
Pemakaman berlangsung sederhana, karena benang ulat Sutra yang melilit tubuh Lee Yong terlalu besar, tidak muat di masukkan kedalam peti.
Maka jasad Lee Yong terpaksa di kuburkan begitu saja tanpa menggunakan peti.
Setelah penguburan selesai, semua orang telah bubar, kini hanya tersisa So Soo seorang diri duduk termenung.
Di sebuah tempat peristirahatan yang letaknya tidak jauh dari makam suaminya.
"Yong ke ke beristirahatlah dengan tenang, aku akan selalu menemani mu di sini."
ucap So Soo pelan.
Sementara itu di sebuah ruangan besar terlihat 4 tetua sedang berlutut di hadapan Lee Kong.
Mereka sudah menyampaikan keinginan mereka untuk mewariskan ilmu terlarang perguruan Dewa petir ke So Soo termasuk senjata pusaka perguruan mereka.
"Kalian berempat dengarlah, lupakan saja soal balas dendam itu.."
"Aku tidak ijinkan kalian wariskan ilmu terlarang itu ke So Soo, apalagi sampai mengeluarkan senjata pusaka berbahaya itu.."
"Kalian dengarkan baik-baik dan renungkan lah, kenapa saya melarang kalian .."
"Pertama So Soo saat ini sedang hamil putra Lee Yong pewaris tunggal penerus keturunan keluarga Lee."
"Kedua aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan So Soo, cukup Lee Yong saja menjadi korban jangan sampai So Soo mengalami nasib sama.."
"Kasihan anaknya yang begitu lahir sudah harus kehilangan kedua orang tua nya."
"Terakhir kalian harus tahu, kematian Lee Yong terjadi di Medan tempur tidak ada yang bisa di salahkan.."
"Lebih baik kalian berempat kembali ketempat kalian masing-masing untuk bertapa.."
Keempat tetua memberi hormat kepada Panglima Tua Lee Kong.
Setelah itu mereka berempat pun kembali keperguruan petir menutup diri dari dunia luar.
Plakat Dewa Petir kini di kembalikan ke Panglima Lee Kong.
Panglima Lee Kong menatap plakat hitam ditangannya menghela nafas panjang lalu menyimpannya ke dalam saku bajunya.
Panglima Lee Kong kemudian meninggalkan ruangan tamu tersebut masuk kedalam ruangan peristirahatan nya.
Hari demi hari berlalu dengan tenang, perlahan-lahan orang-orang mulai melupakan masalah kepergian Panglima muda Lee Yong yang gagah perkasa.
Hanya satu orang yang terlihat belum bisa melupakan kepergian sosok tersebut.
__ADS_1
Pagi itu So Soo terlihat sibuk mengatur berbagai macam masakan kesukaan suaminya.
Di depan makam suaminya.
Dia sengaja turun tangan sendiri mempersiapkan semuanya, karena hari ini adalah hari peringatan 49 hari kematian suaminya.
So Soo melarang siapapun mendekati taman yang terletak persis didepan kamarnya.
So Soo ingin merayakan hari ini berdua an saja dengan suaminya, tidak ingin di ganggu oleh siapapun.
Setelah melakukan upacara sembahyang dan berdoa, So Soo duduk bersimpuh di depan makam suaminya.
Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya, dia terlihat duduk termenung dengan airmata bercucuran.
Menandakan betapa sedihnya hatinya saat ini.
Sejak kematian suaminya, So Soo baru merasakan betapa dunia yang ramai ini, ternyata begitu sepi dan sunyi.
Tidak ada lagi senyum hangat, pelukan mesra dan kata-kata indah yang selalu di bisikkan Lee Yong padanya.
Karena sedih dan lelah, akhirnya So Soo pingsan di sisi makam suaminya seorang diri.
Beberapa saat setelah So Soo pingsan, makam Lee Yong mulai bergetar hebat.
Seperti ada gempa bumil, di dalam makam sendiri kepompong yang membungkus tubuh Lee Yong mulai retak-retak.
