
Yi Yi terlihat duduk termenung sambil menatap Yi Han yang sedang berlatih ilmu silat dasar yang di ajarkan oleh Yi Yi.
Dia hari sudah berlalu, sejak kepergian Nenek Yang, Thian San kalau pagi sampai sore terlihat baik-baik saja.
Hanya bila malam tiba, saat waktunya tidur dia agak sedikit rewel dan terus mencari dan memanggil Nenek Yang.
Di tengah malam dia akan terbangun kembali rewel mencari Nenek Yang.
Yi Yi terpaksa tidur menemani anak itu, karena Thian San akan mengamuk dia tidak bersedia ditemani siapapun kecuali ibunya.
Selama dua hari ini, Yi Yi juga mengalami hari-hari berat, dia merasa sangat kehilangan dengan perginya nenek Yang.
Terutama saat makan dan tidur, dia akan selalu teringat dengan nenek Yang, saat makan dia akan teringat dengan masakan Nenek Yang.
Saat tidur, di mana saat ini dia sering galau dan sedih, dia akan selalu teringat dengan kehangatan dan perhatian tulus Nenek Yang yang selalu bisa memberinya ketenangan.
Setelah kepergian Nenek Yang, Yi Yi justru tidak lagi merindukan dan membayangkan Bun Houw.
Kini yang menghiasi seluruh pikiran nya, adalah nenek tua itu.
Sedangkan Ayah Yi Yi, yang sedang duduk di ruang kerjanya, juga terlihat pusing dan terus memijat-mijat dahinya sendiri.
Dia tentu tahu kesedihan anak dan cucunya, tapi dia tidak bisa mengurus lebih jauh, ataupun ada waktu pergi menghibur mereka.
Karena masalah dirinya sendiri sangat banyak dan belum terselesaikan.
Kini seminggu sudah berlalu, sejak perintah dari kaisar dia terima, tapi belum ada tanda-tanda dia akan menggerakkan Pasukan nya meninggalkan Xiang Yang.
Saat Jendral tua itu sedang duduk termenung menatap peta di depan nya.
Dari arah pintu terdengar langkah kaki memasuki ruangan nya.
Terdengar seseorang berkata,
"Saya dengar Panglima Sie mencari saya, apa yang bisa saya lakukan buat panglima Sie ?"
Jendral tua itu, segera mengangkat kepalanya dan menatap kearah pintu, di mana suara itu berasal.
Jendral Sie melihat seorang pemuda sedang tersenyum kepada nya, pemuda tersebut bertubuh tinggi tegap berbadan atletis, menggunakan sebuah topeng besi menutup hampir 3/4 wajahnya.
Hanya terlihat sorot matanya yang tajam dan bibirnya yang merah, dengan dagunya yang ada sedikit belahan ditengah, membuatnya terlihat lebih jantan.
Jendral Sie langsung tertawa lantang, berdiri dari tempat duduknya menghampiri pemuda tersebut dan memberi hormat kepadanya.
Dan berkata,
"Senang bertemu dengan anda silahkan duduk.. silahkan duduk..."
"Pelayan...pelayan...!!"
__ADS_1
Seorang kepala pelayan segera masuk kedalam ruangan dan berkata,
"Tuan besar ada pesan apa ?"
"Segera siapkan jamuan untuk tamu penting kita, sekalian undang beberapa Jendral ku dan Yi Yi kemari, katakan pada mereka ada urusan penting yang akan di bicarakan."
pesan Jendral Sie cepat.
Kepala pelayan itu mengangguk kemudian mengundurkan diri pergi menjalankan pesan dari tuannya.
"Panglima Sie tidak perlu repot-repot seperti ini, cukup katakan saja apa yang bisa kulakukan, aku akan segera melaksanakannya."
ucap si Topeng Besi yang merasa sungkan.
Jendral Sie menanggapinya dengan tertawa dan berkata,
"Anda jangan sungkan, tenang saja jamuan ini tidak akan menunda pekerjaan kita sama sekali."
