
Dari beberapa hari yang lalu, Wu Song sudah merasakan nya, selain kehilangan kekuatan untuk berdiri dan berjalan, fokus dan ingatan istrinya juga mengalami gangguan.
Beberapa hari yang lalu, Wu Song membuatkan sup pangsit kesukaan Istrinya untuk sarapan, tapi ketika siang Istrinya mengatakan padanya sudah lama tidak mencicipi sup pangsit buatan Wu Song.
Dia mengatakan pada Wu Song sangat ingin makan masakan itu.
Wu Song membuatnya dengan berlinang air mata mengingat kondisi Istrinya yang mulai memburuk.
Ketika selesai dan Wu Song menyuapinya dia hanya makan beberapa suap dan mengatakan pada Wu Song dia sudah kenyang dan mengantuk ingin tidur meminta Wu Song melanjutkan makannya sendirian.
Wu Song hanya bisa makan sendirian membelakanginya agar tidak sampai terlihat oleh Istrinya.
Dia makan bercampur airmata, Wu Song sudah tidak bisa membedakan asin dari sup pangsitnya atau asin itu berasal dari airmata nya.
Semua kepedihan dan kesedihan yang menyesakkan dadanya hampir membuat dirinya kesulitan bernapas.
Sehingga dia pun menghentikan makannya, ketika mendengar hembusan nafas yang lembut dan halus dari Istrinya.
Menandakan Ceng Ceng telah tidur lelap.
Keesokan harinya kejadian serupa kembali terulang, dan Ceng Ceng selalu meminta dibuatkan sup pangsit.
Mungkin didalam memori Ceng Ceng telah tertanam dengan kuat kesan dari masakan tersebut.
Karena masakan tersebut adalah makanan yang Wu Song buat pertama kali untuknya waktu itu, dan membuatnya jatuh hati pada Wu Song.
Mengingat hal ini hati Wu Song semakin sakit dan pedih seperti sedang diiris ribuan mata pisau.
Wu Song tetap menyiapkan masakan pesanan Ceng Ceng seorang diri sambil menahan sedu sedan yang menyesakkan rongga dadanya.
Sedangkan airmata terus mengalir tanpa henti, setiap kali Wu Song harus menengadah mengambil nafas panjang dan menghapus air mata nya dengan lengan bajunya yang kini sudah basah seperti habis dicelup kedalam air.
Semua koki di dapur tidak berani mendekat dan mengganggunya.
Mereka hanya bisa diam memperhatikan nya dari jauh.
Kemarin Ceng Ceng berubah menjadi sangat ceria dan segar dia bercerita terus menerus tiada henti.
Bahkan semalam pun dia bercerita sampai larut malam seperti takut hari esok dia tidak sempat berbicara lagi dengan Wu Song.
Wu Song paham dia menahan seluruh kesedihan nya dalam hati dia tidak ingin menunjukkan nya didepan Ceng Ceng dan membuat Ceng Ceng ikut sedih disaat-saat terakhirnya.
__ADS_1
Ini adalah tenaga terakhirnya pikir Wu Song, dia harus memanfaatkan momen terakhir ini sebaik-baiknya sebagai kenangan terindah untuk Ceng Ceng sebelum pergi meninggalkan semuanya.
Sesuai dugaan Wu Song keesokan harinya Ceng Ceng terlihat sangat lemah, bahkan untuk membuka matanya pun terasa sulit.
Ceng Ceng memaksakan diri membuka matanya yang indah menatap Wu Song dengan lembut kemudian berkata,
"Song ke ke aku ingin duduk-duduk didekat taman."
Wu Song hidungnya dan kedua sela pipinya mulai basah, dengan hati-hati dia menggendong Ceng Ceng untuk duduk di tempat peristirahatan di taman.
Ceng Ceng duduk dalam pangkuan Wu Song dan dia menggelayut manja dalam dekapan Wu Song.
Wajah Ceng Ceng sangat pucat, tapi dia tetap terlihat sangat cantik.
Sambil tersenyum lembut menatap Wu Song Ceng Ceng berkata,
"Song ke ke sebenarnya aku tahu hati mu sebenarnya sangat mencintai kakak seperguruan mu Lu Ping kan."
