LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM

LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM
NENEK YANG,


__ADS_3

Yi Yi sangat terkejut melihat penolongnya muntah darah, kelihatannya mengalami luka dalam cukup serius.


"Tuan anda tidak apa-apa?" tanya Yi Yi khawatir dan berdiri di samping pria bertopeng itu.


Pria bertopeng menghapus sisa noda darah di bibirnya, Kemudian tersenyum lembut dan bertanya,


"Yi Yi bagaimana keadaan mu?"


Yi Yi terkejut dan melangkah mundur satu langkah ke belakang dan balik bertanya,


"Kamu siapa? kenapa bisa tahu nama ku?"


Pria bertopeng mulutnya tersenyum lembut, tapi di dalam hati mengutuk kebodohan nya sendiri,


Yyang kelepasan bicara menimbulkan kecurigaan Yi Yi.


Pria bertopeng menatap Yi Yi dengan tatapan lembut dan berkata,


"Kelihatannya kamu baik-baik saja... sampai jumpa."


Pria bertopeng menjejakkan kaki nya dan dia terbang keatas sebuah pedang muncul menyangga kakinya.


Kemudian membawanya pergi meninggalkan Yi Yi yang berdiri bengong, menyaksikan kepergian penoolngnya itu.


Yang jelas pria itu mengenalnya dengan baik, dan suaranya juga sangat familiar.


Tapi siapa dia Yi Yi tidak bisa menebak dan punya kenalan dengan ciri-ciri seperti pria itu.


Yi Yi akhirnya menghela nafas panjang kemudian masuk kedalam rumah.


Mencoba menenangkan pikiran dan beristirahat, agar kondisi janinnya bisa normal kembali.


Pria bertopeng besi tidak pergi jauh, dia kembali ke gua yang ada diseberang bukit tempat tinggal Yi Yi.


Dia duduk bermeditasi diatas lempengan batu di depan gua, tujuh pedang warna-warni kembali muncul mengelilingi tubuhnya dan berputar-putar.


Sesaat pria itu larut dalam meditasi, wajah yang tidak mengenakkan topeng, tertimpa cahaya matahari terlihat sangat elok parasnya.


Sepasang matanya yang terpejam di hiasi bulu mata yang lentik panjang, dengan sepasang alis yang hitam tebal berbentuk golok.


Ditambah dengan kulit wajah yang putih halus, hidung mancung bibir merah segar membuatnya terlihat luar biasa tampan.


Setelah bermeditasi selama 3 hari, akhirnya dia membuka matanya perlahan-lahan berdiri. Dan berkelebat pergi meninggalkan tempat itu.


Sementara Yi Yi beberapa hari ini kurang tenang, dia selalu teringat senyum pria bertopeng besi yang sangat hangat dan lembut.


Yi Yi sangat penasaran dan terus mengingat-ingat siapa kenalannya, yang memiliki penampilan dan kesaktian seperti pria itu.


Tapi semakin berpikir, semakin galau,

__ADS_1


dia tetap tidak bisa mengingat siapa pria tersebut.


Terkadang Yi Yi memaki diri sendiri yang memikirkan pria lain, padahal dia sudah menjadi milik Bun Houw, bahkan kini sedang mengandung anaknya.


Tapi setiap teringat Bun Houw, Yi Yi menjadi murung dan sedih, tidak jarang dia duduk sendirian kesepian merangkul lutut dengan wajah basah airmata.


Semakin ingin dia melupakan kedua pria tersebut, bayangan mereka berdua semakin sering muncul di depan matanya.


Untuk menghilangkan pikiran tidak tenangnya Yi Yi mengumpulkan hasil panen kebun kecilnya.


Untuk dia bawa ke pasar terdekat dijual untuk ditukar bahan masakan dan makanan.


Saat menuruni bukit Yi Yi melihat seorang Nenek tua terbaring lemas, bersenderkan sebuah pohon bibirnya terlihat kering dan pucat.


Yi Yi buru-buru menolongnya dan memberikan air minum dari kantung kulit miliknya kepada nenek itu.


Setelah minum kondisi nenek tersebut mulai terlihat mendingan, dia menatap Yi Yi dengan wajah linglung dan bertanya,


"Nona cantik kamu siapa? Dewi yang turun dari langit kah?"


