
Hali ini semakin menambah-nambah kemarahan raja Sanggha.
Permaisuri dengan dibantu beberapa Kasim yang menjadi pengawal nya mendobrak pintu yang terkunci dari dalam dengan paksa.
Pintu terbuka lebar semua yang hadir disana tidak dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi diatas ranjang.
Karena tertutup korden tipis, permaisuri dan raja Sanggha langsung melangkah masuk ke dalam kamar.
Pintu kembali tertutup, tidak ada yang berani ikut masuk, mereka semua menanti diluar, termasuk 4 pengawal rahasia raja Sanggha mereka juga terlihat berdiri diluar.
Sementara itu situasi yang terjadi di dalam kamar, permaisuri sambil menggendong kedua tangannya didepan dada tersenyum licik.
Membiarkan Raja Sanggha yang sedang marah berjalan terburu-buru pergi membuka korden yang menutupi ranjang tempat tidur Selir Mimi.
Begitu tirai korden terbuka, raja Sanggha berdiri dengan terkejut melihat pemandangan di depannya.
Rupanya Mimi sedang meringkuk memeluk perutnya sendiri dengan wajah pucat keringat dingin membasahi dahinya.
Kedua alisnya yang indah terlihat bertaut menjadi satu, dia mengigit bibir bawahnya dengan sangat keras sampai sedikit lecet berdarah.
Mimi merintih-rintih menahan sakit dan mules diperutnya.
"Kamu-kamu kenapa. sayang ?"
tanya raja Sanggha yang tadinya marah kini berubah cemas dan panik.
"Perut ku...aduh...perut ku ...sakit sekali...aku sepertinya tidak kuat lagi... maafkan aku cinta ku...aku mungkin... tidak bisa...menemani mu lagi...aku..aku ... sudah tidak kuat...!"
ucap Mimi terputus-putus menahan rasa sakit.
"Kamu...kamu bertahan lah.."
ucap Raja Sanggha panik.
"Kamu...kamu.. cepat panggil tabib. !!"
"Kenapa berdiri seperti orang idiot disana...!!"
Teriak raja Sanggha marah bercampur panik kepada Permaisuri nya.
Permaisuri dengan kaget dan terkejut melihat apa yang terjadi, dengan terburu-buru dia membuka pintu dan memerintahkan orang-orang agar segera membawa tabib istana datang kemari.
Tak lama kemudian seorang tabib tua yang menggendong sebuah kotak kayu di pinggangnya datang dengan terburu-buru.
Dan segera melakukan pemeriksaan terhadap kondisi Mimi.
Kemudian tabib itu mulai sibuk melakukan tusuk jarum ke sekitar perut dan punggung selir Mimi.
Sambil memberikan sebutir pil untuk diminumkan ke selir Mimi.
Tak lama kemudian kondisi Mimi pun mulai stabil kembali dan tertidur pulas, wajah nya sudah kembali normal, tidak pucat lagi.
__ADS_1
"Ba.. bagaimana kondisinya..tabib Gan..?"
Tabib itu tersenyum sabar dan bertanya,
"Baginda tidak perlu khawatir, selir Mimi baik-baik saja, dia hanya keracunan makanan."
"Paling lambat besok pagi juga sudah pulih."
"Aku akan menuliskan resep untuk nya, ikutin cara makan obat sesuai resep ku.."
"Paling lama 3 hari dia sudah akan pulih total."
ucap tabib Gan memberikan penjelasan kepada Raja Sanggha dengan penuh hormat.
Mendengar penjelasan tabib Gan, raja Sanggha pun sudah bisa kembali bernafas lega.
Raja Sanggha setelah mengantar kepergian tabib Gan dengan penuh hormat lalu dia kembali ke kamar.
Menyerahkan resep obat dari tabib Gan dan berpesan kepada kepala pelayan untuk mengurusnya dengan teliti dan hati-hati, atau kepalanya menjadi taruhannya.
Dengan penuh ketakutan kepala pelayan menerima resep itu dengan tangan gemetar, kemudian dia berlari dengan terburu-buru untuk mengurus semuanya sendiri.
Dia takut bila terjadi kesalahan kepalanya akan sulit dipertahankan.
Setelah berpesan ke kepala pelayan, raja Sanggha melangkah masuk kedalam kamar dengan wajah gelap.
Permaisuri masih berdiri disana dengan wajah pucat dan cemas.
