
Lu Sun Xue Yen dan Siau Ching saling pandang mereka bertiga saling mengangguk tanda setuju.
Lu Sun sambil tersenyum lembut berkata
"Itu ide yang sangat baik, sekarang kalian bertiga pergilah istirahat."
"Besok pagi Wu Song dan Lu Ping bisa melanjutkan perjalanan ke lembah Selaksa Obat mencari tabib Dewa."
"Nona Li Se Se terimakasih banyak anda sudah banyak membantu menantu dan anak perempuan ku, selanjutnya apa rencana mu?"
Tanya Lu Sun menatap kearah Se Se.
Li Se Se menundukkan kepalanya kemudian
berlutut memegang tangan Lu Ping dan berkata,
"Ping Cie Cie ijinkan aku ikut denganmu ya, dalam perjalanan ini."
Lu Ping tersenyum mengelus kepala Li Se Se dan berkata,
"Tentu kamu harus ikut, agar sepanjang jalan tidak terlalu sepi, benar tidak Song ke ke.?"
Wu Song hanya melirik sekilas kearah
Li Se Se, kemudian berkata,
"Terserah padamu sayang aku tidak ada pendapat."
Di dalam hati Wu Song mengutuk kelicikan
Se Se yang selalu menempel bagai prangko pada Lu Ping.
Lu Sun kemudian berkata,
"baiklah Lu Ping dan Nona Li Se Se kalian boleh pergi istirahat duluan."
"Wu Song kamu ikut dengan ku ada yang ingin ayah bicarakan dengan mu."
ucap Lu Sun kemudian membalikkan badannya menuju kamar.
Wu Song ikut dengan Lu Sun, di dalam hati bertanya-tanya apa yang akan di sampaikan oleh ayah mertuanya.
Setelah menutup pintu kamar, Lu Sun duduk berhadapan dengan Wu Song sambil tersenyum Lu Sun bertanya,
"Song Er coba jelaskan ada apa dengan nona Li Se Se itu? kenapa dia begitu antusias ikut dengan kalian? apa maksud tujuannya.?"
Wu Song menghela nafas panjang menceritakan semuanya dengan jujur dan tak berdaya.
Lu Sun tidak menyela hanya menganggukkan kepalanya mendengar semua cerita Wu Song sampai selesai.
Lu Sun tersenyum kemudian bertanya dengan serius,
__ADS_1
"Gadis itu sangat cantik bagaimana menurutmu? Apakah kamu punya rencana mengambilnya sebagai istri kedua?"
Wu Song sedikit tidak enak hati mendengar pertanyaan mertuanya, tapi dia tetap menjawab, dengan tegas.
"Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menikah lagi, dengan gadis manapun guru"
Lu Sun menghela nafas lega, kemudian kembali bertanya.
"Bagaimana bila Lu Ping yang meminta mu menikahi gadis itu?, kulihat Ping er sepertinya bermaksud begitu."
Wu Song menarik napas panjang kemudian berkata,
"Itu adalah pilihan yang sulit untuk ku, seperti yang guru ketahui sejak kecil sampai besar aku hampir tidak pernah bisa menolak setiap permintaan adik Ping."
"Tapi untuk kali ini aku tidak bisa membiarkan nya bertindak sembarangan, aku akan menolaknya dengan tegas."
Lu Sun menghela nafas kemudian berkata,
"Tapi Lu Ping sangat keras, tidak mudah di bujuk. Bagaimana bila dia memaksa dan mengancam mu..?"
"Itu..." Wu Song ragu sejenak kemudian melanjutkan berkata,
"Karena Lu Ping tidak memberi ku pilihan, aku terpaksa meninggalkan mereka berdua guru." ucap Wu Song dengan kepala tertunduk.
Lu Sun terkejut dan khawatir kemudian bertanya, dengan cemas.
"Lalu apa rencana mu?"
Wu Song memejamkan matanya membayangkan hal itu terjadi, sudut matanya menetes dua butir air bening.
Wu Song berkata,
"Sebenarnya ini adalah jalan yang pernah ku persiapkan bila suatu hari nanti adik Ping lebih dulu pergi meninggalkan ku."
