
Yue Fei sebenarnya agak tidak tega, menyeret anak kecil 10 tahun dengan kuda, terlihat agak tidak berperikemanusiaan.
Tapi anak itu sangat berbahaya, dan ini perang,. dia tahu dengan jelas prinsip peperangan.
Tidak kamu yang mati aku yang musnah, lahir sebagai prajurit tidak akan menyalahkan perangkap dan jebakan.
Di mana terkadang sangat licik dan busuk akal-akalan nya, jauh dari kata ksatria.
Kalau mau berlagak ksatria dan gagahan, lebih baik jangan pernah memasuki Medan perang.
Lebih baik tidak ikut campur dalam dunia politik kerajaan dan peperangan.
Yue Fei memberi perintah mempercepat pergerakan mundur pasukan mereka.
Sedangkan Pasukan yang di pimpin oleh Jendral He Wan bergerak secepat mungkin melakukan pengejaran.
Barisan paling depan yang di pimpin langsung oleh jendral He Wan, saat melihat bayangan punggung Pasukan Rajawali Merah.
Mereka semua atas perintah dari Jendral He Wan. menarik gendewa melepaskan anak panah secara serentak di bawah komando Jendral He Wan.
Anak panah meluncur deras, beberapa berhasil mengenai sasaran, tapi panah-panah yang mereka lepaskan.
Tidak bisa menghentikan laju Pasukan Rajawali Merah yang terus melarikan diri, Kembali ke Wu Guan.
Di atas tembok Wu Kuan terlihat Sin Yi yang mondar-mandir dengan cemas.
Awalnya dia sangat tidak setuju dengan usul Yue Fei yang menjalankan misi terpisah.
Tapi setelah melalui perdebatan, akhirnya dia mengalah tidak mau menyulitkan posisi suami yang sangat di cintai nya.
Dan juga sangat mencintainya, di luar urusan militer, apapun permintaannya Yue Fei belum pernah sekalipun membantah ataupun menolak nya.
Sin Yi sebenarnya hanya sangat cemas dan khawatir sesuatu terjadi dengan suaminya.
Bagi Sin Yi yue Fei adalah segalanya buat dirinya, tanpa Yue Fei lebih baik dia mati saja.
Sin Yi selalu teringat, bagaimana masa lalunya, bila bukan karena Yue Fei sudah lama dia kehilangan tujuan hidup.
Sin Yi berjalan mondar-mandir sambil terus menatap kearah ujung jalan, berharap suaminya cepat kembali dengan selamat.
Akhirnya Sin Yi melihat suaminya muncul bersama rombongannya, tapi dia melihat ada yang kurang beres dengan kondisi suaminya.
Yang agak sedikit membungkuk dan terus memegangi dadanya.
Sin Yi tidak bisa menahan diri lebih lama lagi, dia langsung melesat terbang dari atas tembok untuk menyambut kepulangan suaminya.
Dia berlari dengan sangat cepat mendekati suaminya sambil berteriak dengan cemas,
"Sayang kamu kenapa ? apa yang terjadi ?"
__ADS_1
Yue Fei langsung menjawab,
"Angin keras cepat mundur...!"
Dengan cemas Sin Yi melompat keatas punggung kuda suaminya, sambil membantu suaminya mengendalikan kudanya.
Sin Yi memacu kudanya secepatnya menuju Wu Kuan, lalu berteriak keras.
"Buka gerbangnya...!!"
Gerbang pun terbuka lebar, seluruh rombongan yang dipimpin Yue Fei bergerak memasuki Wu Kuan mengikuti Sin Yi dan Yue Fei yang berboncengan diatas punggung seekor kuda hitam.
Begitu semua pasukan Rajawali Merah memasuki gerbang, gerbang kembali tertutup rapat.
Saat Jendral He Wan dan Pasukannya tiba, sudah terlambat semua pasukan Rajawali Merah telah masuk kedalam Wu Kuan.
Pintu gerbang Wu Kuan sudah kembali tertutup rapat, Sin Yi langsung menggendong tubuh Yue Fei dipunggung nya dan membawanya ke perkemahan mereka.
Sedangkan He Siong yang sudah tidak sadarkan diri, sudah di jebloskan kedalam penjara oleh bawahan Yue Fei.