Wu Song tertegun, tapi kemudian dia mencoba membantah,
"Sayang kamu berpikir terlalu banyak dihatiku cuma ada kamu seorang, kamu tidak perlu meragukan nya lagi."
Sambil tersenyum hangat Ceng Ceng membelai wajah Wu Song,
Sayang kamu jangan...Wu Song mencoba membantah tapi langsung dipotong oleh Ceng Ceng.
"Begini Song ke ke, hal termudah saja kenapa kamu memilih wanita yang mirip dengan kakak Lu Ping untuk menjadi istrimu..?"
Pertanyaan ini langsung membuat Wu Song terdiam mati kutu, tidak dapat berkata-kata lagi.
Kemudian sambil menatap Wu Song dan tetap tersenyum hangat Ceng Ceng kembali berbicara.
"Song ke ke sebenarnya aku mengetahui nama Ping er sudah sangat lama, sejak kita menikah bahkan di malam pertama kita."
"Ketika kamu tertidur dan bermimpi nama yang selalu kamu sebut adalah nama Ping er ini."
Wu Song terlihat terkejut dan sangat menyesal dia kini merasa dirinya sangat bersalah dan berhutang banyak kepada istrinya Ceng Ceng yang begitu mengerti dan memahami dirinya.
Ceng Ceng kembali melanjutkan,
"Yang tidak aku sangka adalah wajah Ping er sangat mirip dengan ku.
__ADS_1
Saat kamu memperkenalkannya sebagai kakak seperguruan mu, akupun sadar kenapa kamu bersedia menerima cinta ku dulu."
Wu Song sekali ini langsung membantahnya,
"Tidak.. tidak.. tidak seperti itu.!
"Aku akui pada awalnya aku tertarik dan ingin dekat denganmu adalah karena wajahmu mirip Ping er."
"Tapi setelah kita semakin dekat aku pun menyadari aku benar-benar telah jatuh cinta dan menyukai dirimu seutuhnya."
"Apalagi setelah kita menikah, aku sudah menyimpan dalam-dalam perasaan ku pada Ping er."
"Didunia ku hanya ada kamu seorang Ceng Ceng istriku yang sangat ku cintai."
"Kalau kamu tidak percaya aku hanya dapat bersumpah pada langit."
"Aku Wu Song bersumpah bila di kemudian hari aku.... " Sebelum ucapan nya selesai bibirnya ditutup dua jari Ceng Ceng yang halus dan lembut tapi saat ini jarinya sangat dingin berbeda jauh dengan biasanya.
Merasakan ini hidung Wu Song kembali basah dan airmata kembali mengaliri kedua sela pipinya.
Ceng Ceng menghapus air mata Wu Song dengan lembut menggunakan jarinya.
Sambil tersenyum bahagia dia berkata,
"Song ke ke aku percaya padamu, aku percaya semua kata-kata mu.
Kamu tidak perlu sampai bersumpah, sebagai istri mu aku terlalu mengenal mu aku mempercayai mu sepenuhnya."
Ceng Ceng kembali menyentuh wajah Wu Song dengan tangan nya dia kembali berkata,
"Song ke ke aku ada dua permintaan, tapi kamu harus berjanji untuk menuruti permintaan ku ini tidak boleh membantah dan protes bersedia kah kamu memenuhinya."
Wu Song sadar mungkin ini adalah permintaan terakhir istrinya, jadi tanpa berpikir panjang dan ragu-ragu lagi dia langsung mengangguk kan kepalanya berkali-kali sambil berkata,
"Baiklah.. baiklah... katakanlah apa saja permintaan mu aku pasti akan memenuhinya."
"Ping Cie Cie keluarlah jangan terus bersembunyi disana, kemarilah...!" ucap Ceng Ceng sambil melambai ke salah satu pohon yang letaknya cukup jauh dari tempat mereka berdua.
Dari balik pohon berjalan keluar Lu Ping dengan kepala tertunduk tidak berani menatap Wu Song.
Wajah cantiknya kini dipenuhi linangan air mata yang mengucur deras dan jatuh menitik ke bajunya.
__ADS_1
Lu Ping menatap Ceng Ceng dengan sedih dia tidak tega melihat, wajah Ceng Ceng yang pucat dan lemah.
Lu Ping berdiri tepat disebelah Ceng Ceng berlawanan arah dengan posisi Wu Song.