
"Sayang apa benar-benar tidak punya cara untuk menemukan Se Se kembali? kasihan Se Se seorang diri ada di tempat asin." ucap Lu Ping menatap Wu Song sedikit sedih.
Wu Song menatap Lu Ping dengan penuh rasa rindu, memegang tangan Lu Ping dan menjawab,
"Sayang bukan aku tidak mau, tapi itu sangat sulit, portal dimensi itu sangat sulit di temukan."
"Dalam 100 tahun hanya muncul sekali, dan saat kita memasukinya kita juga tidak tahu akan di lempar kemana, bisa bersama, bisa terpisah."
"Sebenarnya saat kami akan memasuki portal dimensi kami juga sadar hal seperti sekarang bisa saja terjadi." ucap Lu Sun sambil menghela nafas panjang.
Lu Ping sadar Wu Song memang tidak punya pilihan lain selain mencobanya, karena Wu Song sangat ingin kembali ke sisinya.
Dan Se Se tidak punya pilihan lain selain mengikuti pilihan Wu Song. karena dia tentu tidak ingin berpisah dari Wu Song.
Tapi kenyataan berkata lain mungkin ini semua adalah takdir, kini hanya bisa menunggu keberuntungan Se Se saja.
Bila masih berjodoh tentu mereka bisa bersama-sama kembali.
Wu Song menatap Lu Ping dan berkata, "Sayang lebih baik kita segera menemui tabib Hua, memeriksa kondisi kita berdua, sesuai rencana awal kedatangan kita kesini."
Lu Ping menunduk malu wajahnya menjadi merah, dan berkata.
"Tabib Hua sudah memeriksa kondisi ku, mengobati ku bukan tidak mungkin tapi memerlukan sejenis tumbuhan yang memilki sifat Yang (Panas) yang tinggi."
"Dan tumbuhan itu tidak ada di sini, tabib Hua juga hanya pernah mendengar nya tapi tidak pernah melihatnya."
Wu Song mengerutkan keningnya berpikir, sesaat kemudian dia kembali berkata,
"Dalam perjalanan pulang ke sini saya kebetulan menemukan sejenis tumbuhan aneh, siapa tahu tumbuhan itu yang di maksud tabib Hua."
"Ayo sekarang juga kita pergi ke pondok tabib Hua, sekalian mengantar Tin Tin pulang."ucap Lu Sun penuh harap sambil menarik tangan Lu Ping untuk pergi mencari tabib Hua.
Wu Song sudah tidak sabar begitu keluar dari pondok Lu Ping, dia langsung merangkul pinggang Lu Ping dan mengangkat Tin Tin duduk di bahunya.
Lalu dia membawa mereka berdua terbang menuju pondok kakek Hua, Tin Tin sangat terkejut tapi senang dan tertawa-tawa.
Lu Ping menoleh melihat suaminya penuh rasa kagum.
Dulu dia meremehkan Wu Song yang menolak belajar ilmu silat, tapi kini Wu Song mungkin telah melampaui kemampuan Ayahnya dan Lu Fan adiknya.
__ADS_1
Dari cara terbang Wu Song, yang bisa terbang begitu saja sesuka hati, seperti tidak memerlukan rapalan maupun pengerahan Chi.
Lu Ping dapat merasakan Wu Song di alam lain pasti mengalami peningkatan kemampuan yang luar biasa.
Dalam sekejap mata mereka telah tiba di pondok tabib Hua, dan mendarat dengan ringan di belakang pondok tabib Hua.
Di mana tabib Hua terlihat sedang sibuk menjemur daun obat yang baru dia petik tadi pagi saat Wu Song datang.
Tabib Hua agak terkejut saat ada bayangan besar terbang dari atas kebawah dan mendarat ringan di dekatnya.
Saat menyadari bahwa yang mendarat itu adalah Wu Song Lu Ping dan Tin Tin cucunya.
Kakek Hua sedikit bernafas lega.
"Rupanya kalian, tadi kupikir burung Garuda raksasa ingin menerkam ku." ucap Tabib Hua sambil tertawa.