Sin Yi dengan hati-hati membaringkan Yue Fei keatas tempat tidur darurat, lalu dengan tatapan sangat cemas.
Dia bertanya,
"Sayang apa yang terjadi ? mana yang terluka ? apa yang kamu rasakan saat ini ?"
Yue Fei sambil tersenyum berkata,
"Satu dua hari istirahat juga sembuh."
ucap Yue Fei sambil menyentuh tangan istrinya dengan lembut.
Tapi Sin Yi tidak percaya, dia kembali bertanya,
"Mana yang sakit dan terasa tidak nyaman biar ku periksa."
Yue Fei tahu dia tidak bisa membohongi Sin Yi, kalau dia maksa hanya akan membuat Sin Yi semakin cemas, marah dan sedih.
Yue Fei melepaskan baju Pelindung dadanya yang penyok, di bantu Sin Yi.
Kemudian baru melepaskan pakaian atasnya, terlihat sesosok tubuh yang putih mulus, tapi agak berotot dan kekar.
Di bagian dada Yue Fei di hiasi sebuah luka lebam yang sangat kontras dengan warna kulit disekitarnya yang putih halus.
Sin Yi dengan hati-hati memeriksa dan membersihkan bagian dada suaminya dengan handuk bersih yang direndam dengan air hangat.
Kemudian dia baru mengoleskan obat gosok luka dalam dan luar dengan hati-hati di dada suaminya.
Setelah itu dia berkata,
__ADS_1
"Kamu istirahat lah, nanti akan ku suruh Ning er memasak obat untuk mu."
"Aku pergi dulu melihat ke garis depan."
Yue Fei mengangguk dan berkata,
"Baiklah, kamu hati-hati, jangan terbawa emosi."
Sin Yi tersenyum manis dan memegang wajah suaminya dan menjawab,
"Engh...!"
Lalu dia pun keluar dari tenda mereka, begitu keluar dari tenda wajah nya yang tersenyum lembut kini berubah.
Wajah nya menjadi beringas, seperti induk harimau yang anaknya di lukai orang.
Sin Yi berjalan cepat sambil memberi kode agar Pasukan wanita didikannya bergerak mengikutinya.
Kemudian Sin Yi dan rombongan pasukan wanita yang berjumlah 5000 orang bergerak keluar dari Wu Kuan.
Menyambut Pasukan Jendral He Wan yang sedang mengepung Wu Kuan bersama Pasukannya.
Bentrokan pun tak terhindarkan, Pasukan didikan Sin Yi meski wanita tapi mereka sangat lihay kemampuan silat mereka.
Kemanapun pedang mereka bergerak pasti ada Pasukan Jendral He Wan yang roboh.
Sin Yi sendiri terus melontarkan tapak api nya bergerak mencari dan mendekati lokasi Jendral He Wan berada.
Setiap ada rombongan pasukan yang menghalangi jalan nya, dan terkena pukulan Tapak api nya.
Tubuh rombongan pasukan tersebut akan hangus terbakar menjadi abu.
Hal ini membuat pasukan Jendral He Wan, mulai gentar dan menjulukinya iblis wanita.
Jendral He Wan juga menyadari kehebatan Sin Yi yang tidak mungkin dapat di lawan oleh pasukan nya, yang hanya akan mengantar nyawa sia-sia bila menghalangi jalannya.
Akhirnya Jendral He Wan, mengangkat pedangnya, dan berteriak,
"Mundur semua nya, jangan halangi jalannya."
"Biarkan dia kemari, kalian semua fokus merebut Wu Kuan saja."
Mendapatkan perintah jendral He Wan, para prajurit cepat menyingkir memberi jalan kepada Sin Yi.
Sin Yi terus bergerak kearah jendral He Wan dengan seluruh tubuh di selimuti oleh api.
Setelah berada di hadapan Jendral He Wan, Sin Yi pun berkata,
"Bangsat tua berani kamu melukai suamiku, serahkan nyawa mu sekarang juga..!"
__ADS_1
Setelah itu Sin Yi melesat secepat kilat kearah Jendral He Wan dengan sepasang telapak apinya.
Jendral He Wan dengan tenang memainkan pedang nya membentuk sebuah bayangan Pat Kwa.