bulan dan 9 matahari.
Membentuk sebuah kubah bercahaya merah dan biru dengan bagian atas tertutup sebuah gambar Pat kwa.
Fu San hanya tersenyum dan melesat kedepan saat tangannya menyentuh pelindung cahaya yang di buat Koai Lau Jen.
Dengan mudah Fu San melesakkan telapak tangannya menembus perisai pelindung. Kemudian langsung menyentuh dan mengelus-elus dada kiri Fu Sen.
Mencengkram baju di dadanya kemudian melempar tubuh Fu Sen hingga jatuh terlentang di atas rumput dengan sangat mudah tanpa perlawanan.
Koai Lau Jen di samping terkejut juga girang bukan main, dengan bantuan kakak seperguruan nya dia yakin.
Kakak seperguruan nya pasti bisa menandingi Wu Song.
Koai Lau Jen melompat berdiri dan memuji-muji kehebatan Fu San.
Fu San tidak terlalu perduli dia menggandeng tangan Yi Han dan berkata,
"Cepat siapkan kamar untuk kami, mengenai Pendekar Suling Hitam itu cepat atau lambat aku pasti akan pergi mencarinya."
Koai Lau Jen membawa mereka menuju sebuah kamar sederhana yang luas nyaman dan berhawa sejuk.
Di sana ada dua kasur, sebuah meja, 4 kursi dan sebuah lemari baju,
Juga ada kamar mandi pribadi di ruangan samping.
__ADS_1
Lengkap dengan dua tong besar berisi air hangat.
Kamar itu sebenarnya adalah milik Pai Mei Lau Jen, sekarang di siapkan buat Fu San dan Yi Han.