
Di tempat lain Pasukan Rajawali Merah yang di pimpin oleh Alung dan Zhou Xuan yang mengambil jalan belakang.
Kini telah menyeberangi rawa-rawa, kini terlihat sedang bergerak menuju gerbang kota Xiao Pei sebelah Utara.
Di pagi yang cerah di mana cahaya matahari pagi mulai menyinari dunia.
Burung-burung berkicau dengan penuh keceriaan.
Rumput-rumput masih di hiasi butiran air embun pagi yang segar dan dingin.
Tapi di suatu tanah lapang yang luas, terlihat lautan manusia yang berbaris rapi.
Didepan nya terlihat dua orang pemuda yang naik di punggung kuda sedang menatap kearah gerbang kota Xiao Pei bagian Utara.
Pria pertama yang berwajah brewokan adalah Alung, pria kedua yang berpenampilan halus seperti seorang pelajar dia adalah Zhou Xuan.
Di dalam benteng Xiao Pei yang kecil terlihat Pasukan Macan Hitam berbaris dengan rapi, baik di balik gerbang maupun di atas benteng.
Bersiaga menghadapi serangan dari pasukan Rajawali Merah.
Alung mengangkat Tombak nya keatas kepala sebagai kode agar Pasukan nya bergerak menyerang ke benteng Xiao Pei.
Shi Ma Liang dan Lie Kui terlihat berada di atas benteng.
Melihat lautan manusia berjubah merah yang sedang mengepung benteng nya yang kecil.
Lie Kui menelan ludah, ini adalah petaka bagi kota kecilnya dan seluruh rakyat yang berada dalam kota.
Alung memacu kudanya berlarian mendekati gerbang kota, sedang kan Zhou Xuan sudah melesat keatas tembok kota dan melakukan jurus tebasan Pedang Penahluk Iblis.
Dengan melontarkan 3 buah tebasan yang membuat Pasukan Macan Hitam terpelanting malang melintang kehilangan nyawa.
Shi Ma Liang tidak tinggal diam dia melompat menangkis serangan berikutnya dari Zhou Xuan.
Kedua orang ini pun terlibat pertempuran sengit saling melontarkan pukulan dan tangkisan.
Sedangkan Pasukan Rajawali Merah sebagian sudah melompat ringan dan mendarat di atas benteng melakukan pertempuran melawan Pasukan Macan Hitam.
Sedangkan di bagian gerbang terlihat mesin pendobrak sedang berusaha menghancurkan gerbang kota tersebut.
Di bantu dengan hantaman tombak dari Alung tidak sampai 5 kali dobrak gerbang kota sudah roboh.
__ADS_1
Pasukan Rajawali Merah langsung menghambur masuk kedalam kota, melakukan pertempuran langsung dengan Pasukan yang ditugaskan menjaga dan mempertahankan gerbang.
Alung yang menyerang paling depan kini menghadapi kepungan 4 jendral dan 5 komandan bawahan Shi Ma Liang.
Yang tempo hari mengalahkan istrinya, dan membuat nya jatuh tercebur kedalam sungai.
Alung memainkan ilmu Tombak Pembunuh Naga menghadapi keroyokan ke 9 orang tersebut.
Beberapa ekor naga bergulung-gulung menyerang ke 9 orang itu setiap Alung melakukan serangan kearah mereka.
Ke 5 komandan kini sudah mengalami luka-luka di berbagai tempat, meski masih tetap membantu melakukan pengeroyokan dan pengepungan.
Tapi kondisi mereka yang payah membuat gerakan mereka menjadi semakin lambat dan mudah terbaca oleh Alung.
Alung sambil menyerang dan bertahan bertanya kepada mereka,
"Apakah kalian yang menangkap dan menawan istri ku.?"
Keempat jendral tertawa mengejek dan berkata,
"Buat apa kami menawan gadis liar itu ? kami sudah mengirimnya ke neraka..!"
"Kalau mau mencarinya, terjun saja ke Huang He mungkin kamu bisa bertemu dengan hantunya."
Sambil menggigit bibirnya sampai berdarah, Alung bersumpah dalam hati dia harus membunuh 9 orang yang berada di hadapannya ini.
Alung mulai memperhebat serangannya, Alung terlebih dahulu mengincar ke 5 orang yang mulai terlihat payah itu.