"Justru setelah perjamuan sederhana ini, kita bisa merundingkan langkah-langkah penting yang akan kita jalankan nanti."
Selagi mereka berdua sedang asyik berbincang-bincang, Yi Yi melangkah memasuki ruangan sambil menggandeng tangan putranya Thian San.
Panglima Sie sedikit mengerutkan alisnya melihat Yi Yi datang membawa putranya.
Tapi panglima Sie tidak berkata apa-apa, dia hanya merasa kurang pantas Yi Yi membawa putranya hadir kedalam rapat penting.
Panglima Sie dapat bernafas lega, dan dia pun pura-pura tidak melihat dan tidak tahu.
Yi Yi sedikit terkejut saat memasuki ruangan, melihat kehadiran si Topeng Besi yang akhir-akhir ini sering menghiasi pikirannya.
Wajah Yi Yi sedikit merah menahan malu, melihat kehadiran si Topeng Besi di sana.
Untungnya Si Topeng Besi, tidak sedang memperhatikan dirinya, lebih terlihat fokus kepada Thian San.
Sehingga rasa canggungnya jauh berkurang, Thian San melepaskan gandengan tangan ibunya menghampiri si Topeng Besi dan bertanya dengan berani.
"Paman siapa ? mengapa ada di sini ?"
"San er jangan kurang ajar dengan tamu kakek !"
tegur Panglima Sie yang merasa tidak enak.
Yi Yi juga terkejut dan cepat berkata,
"San er jangan nakal dan tidak sopan..!"
Tapi si Topeng Besi melambaikan tangannya kearah Yi Yi dan Panglima Sie, dia bangkit dari kursinya lalu berjongkok di depan Thian San berkata,
Paman kesini karena ada urusan penting dengan kakek Air, kakek Sie yang mengundang paman kemari."
__ADS_1
"Anak baik kamu tidak berteman dengan paman ?"
Thian San langsung menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Ibu berpesan San San tidak boleh bergaul dengan orang asing.."
"Paman memakai topeng, kita tidak saling kenal maaf San San tidak bisa berteman dengan paman.."
Yi Yi menjadi pucat mendengar ucapan polos anaknya, dia merasa sangat tidak enak hati dengan Si Topeng Besi.
Sedangkan wajah panglima Sie sudah merah padam menahan malu dan tidak enak hati.
Tapi Si Topeng Besi tidak tersinggung dia malah tersenyum dan berkata,
"San er, bila paman melepaskan topeng paman, maukah kamu berteman dengan paman."
Thian San mengangguk dan berkata,
"Asal ibu tidak melarang, San San akan berteman dengan paman.."
Si Topeng Besi tersenyum, kini dia menatap ke Yi Yi dan bertanya,
"Yi Yi bolehkah aku menjadi teman anak mu..?"
Yi Yi sangat terkejut dan tidak menyangka si Topeng Besi akan bertanya kepadanya.
Dengan wajah merah karena grogi dan malu, dia hanya menganggukkan kepalanya.
Melihat hal itu Si Topeng Besi tersenyum, kemudian menoleh kearah Thian San dan berkata,
"Lihat ibu mu sudah setuju San er.."
Kemudian Si Topeng Besi kembali berjongkok di hadapan Thian San, dan mengulurkan jari kelingkingnya didepan wajah Thian San.
Thian San mengulurkan jari kelingkingnya yang kecil mengait pada jari kelingking Si Topeng Besi.
Seperti yang biasa sering dia lakukan dengan nenek Yang.
Sambil mengaitkan kelingking Thian San berkata,
"Paman jangan lupa janji mu soal topeng.."
Si Topeng Besi tersenyum dan mengangguk kan kepalanya, kemudian dia menggendong Thian San kesebuah sudut ruangan.
Dia berjongkok di depan Thian San memunggungi Panglima Sie dan Yi Yi.
Kemudian dia melepaskan Topeng Besi yang menutupi wajahnya di hadapan Thian San.
Thian San terbelalak menatap wajah si paman Topeng Besi, dia sedikit melongo melihatnya.
__ADS_1