
Sepasang Naga Mas yang tercipta dari energi 9 matahari, sirna begitu bertemu Tapak Ouwyang Kok. Dan terus meluncur kearah Wu Song.
Biasanya sepasang Naga dari jurus Kang Lung You Hui akan terpental, kemudian menyerang dengan kekuatan ganda.
Tapi sekali ini, sangat berbeda Sepasang Naga tidak kuat menyambut benturan Tapak Ouwyang Kok.
Sehingga langsung sirna tak berbekas, dengan ganas sepasang Tapak Ouwyang Kok terus melaju dengan kecepatan tinggi menuju Wu Song.
Tapi Wu Song dapat membaca arah pergerakannya, Wu Song menghilang dari tempatnya berdiri, Wu Song menggunakan 72 Langkah Tanpa Bayangan.
Tubuhnya tiba-tiba muncul diatas punggung Ouwyang Kok, memberikan puluhan tusukan mematikan di jalan darah yang terletak diipunggung Ouwyang Kok.
Ouwyang Kok langsung muntah darah dan menghantam ke atas tanah, sedangkan Wu Song terpental di dorong oleh hawa aneh tak kasat mata yang melindungi tubuh Ouwyang Kok.
Ouwyang Kok setelah membentur tanah langsung, memanfaatkan tenaga pantulan itu untuk melompat kedepan.
Tubuhnya berlompatan seperti seekor katak dengan sangat cepat melayang meninggalkan arena pertempuran.
Lompatannya sangat cepat dan jauh, dalam sekejap mata sudah hilang dari lokasi pertempuran.
Wu Song ingin mengejarnya, karena Ouwyang Kok menggunakan suling sebagai senjata, Wu Song curiga orang yang melakukan perkosaan di mana-mana.
Membuat dirinya menanggung nama jelek adalah Ouwyang Kok, Wu Song ingin menangkapnya untuk diinterogasi.
Tapi Wu Song sedikit ragu meninggalkan Lu Ping, Wu Song takut bila pemerkosa itu bukan Ouwyang Kok.
Dan masih ada orang lain yang berkeliaran, kalau sampai Lu Ping terjadi apa-apa, dia akan menyesal seumur hidup.
Dengan pertimbangan ini, Wu Song batal mengejar Ouwyang Kok.
Keempat dayang wanita yang berbaju putih dan mengenakan cadar, juga sudah tidak terlihat sama sekali.
Mereka berempat kelihatan nya sudah kabur duluan saat melihat Ouwyang Kok tidak sanggup menghadapi Wu Song.
Wu Song menghampiri Lu Ping yang sedang berdiri bersama Li Se Se dan Li San San.
Li Se Se dan Li San San langsung membungkuk memberi hormat pada
Wu Song. Sambil berkata.
"Terimakasih banyak atas pertolongan tuan Pendekar Muda."
"Bila tidak ada anda, entah bagaimana nasib kami bertiga bila terjatuh dalam tangan penjahat itu."
Wu Song membalas penghormatan mereka dan berkata,
"Nona berdua terlalu sungkan, aku dan istriku hanya kebetulan lewat tempat ini, dan secara kebetulan berhasil mengusir pemuda itu saja."
__ADS_1
Kedua gadis muda itu terbelalak tak percaya secara tanpa sadar mereka serentak berkata,
"Tuan penolong sudah punya istri.?"
Kemudian mereka berdua menyadari kesalahan mereka.
Mereka segera terdiam tertunduk dengan wajah merah.
Selain malu mereka juga sedikit merasa kecewa, pria setampan dan sehebat Wu Song kenapa begitu cepat sudah menikah.
Mereka berdua juga sedikit iri dengan wanita yang menjadi istri Wu Song.
Melihat Wu Song yang kemana-mana selalu bersama Lu Ping.
Mereka sadar Lu Ping yang telah menolong Li San San tadi pastilah istri Wu Song.
Mereka berpikir alangkah bahagianya bila bisa seperti Lu Ping.
Hidup berdampingan dengan pria tampan dan sakti seperti Wu Song.
Tapi mereka sadar itu semua cuma angan-angan saja yang tidak mungkin kesampaian.
Setelah mengucapkan terimakasih dan berbasa-basi sejenak, Wu Song dan Lu Ping pun berpisah dengan ketiga gadis cantik itu.