Kepompong yang membungkus Lee Yong pun meledak hancur berkeping-keping, begitu pula makam Lee Yong.
Tanah batu pasir berhamburan ke mana-mana, tubuh So Soo yang terbaring didekat sana pun menjadi kotor terkena debu pasir yang beterbangan dan jatuh mengotori pakaian dan rambut di kepala So Soo.
So Soo yang sedang pingsan tidak menyadari kejadian heboh tersebut.
Suara ledakan yang dahsyat itu, membuat seluruh penghuni istana terkejut.
Tapi tidak ada yang berani mendekati area taman, karena mereka tidak berani melanggar perintah tuan putri Kim.
Dari balik makam Lee Yong melesat keluar sesosok tubuh kemudian mendarat ringan di sisi So Soo.
Pria itu adalah Lee Yong sendiri, dia menatap sosok yang terbaring di samping makamnya dengan iba.
"So Soo maafkan aku, aku tidak menyangka tindakan ku itu, malah membuat mu bersedih sampai seperti ini."
Lee Yong mengibaskan tangannya kearah So Soo maka semua kotoran yang menempel di tubuh dan rambut So Soo pun hilang.
Lalu dia membungkukkan badannya menggendong tubuh So Soo menuju kamar mereka yang terletak di depan taman tersebut.
__ADS_1
Lee Yong meletakkan tubuh istrinya diatas ranjang, Lee Yong memberikan beberapa pijatan dan urutan ditubuh So Soo.
Tak lama kemudian So Soo pun tersadar dari pingsannya, saat matanya terbuka pertama-tama dia menatap langit-langit di ranjangnya.
So Soo langsung ingat tadi dia ada di makam suaminya kenapa sekarang tiba-tiba sudah terbaring di ranjangnya, apa sebenarnya yang terjadi.
So Soo buru-buru menoleh kesamping, dia sangat terkejut melihat sosok yang selalu di rindukan nya sedang duduk di sampingnya.
Menatap nya sambil tersenyum hangat, So Soo buru-buru mengucek-ngucek matanya.
Dia tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
Apa saya sudah ikut meninggal, sehingga kini bisa kembali bertemu dengan nya, batin So Soo dalam hati.
"Yong ke ke benarkah itu kamu ? apakah aku sudah meninggal menyusul mu ?"
"Ahh tidak mana boleh seperti itu, aku tidak boleh meninggal...! bagaimana dengan nasib anak kita bila aku meninggal...! ahh tidak...Hu...hu...hu..hu...! jangan kasihan dia...!"
teriak So Soo histeris.sambil menangis.
Lee Yong dengan cepat memeluk So Soo dan berbisik padanya,
"Sayang kamu belum meninggal tenang lah... tenangkan hati mu.."
"Dengarkan aku, aku akan menjelaskan semuanya pada mu dari awal.."
"Kamu tenanglah, aku memang Yong ke ke mu, ini bukan mimpi."
"Kamu bisa rasakan sendiri detak jantung ku kan,? aku masih hidup sayang.."
"Bagaimana mungkin ?"
"Aku jelas-jelas melihat kamu sudah meninggal, bahkan aku sempat bersama jasad mu selama 30 hari diatas kapal, dan aku pula yang menyaksikan langsung jasad mu di kubur di taman sana 19 hari yang lalu.."
ucap So Soo masih sulit mempercayai nya.
Lee Yong membelai punggung dan kepala So Soo dengan lembut kemudian berkata,
"Sayang sebenarnya saat tubuh ku di bawa kembali oleh tetua Angin Hujan petir dan kilat."
"Aku belum benar-benar mati, aku hanya mengalami mati suri saja."
"Awalnya aku juga tidak menyadarinya, hingga kamu menangis sedih sambil memelukku."
"Aku baru menyadarinya,tapi aku hanya bisa mendengar, tapi tidak bisa berbicara sama sekali.."
__ADS_1
"Seluruh tubuhku juga tidak bisa di gerakan sama sekali, termasuk membuka mata."