Yi Yi tersenyum dan berkata,


"Aku cuma orang biasa nek, aku kebetulan tinggal di atas bukit sana, lagi ingin menjual sedikit hasil panen ku ke pasar."


"Untuk ditukar dengan bahan makanan, secara kebetulan menemukan nenek terbaring di sini." ucap Yi Yi memberi penjelasan.


"Nenek sendiri kenapa bisa berada di sini,? dimana tempat tinggal nenek?"


Nenek itu menghela nafas panjang kemudian berkata,


"Aku hidup sebatang kara, putra ku berangkat ke medan perang beberapa tahun lalu, sejak itu tidak pernah pulang lagi."


"Aku kemudian diusir oleh menantu ku, yang telah menikah dengan pria lain." ucap Nenek itu sedih.


Yi Yi merasa kasihan dia kemudian meninggalkan sayuran yang di bawanya ditempat tersebut dan memapah nenek tersebut ke pondoknya.


Setelah sampai di pondok nya Yi Yi berkata,


"Nenek sebatang kara tidak punya tujuan, sedangkan aku hidup sendirian disini tidak punya teman."


"Bagaimana bila nenek ikut dengan ku tinggal di sini hitung-hitung menemani ku."


"Pondok ku meski kecil tapi memiliki dua kamar, bagaimana nek?"


Nenek itu menggeleng dan berkata,


"Aku sudah tua keberadaan ku di sini nanti akan merepotkan mu, nona yang baik hati."


"Terimakasih kasih atas tawaran mu, tapi aku tidak bisa memanfaatkan kebaikan mu untuk membuat mu repot." ucap Nenek itu sungkan.

__ADS_1


Yi Yi menyentuh tangan nenek itu dan berkata,


"Nenek tinggallah di sini, keberadaan nenek tidak akan merepotkan aku, justru aku sangat senang punya teman. Dan nenek juga bisa membantu ku sehingga aku tidak terlalu repot bekerja sendirian."


"Intinya keberadaan nenek disini tidak akan merepotkan justru kita bisa saling jaga."


ucap Yi Yi mencoba meyakinkan nenek itu dengan tulus.


Nenek itu kemudian mengangguk dan memegang tangan Yi Yi dengan lembut dan berkata,


"Kalau begitu mulai sekarang aku akan melayani mu disini, nona muda."


Yi Yi tersenyum dan tidak menolaknya, agar nenek itu merasa nyaman.


Yi Yi kemudian berkata,


"Nenek panggil saja aku Yi Yi."


Nenek itu tersenyum gembira dan berkata,


"Nona Yi Yi panggil saja saya nenek Yang, seperti yang biasa di panggil orang di desa ku dulu."


"Baik,. nenek Yang tunggu di sini sebentar, ya,"


ucap Yi Yi kemudian pergi ke dapur mengambil makanan.


Tak lama kemudian Yi Yi kembali dengan semangkuk bubur dan beberapa macam sayur buat nenek Yang.


Yi Yi sambil tersenyum menyodorkan mangkuk itu kepada nenek yang,


"Makanlah nek biar cepat pulih tenaganya, jadi bisa membantu ku."


Yi Yi sengaja berkata demikian agar Nenek Yang tidak menolak pemberian makanan darinya karena sungkan.


"Anak baik nenek tahu maksud mu, baiklah nenek akan memakannya." ucap Nenek terharu sambil menerima mangkuk berisi bubur itu.


"Nona Yi Yi kamusungguh sangat baik hati, pria yang bisa menjadi suami mu sungguh beruntung." ucap Nenek Yang.


Kata-kata Nenek Yang membuat Yi Yi menjadi murung dan sedih, airmata tanpa sadar jatuh menetes.


Nenek Yang sangat terkejut dan cepat-cepat berkata,


"Maafkan ucapan nenek barusan, yang membuat mu teringat hal-hal kurang menyenangkan."


Yi Yi menghapus airmatanya dan berusaha tersenyum meski masih terlihat sedih, Yi Yi berkata.


"Tidak apa-apa Nek, nenek Yang teruskan saja makannya. Aku mau pergi sebentar mengurus hasil paman ku ke pasar."


Yi Yi kemudian langsung berkelebat pergi sambil menahan air mata yang runtuh.

__ADS_1


__ADS_2