Lu Ping kembali menggoda Wu Song,
apa kamu menyadari lirikan dan tatapan mereka saat melihat mu.?"
Wu Song sambil tertawa canggung mencubit ujung hidung Lu Ping dengan lembut dia berkata,
"Mereka suka atau tidak itu urusan mereka dan aku tidak ingin tahu, bagiku aku cuma menyukai 2 wanita dalam hidupku."
"Pertama adalah kakak seperguruan ku yang cantik melebihi bidadari di langit."
"Kedua adalah Ceng Ceng yang telah pergi duluan." ucap Wu Song sedikit sedih ketika mengucapkan nama Ceng Ceng.
Lu Ping yang menyadari perubahan suaminya,
Segera mengandeng lengannya dan berkata,
"Jangan bersedih lagi Ceng Ceng sudah tenang di sana, karena sudah menitipkan diri mu padaku."
Wu Song menunduk menatap kearah Lu Ping membelai kepala nya sambil mengangguk mengiyakan.
Kemudian mereka berdua bergandengan tangan meninggalkan lokasi tersebut.
Wu Song dan Lu Ping melanjutkan jalan-jalan mereka mengelilingi kota Jiang Nan yang indah.
__ADS_1
Menjelang sore mulai banyak pedagang berjualan kue bulan di pinggir jalan.
Wu Song membeli beberapa kantong yang terdiri dari berbagai rasa.
Karena dia tahu Lu Ping paling suka dengan makanan camilan seperti itu.
Dulu di lembah kalau ada perayaan kue Bulan, Ibu Xue Yen suka membuatnya untuk di nikmati bersama di bawah cahaya bulan yang terang.
Lu Ping selalu berebut dengan Lu Fan yang makannya banyak dan cepat, sedangkan Lu Ping yang makannya lambat selalu kehabisan.
Wu Song lah yang selalu menyimpan kan beberapa biji kue bulan khusus buat Lu Ping.
Mengingat masa lalu mereka Wu Song tersenyum sendiri.
Lu Ping yang berjalan sambil makan melirik kearah Wu Song dan bertanya
"kenapa senyum-senyum sendiri.? teringat apa? teringat sama kedua gadis imut tadi sore ya?"
Wu Song menoleh kearah Lu Ping mencubit hidung nya dengan lembut dia menjawab,
"Bisa teringat apalagi yang bisa membuat ku tersenyum selain tentang kita."
"Aku teringat kamu dulu paling suka makan kue bulan ini dan selalu berebut dengan Lu Fan."
"Ya untungnya ada kamu, yang selalu perhatian dengan ku, dan selalu menyimpan beberapa biji kue bulan untuk ku secara diam-diam." ucap Lu Ping cepat dan tersenyum bahagia.
"Aku jadi menyesal Song ke ke, kenapa aku dulu begitu bodoh dan jahat bukan hanya menolak tapi juga menyakiti perasaan mu, ucap Lu Ping sedih terkenang masa lalu.
Wu Song menarik Lu Ping kedalam pelukannya dan berbisik,
"Jangan bersedih sayang, kalau kamu tidak begitu, aku tentu masih berkeras dengan prinsip yang salah tidak bersedia mempelajari ilmu silat."
Setelah puas melihat keramaian Wu Song dan Lu Ping kembali ke penginapan beristirahat sejenak.
Kemudian malamnya saat jalanan mulai sepi, Wu Song dan Lu Ping bersembunyi di puncak sebuah menara Pagoda yang tinggi.
Pagoda tersebut di bangun oleh masyarakat Jiang Nan secara bergotongroyong, sebagai tempat sembahyang dan pemujaan kepada Dewa-dewi dan Kaisar langit.
Mereka berdua bersembunyi dalam kegelapan mengamati keterangan kota Jiang Nan di malam hari.
Terutama Wu Song yang memiliki penglihatan yang tajam dan pendengaran yang sangat peka.
Dia memasang telinga dan mengedarkan pandangannya ke segala arah, mengawasi hal-hal yang mencurigakan di sekitar kota Jiang Nan.
Akhirnya yang ditunggu-tunggu Wu Song muncul, Wu Song menangkap ada pergerakan yang sangat halus di sebelah timur jauh.
Wu Song memberi kode pada Lu Ping agar mengikutinya, mereka berdua melesat dengan ringan berlompatan diatas genting menuju kearah timur.
__ADS_1