"Tapi bila adik Ping memaksa terpaksa aku mengambil jalan ini."
"Aku akan pergi kepuncak Bodhi, melewatkan hari ku bertapa di sana, sampai ajal datang menjemput ku." ucap Wu Song tegas dan tersenyum sedih menatap gurunya.
Lu Sun menghela nafas panjang, sebenarnya hatinya sudah menebak akan hal ini.
Dia hanya ingin mendengarnya langsung dari mulut muridnya.
Lu Sun terlalu mengenal sikap dan sifat muridnya ini.
Keputusan yang sudah dia ambil siapapun tidak akan dapat merubahnya kecuali atas keinginan dirinya sendiri.
Lu Sun menghela nafas panjang, kemudian berkata.
"Semoga pilihan terakhir mu itu selama nya tidak perlu di gunakan."
"Wu Song kamu juga sudah lelah kembali lah ke pondok mu untuk istirahat .
__ADS_1
Agar besok pagi-pagi kalian bisa berangkat dengan kondisi tubuh segar bugar." ucap Lu Sun sambil menepuk-nepuk bahu Wu Song.
Wu Song mengangguk memberi hormat kemudian mengundurkan diri dari kamar gurunya.
Setelah Wu Song pergi Lu Sun berbicara dengan kedua istrinya menyampaikan semua pembicaraan dengan Wu Song tadi.
Setelah berunding akhirnya di putuskan Siau Ching lah yang akan menasehati Lu Ping agar menghilangkan pemikiran menyuruh Wu Song mengambil istri lagi.
Dan menjelaskan kepadanya, bila dia tetap memaksa dia akan kehilangan Wu Song selamanya.
Sore hari Siau Ching memanggil Lu Ping untuk bicara, setelah mendengarkan semua alasan Lu Ping, Siau Ching baru pelan-pelan memberi nasehat agar jangan meneruskan
rencana tersebut.
Siau Ching selain menjelaskan keputusan yang akan di ambil Wu Song bila Lu Ping memaksanya, dia juga memberi contoh kekerasan hati Wu Song yang tidak bersedia belajar ilmu silat.
Siau Ching menekankan pada Lu Ping, bila Wu Song sudah mengambil keputusan tidak ada orang lain yang bisa mengubahnya kecuali dari keinginannya sendiri.
Setelah mendengar penjelasan
Ibu Siau Ching,
Lu Ping menjadi sadar dan memutuskan tidak akan lagi memaksa Wu Song.
Malam itu Lu Ping dan Se Se berbicara berdua di dalam kamar tamu tempat Se Se menginap.
Lu Ping memulai pembicaraan sambil menatap Se Se serius,
"Se Se aku ingin bertanya pada mu?"
Se Se memegang tangan Lu Ping dan berkata,
"Katakan saja Ping Cie Cie, Se Se siap menjawabnya."
"Se Se bagaimana bila Wu Song seumur hidup tidak ingin menikah dengan mu?" tanya Lu Ping serius.
Se Se tersenyum tenang dan menjawab,
"Itu berarti aku di takdir kan hidup sendirian sampai tua, aku tidak akan menyesal."
"Setiap hari bisa melihat Song ke ke satu tatapan pun aku sudah cukup puas."
"Kakak Ping jangan khawatir aku menuntut ataupun berharap Song ke ke menerima ku sebagai istrinya."
"Sejak awal memilih ikut kalian, aku sudah tahu masa depan seperti apa yang akan kudapatkan tapi aku tidak menyesal."
"Hidup ini begitu singkat, bisa melihat orang yang kita kasihi setiap hari, itu sudah cukup."
Lu Ping menghela nafas panjang dan berkata, dengan penuh rasa sesal,
"Mengapa kalian berdua begitu keras kepala,? tidak ada yang mau mengalah sedikitpun."
__ADS_1
"Kakak Song sadarkah kamu sedang menghancurkan masa depan seorang gadis yang sangat baik dan tulus mencintai mu," gumam Lu Ping sedih dan menyesal.
Lu Ping tahu pada akhirnya yang paling terluka dan sedih adalah gadis bodoh di depannya ini.