Taktik Alung berjalan cukup baik, satu persatu ke 5 orang itu jatuh tumbang dengan dada perut dan punggung tertusuk oleh tombak Alung.
Akhirnya kini hanya tersisa ke 4 jendral yang masih mengepungnya dengan ketat, lewat Formasi golok menyesatkan, yang di ajarkan langsung oleh Shi Ma Liang langsung kepada mereka ber 4.
Di tempat lain Pasukan Macan Hitam tidak sanggup menahan serangan pasukan Rajawali Merah.
Sehingga jadi lebih mirip ajang pembantaian ketimbang pertempuran itu sendiri.
Pasukan Rajawali Merah yang menaruh dendam besar kepada Pasukan Macan Hitam.
Yang dengan cara licik membantai saudara dan teman-teman mereka di pertempuran sebelumnya.
Kini mereka pun membalasnya dengan melakukan pembantaian tanpa ampun.
__ADS_1
Pasukan penjaga keamanan kota Xiao Pei yang menyaksikan pembantaian kejam tersebut, ketakutan dan melarikan diri kedalam rumah-rumah warga.
Bersembunyi di antara rumah-rumah warga, Sisa Pasukan Macan Hitam yang melihat mereka tidak mungkin Punya peluang menang.
Mereka juga ikut melarikan diri bercampur dengan warga, dan berlindung didalam rumah warga.
Melihat hal ini, Pasukan Rajawali Merah pun berpencar menyebar ke seluruh pelosok, mencari dan melakukan pembantaian.
Diantaranya cukup banyak warga yang ikut terbanyak, dan rumahnya terbakar di lalap si jago merah.
Kediaman Yao Su juga tidak luput dari perusakan dan pembantaian, karena ada dua orang Pasukan Macan Hitam dan 3 orang pasukan penjaga kota, yang menyelinap dan bersembunyi di kediamannya.
Kediaman Yao Si pun di dobrak paksa oleh pasukan Rajawali Merah yang sedang melakukan pengejaran dan penggeledahan.
Perkelahian pun pecah di dalam toko obat Yao Su, teriakan Yao Su yang mencoba melerai dan meminta mereka berkelahi di luar tidak di gubris oleh kedua belah pihak.
Akhirnya karena ingin melindungi Toples yang menyimpan sisa Ling Che darah.
Tanpa sengaja sebuah tebasan golok nyasar yang tidak tahu datang dari pihak mana. Mengenai leher Yao Su yang tergorok sampai hampir putus.
Darah menyembur dari batang leher Yao Su yang lukanya terbuka lebar, sepasang mata Yao Su mendelik keatas.
Tubuhnya tumbang dalam posisi masih memeluk toples penyimpanan Ling Che darah hadiah dari menantunya.
Melihat hal ini, beberapa pasukan penjaga kota yang mengenal baik Yao Su melemparkan golok mereka berhamburan melarikan diri ketakutan dan berteriak,
"Mampus lah..!! kalian para biadab ..! menantunya pasti akan membantai kalian semua nya...!!"
Tapi pergerakan mereka terhenti saat dua buah golok yang ditendang oleh kaki Pasukan Rajawali Merah menembus dada mereka.
Tidak berhenti sampai di sana, Pasukan Rajawali Merah kembali menyerang sisa pasukan Macan Hitam, yang kini hanya tersisa satu orang.
Pasukan Macan Hitam itu akhirnya tewas dengan kepala dan kaki terpisah dari badannya.
Lalu Pasukan Rajawali Merah bergerak meninggalkan tempat itu, melakukan pengejaran ketempat lain.
Alung yang sedang menghadapi kepungan ke 4 Jendral itu, tidak menyadari aksi Pasukan nya, yang tanpa sengaja telah melakukan pembantaian cukup banyak, terhadap warga yang tidak tahu apa-apa.
Alung akhirnya berhasil membunuh ke 4 Jendral tersebut dengan jurus tombak pembunuh naga tingkat 19 dan 20.
Yang membuat keempat golok itu tertarik mengikuti pusaran tombaknya hingga terlepas dari pegangan mereka.
__ADS_1
Lalu Tombak Alung dengan cepat menusuk Jantung ke 4 orang itu hingga tewas seketika.