Kemudian dia melihat Wu Song dan bertanya dengan heran,
" Tuan muda Song akhirnya kamu kembali, kemana saja kamu selama ini, tahukah kamu istri mu ini menangis siang malam karena mu."
"Kakek...!" ucap Lu Ping dengan wajah merah.
"Ha..ha..ha..ha...!"
Tapi sesaat kemudian tawanya berhenti dan memandang Wu Song kemudian bertanya,
"Bagaimana dengan nona Se Se, apa dia sudah meninggal sehingga tidak terlihat bersama mu."
Wu Song menghela nafas sedih kemudian menjawab,
"Tidak kek Se Se baik-baik saja bahkan sangat sehat, hanya saja kami terpisah saat memasuki portal dimensi."
Lalu Wu Song mulai menceritakan semua pengalamannya saat terdampar di neraka perut bumi sampai menemukan portal dimensi bersama Se Se.
Tabib Hua mengangguk dan berkata,
"Dari cerita mu, kukira guru mu Hua Thian yang berada di neraka perut bumi dia pastilah kakek moyang kami ."
'Karena anaknya Hua Ci adalah generasi pertama leluhur keluarga Hua kami."
__ADS_1
"Kalau saja kami keluarga Hua mewarisi kesaktian dari leluhur kami, tentu kakek ku Hua To tidak akan mati ditangan Cao A Man."
"Sungguh sayang," ucap Tabib Hua kecewa.
Wu Song dan Lu Ping hanya bisa diam melihat kekecewaan yang tersirat di wajah Tabib Hua.
Sesaat kemudian Wu Song baru berkata,
"Tapi guru Hua Thian tidak memiliki ilmu pengobatan seperti tabib Hua, " ucap Wu Song menghibur.
Tabib Hua pun tertawa dan berkata,
"Kamu benar Tuan Song, memang tidak mungkin akan maximal bila ingin menguasai dua ilmu sekaligus."
"Ini mungkin sudah kodratnya, aku tidak bisa serakah." ucap Tabib Hua mulai bisa kembali tersenyum.
Begini saja,ucap Wu Song,
"Bagaimana bila selama pengobatan kondisi ku dan istri ku aku mewariskan ilmu meringankan tubuh pada Tin Tin? jadi bila saat menghadapi situasi berbahaya setidaknya Tin Tin bisa melarikan diri."
Ucapan Wu Song di sambut baik oleh Tabib Hua dan Tin Tin, malah Tin Tin minta di warisi ilmu terbang seperti Wu Song.
"Kalau ini.. " Wu Song terlihat serba salah bukan dia tidak mau hanya saja untuk mewarisi ilmu terbang sangatlah tidak mudah.
Tin Tin masih kecil agak sulit menjelaskan nya sehingga Wu Song sedikit bingung.
Tapi akhirnya Wu Song berkata,
"Aku akan ajarkan teorinya untuk bisa terbang, tapi bisa atau tidak nya itu tergantung pada perkembangan mu sendiri Tin er."
Tin Tin sangat gembira dan langsung ingin berlutut memberi hormat pada Wu Song, tapi Wu Song menolaknya.
"Jangan Tin er, aku bukan guru mu. Aku hanya menjadi juru penyambung dari guru Hua Thian kepada keturunan nya, hitung-hitung sebagai balas Budi jasa beliau pada ku.' ucap Wu Song menjelaskan.
Wu Song kemudian mengeluarkan bunga matahari pelangi yang dia temukan di pegunungan Himalaya, dan memberikan kepada tabib Hua untuk di teliti.
Tabib Hua sangat terkejut melihat bunga ajaib di depan nya, dia segera mengambil untuk di lihat dan di cium dengan teliti.
Kemudian dia tertawa gembira dan berkata,
__ADS_1
"Lu Ping kamu sungguh beruntung, kalian memang berjodoh. Yang suami mu temukan ini adalah benda terakhir yang kita cari-cari.'
"Mulai besok aku sudah bisa meracik obatnya untuk mu."