
Alung buta huruf, selama sebulan ini meski ada di ajari oleh Bun Houw, tapi itu belum cukup baginya untuk menulis surat dengan baik.
Tapi Alung sangat cerdas dan bisa di percaya, makanya Bun Houw mempercayakan tugas penting ini padanya.
Padahal bila gagal taruhannya adalah kepala Bun Houw, tapi Bun Houw dengan sangat percaya diri menyerahkan hal ini pada Alung.
Kini terbukti kepercayaan yang diberikan Bun Houw tidak sia-sia, meski tulisannya masih banyak silang nya, tapi masih relatif terbaca.
Contohnya x bandit terletak x tengah gunung ketiga.
Apalagi ditunjang dengan gambar peta lokasi yang dibuat Alung, suratnya menjadi semakin jelas.
Jumlah bandit gunung yang mencapai 3000 orang juga dilaporkan dengan jelas.
Termasuk pergantian shift ronda dan bangunan-bangunan penting markas bandit dilaporkan secara detil.
Bun Houw memperbaiki laporan Alung kemudian dia membawanya pergi menemui Jendral Bai.
Tapi ketika sampai di kemah utama Jendral Bai, Bun Houw mendapatkan informasi Jendral Bai ada dirumahnya.
Sehingga Bun Houw terpaksa menyusul ke kediaman Jendral Bai.
Sampai di sana Bun Houw segera menyampaikan kepada penjaga pintu, agar membantu melaporkan pada Jendral Bai soal kedatangannya.
Salah satu penjaga pintu segera masuk memberi laporan, kali ni tidak perlu menunggu lama, dia langsung diantar kedalam oleh penjaga pintu.
Sampai di bagian dalam Bun Houw langsung diantar oleh kepala pelayan, yang menyambutnya dengan sangat hormat menuju keruang penerimaan tamu.
Bun Houw tidak perlu menunggu lama, Jendral Bai sendiri yang keluar menyambutnya dengan senyum lebar.
Membentangkan sepasang lengannya memeluk Bun Houw, memuji Bun Houw yang bekerja dengan sangat bagus.
Bun Houw sangat terkejut, dia tidak menyangka akan mendapatkan sambutan yang sangat tidak biasa ini, Jendral Bai menggandeng tangan Bun Houw dengan sok akrab.
Membawanya masuk keruang tengah, di sana terdapat sebuah meja bundar yang penuh dengan hidangan yang disiapkan untuk menjamu Bun Houw.
Jendral Bai juga memperkenalkan ke 4 Istrinya kepada Bun Houw dengan bangga.
Bun Houw memberi hormat kearah mereka dengan agak canggung.
Mereka ber 4 menatap Bun Houw dengan rakus dan genit.
Seakan-akan ingin menelan Bun Houw hidup-hidup.
Bun Houw menjadi tidak nyaman dan agak salah tingkah.
Apalagi saat makan, mereka sengaja menggunakan kaki mereka dibawah meja. Secara bergantian menyentuh bagian bawah Bun Houw.
__ADS_1
Bun Houw beberapa kali tersedak dibuat mereka, untuk menghindari hal-hal canggung itu.
Bun Houw cepat-cepat menyelesaikan makannya, lalu segera memberikan laporan informasi tugas yang diberikan Jendral Bai.
Jendral Bai hanya melihatnya sejenak, kemudian berkata,
"Dari semua Perwira ku, kamu yang paling bisa diandalkan."
"Tugas kali ini aku percayakan pada mu, kamu urus saja." ucap Jendral Bai sambil menepuk pundak Bun Houw.
Bun Houw mengangguk, dia tak berdaya menolaknya.
Setelah berbasa-basi sejenak, Bun Houw segera pamit dari kediaman Jendral Bai.
Setelah keluar dari kediaman Jendral Bai
Bun Houw hanya bisa menghela napas berat.
Bun Houw bukan orang bodoh, sebaliknya dia adalah orang yang sangat cerdik.
Dia tahu kebaikan Jendral Bai palsu, dia hanya ingin melimpahkan semua pekerjaan kepadanya.
Tapi Bun Houw tak berdaya menolak, dia hanya menghibur diri.
Mungkin ini peluang bagi dirinya dan Pasukan bentukan nya.
Bun Houw pulang ke markas memikirkan strategi, untuk menumpas kelompok bandit gunung itu.