"Jaga tingkah laku mu dengan baik, Jangan membuat onar lagi, atau jabatan Permaisuri akan sulit dipertahankan.. ingat itu baik-baik.."
"Sekarang pergilah dari sini, sebelum saya kehabisan kesabaran.."
Permaisuri tidak berani banyak membantah, setelah memberi hormat dia pun cepat-cepat kembali ke istana nya.
Setelah sampai di istana nya, Permaisuri mengamuk melampiaskan emosinya.
Dengan melempar semua barang keatas lantai hingga hancur berserakan.
Permaisuri terus mengutuki Wu Song yang telah berkhianat dan mempermainkan dirinya, sehingga terlihat konyol dihadapan Kaisar.
Permaisuri setelah melampiaskan semua emosinya, dengan nafas sedikit memburu dia memerintahkan ke beberapa pengawalnya agar segera mencari dan meringkus Wu Song dan Ching Kuai untuk di bawa kehadapan nya.
Setelah pengawal nya pergi semua, kini tinggal Permaisuri duduk seorang diri, lalu diamemanggil pelayan menyiapkan arak untuknya.
Permaisuri duduk seorang diri menikmati arak segelas demi segelas untuk menenangkan kemarahan dan kekesalan di hatinya.
Tidak ada yang berani datang mendekati kamarnya.
Beberapa saat kemudian pengawal permaisuri kembali, tapi mereka hanya berhasil membawa Ching Kuai.
Sedangkan Wu Song tidak berhasil mereka temukan.
__ADS_1
Permaisuri kemudian berpesan kepada pengawalnya agar terus melakukan pencarian terhadap keberadaan Wu Song dan harus menangkapnya.
Permaisuri berpesan ke pengawalnya
"Hidup harus lihat orangnya, matipun harus lihat mayatnya, mengerti kalian semua ?"
"Baik siap laksanakan yang mulia.."
jawab para pengawal itu hormat.
Sambil tersenyum dingin permaisuri menatap kearah Ching Kuai, yang berlutut ketakutan dan terus memohon-mohon ampun kepada nya.
"Tolong urus orang ini baik-baik, berikan dia pelayanan terbaik, kalian pahamkan.."
ucap Permaisuri dengan suara sedingin es.
Ching Kuai yang terus berteriak-teriak meminta ampun langsung diseret pergi oleh para pengawal.
Setelah para pengawal pergi kamar permaisuri kembali hening dan sepi, hingga sebatang jarum pun yang jatuh kelantai pasti akan kedengaran suara nya.
Permaisuri terus menuang arak ke cawan di hadapannya dan langsung menegaknya sampai habis.
Kemudian mengisi nya kembali dan meminumnya,, kejadian itu terus berulang-ulang hingga dia mulai mabuk.
Dengan wajah merah tubuh sempoyongan permaisuri berjalan menuju ranjang nya.
Baru saja dia melemparkan tubuhnya keatas kasurnya yang empuk.
Sepasang matanya terbelalak menatap kearah langit-langit ranjang nya sambil berkata,
"Kau..."
Tapi hanya terdengar suara "kau.." dari mulutnya kemudian semua menjadi gelap.
Permaisuri sudah kehilangan kesadarannya dan tidak tahu apa pun yang terjadi selanjutnya.
Wu Song tersenyum menepuk-nepuk pipi Permaisuri yang putih dan halus sambil berkata,
"Maaf tiada jalan lain, kamu yang harus jadi korban, siapa suruh jadi orang terlalu jahat ini karma mu."
Kemudian Wu Song menjejalkan sebutir pil kedalam mulut permaisuri, menggunakan arak membantu mendorong pil itu masuk kedalam perutnya.
Setelah itu Wu Song pun menotok Permaisuri
agar tidak bisa bergerak dan bersuara sekalipun nanti dia tersadar dari pingsannya.
Lalu Wu Song menyimpan beberapa botol arak yang tersisa di meja kedalam cincinnya.
Kemudian berkelebat pergi meninggalkan kamar tersebut menuju ruang penjara di mana Ching Kuai sedang di tahan dan akan di siksa oleh pengawal Permaisuri.
Kedatangan Wu Song sangat tepat waktu, dengan gerakan cepat Wu Song melumpuhkan para penjaga penjara dan pengawal Permaisuri yang ingin menyiksa Ching Kuai.
__ADS_1