Bun Houw juga mengumpulkan kelima komandannya mendengarkan pendapat mereka.
Perundingan berjalan cukup alot, perundingan berlangsung hampir 3 jam.
Setelah menghasilkan keputusan langkah yang akan mereka jalankan saat menumpas bandit gunung Mao
Acara perundingan dibubarkan, begitu keluar dari barak utama hari sudah gelap, Bun Houw langsung pulang kerumahnya.
Sampai di depan rumah hati Bun Houw sangat terharu, melihat Yi Yi berdiri didepan rumah menunggu kepulangan nya.
Bun Houw buru-buru menghampiri Yi Yi, kemudian mengajaknya masuk sambil bertanya,
"Sudah lama ya, kamu menunggu didepan rumah? lain kali tidak perlu di tunggu, nanti kamu bisa masuk angin dan sakit."
Yi Yi cuma menjawabnya dengan anggukan dan senyuman.
Selesai makan malam, mereka duduk ngobrol sejenak kemudian kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
Pagi-pagi sekali sebelum Yi Yi bangun, setelah menyiapkan sarapan dan beberapa pekerjaan rumah, Bun Houw bergegas menuju gerbang timur.
__ADS_1
Di mana pasukannya sudah berbaris rapi, bahkan rombongan pengawal expedisi yang memberikan jasa perlindungan juga siap dengan kereta, peti-peti harta
Dan puluhan gadis cantik yang berpakaian seperti putri bangsawan .
Duduk dalam beberapa kereta tampak sudah siap untuk berangkat.
Rombongan tersebut berjalan paling duluan keluar dari gerbang timur, selang beberapa waktu.
Rombongan pasukan kerajaan dibawah pimpinan Bun Houw baru keluar menyusul.
Sesuai strategi yang mereka buat, rombongan pengawalan expedisi yang mengawal peti-peti harta kosong adalah penyamaran dari pasukan bentukan Bun Houw.
Dan wanita cantik didalam kereta adalah wanita yang mereka sewa dari tempat pelacuran.
Rombongan tersebut berjalan di paling depan melewati wilayah pegunungan Mao, melewati jalan yang diapit oleh tebing yang tinggi dan curam di kiri kanan jalan.
Sedangkan Alung bertugas memberikan informasi palsu, kepada para bandit agar bersiap-siap merampok rombongan tersebut.
Mendapatkan laporan dari anak buahnya, bahwa harta yang dibawa sangat banyak, ditambah di dalam rombongan ada puluhan gadis cantik, yang kemungkinan adalah rombongan penyanyi dan penari dari ibukota.
Membuat kepala perampok dan beberapa bawahan kepercayaannya tertawa girang dan sangat antusias.
Agar misi mereka berhasil sempurna, para perampok itu mengerahkan 3/4 kekuatan mereka.
Dan menyisakan 1/4 kekuatan mereka menjaga markas di bawah pimpinan wakil ketua perampok.
Alung tidak ikut serta dalam penyergapan, dia berpura-pura bolak-balik ke WC sakit perut sehingga tidak bisa ikut.
Lagipula ikut atau tidak keberadaan Alung tidak begitu penting buat mereka.
Setelah rombongan besar turun gunung, Alung pergi ke dapur masak enak dan menyiapkan arak perayaan kemenangan.
Untuk wakil ketua dan semua anggota bandit yang tidak ambil bagian dalam misi penyergapan.
Mereka berpesta pora dengan sangat gembira, tanpa menyadari di dalam arak dan masakan telah Alung campuri obat bius.
Yang biasa digunakan saat ingin menyembelih ternak berukuran besar seperti kerbau sapi dan Bab*.
Alhasil beberapa saat setelah pesta dimulai satu persatu jatuh tertidur, Alung memulai dengan memenggal kepala si wakil ketua bandit.
Dan beberapa pengawal kepercayaan si wakil ketua bandit yang berilmu tinggi.
Alung membebaskan para tawanan dan tahanan untuk membantunya mengikat semua bandit yang sedang tertidur pulas.
Setelah selesai, Alung di bantu para tawanan yang sebagian besar adalah gadis-gadis muda.
Untuk menguras semua harta yang di kumpulkan oleh para bandit selama ini.
__ADS_1
Alung beserta rombongan tawanan meninggalkan markas para bandit menggunakan kereta yang memuat harta para bandit gunung.