
Tubuh Lu Fan terus melayang kearah walikota Xiao Pei yang dilindungi oleh jendral Kuo dan ke lima Perwira bawahan Jendral Kuo.
Lu Fan mengeluarkan jurus cakar tulang putih yang di ajarkan ibu Xue Yen.
Hasilnya golok Jendral Kuo hancur berkeping-keping ketika bertemu dengan cakar Lu Fan.
Cakar Lu Fan tetap meluncur mencengkram baju dibagian dada yang terlindung Perisai pelindung dada.
Tapi perisai pelindung dada langsung ikut hancur berantakan saat bertemu cakar Lu Fan yang sangat kuat.
Akhirnya Lu Fan berhasil mencengkram baju dibagian dada Jendral Kuo dan melemparnya kearah pasukan panahnya.
Kelima perwira itu segera menebaskan golok mereka ke 5 arah tubuh Lu Fan, meski terlihat serentak.
tapi sebenarnya tebasan golok yang terarah ke 5 bagian tubuh Lu Fan, yang benar-benar bersamaan hanya dua.
Yaitu tebasan kearah leher dan perut, sisanya kearah kaki pinggang dan kepala datangnya susul menyusul dalam tempo selisih 1 atau 2 detik.
Tapi bagi Lu Fan itu memudahkan dirinya untuk terus bergeser maju menangkap walikota korup itu.
Tebasan kearah kepala yang datang duluan dihindari dengan miringkan kepala,
Disaat hampir bersamaan dengan saat dia memiringkan kepala menghindari tebasan kearah kepala
Tebasan kearah kaki ditendang bagian pergelangan tangan yang memegang golok oleh kaki Lu Fan.
Tebasan kearah leher dan perut yang datangnya serentak disentil tepi goloknya oleh jari Lu Fan.
Sebelum tebasan tersebut sampai, Lu Fan memberikan pukulan kearah dada Perwira yang menebaskan goloknya ke bagian pinggangnya.
Lu Fan bergerak cepat menyelinap diantara serangan mereka hanya butuh beberapa detik Lu Fan sudah mencekik leher pejabat korup itu.
Walikota ketakutan wajahnya yang congkak tadi kini pias, keterampilan bicaranya hilang begitu jiwanya terancam.
Segera dia menyuruh pasukan dan pengawal pribadinya mundur menjauh.
Lu Fan memaksa sang walikota menuliskan semua dosa-dosa yang telah dia lakukan bersama anaknya.
Kemudian di beri stempel dan tanda tangan dari walikota tersebut.
Lu Sun membacakan semua pengakuan walikota dan meminta para warganya memberitahu dirinya bila ada dosa yang terlewat dan belum tertulis.
__ADS_1
Satu persatu warga maju memberi laporan dan walikota tersebut terpaksa menulisnya.
Di bawah cengkraman jari Lu Fan walikota korup itu tidak berani macam-macam. Dia terpaksa menambahkan semua dosa yang disebutkan warganya.
Setelah surat itu diedarkan dan di tandatangani oleh seluruh warga.
Lu Fan meminta salah satu warga yang bisa berkuda melemparkan sekantung uang yang dia ambil dari walikota korup itu.
Untuk pergi ke Ibukota LUO YANG menyampaikan surat ini kepada Perdana Menteri Si Ma Jian.
Lu Fan tidak puas sampai disitu saja, Lu Fan mengencangkan cengkraman tangannya,
Membuat walikota mengeryit kesakitan.
"Di mana kamu simpan harta mu tunjukkan padaku bila berani ber bohong aku akan memotong semua bagian tubuh mu satu persatu."
Celana walikota itu tiba-tiba basah, dengan tubuh gemetar walikota membawa Lu Fan menuju kediamannya.
Walikota tidak berani macam-macam dia menunjukkan semua tempat penyimpanan harta miliknya.
Lu Fan meminta Pelayan di kediaman walikota membawa semua harta itu ke halaman depan.
Semua warga di minta maju mengambil harta tersebut dengan membentuk antrian.
Setelah memiskinkan walikota tersebut Lu Fan memberikan hukuman potong burung dan mengusirnya dari Xiao Pei.
Sepasang kakek kembar sudah melarikan diri sejak walikota di tangkap oleh Lu Fan.
Mereka tidak mau berkorban sia-sia menghadapi Lu Fan yang sakti.
Mereka berprinsip selama masih ada hutan dan gunung yang masih hijau, tidak takut tidak ada kayu bakar..
Selama warga sibuk mengantri pembagian harta yang di atur oleh pelayan kediaman walikota.
Lu Fan diam-diam meninggalkan tempat itu membuang topengnya dan kembali ke warung arak di dekat mulut jalan menuju toko obat Yao Su.
Lu Fan melanjutkan makan minum di sana, Lu Fan di layani sangat hormat oleh pelayan dan pemilik kedai yang mengira Lu Fan bernama Si Men Cing.
Setelah puas makan minum Lu Fan pulang ke lembah, tapi hanya bertahan dua hari.
Hari ke 3 dia kembali muncul duduk di kedai arak itu.
__ADS_1
Dari pagi-pagi dia sudah duduk melamun melihat warga yang berlalu lalang di jalan sambil minum arak Hang Zhou.
Lu Fan kembali menyuruh Pelayan mengantarkan sarapan ke toko obat Yao Su.
Lin Lin menerima sarapan yang diantar Pelayan itu dengan gembira.
Setelah 3 hari berturut turut selalu menerima sarapan dari Si Men Cing .
Pada hari ke 3 sore-sore sehabis tutup toko Lin Lin pergi mengunjungi kediaman Si Men Cing.
Sampai di depan kediaman Si Men Cing Lin Lin memberitahu penjaga pintu dia bernama Lin Lin ingin bertemu tuan muda Si Men Cing.
Penjaga pintu cepat-cepat masuk kedalam mengabari Tuan mudanya, tak lama kemudian seorang pemuda tampan berpakaian putih bersih membawa sebuah kipas keluar menyambut Lin Lin.
"Hai adik Lin Lin lama tidak berjumpa apa kabarmu?" ucap Si Men Cing lemah lembut penuh perhatian.
Mendapatkan perlakuan lemah lembut dan penuh perhatian dan pemuda yang dikaguminya, wajah Lin Lin langsung menjadi merah, dengan suara lembut dan manja Lin Lin menjawab,
"Kabarku baik Si Men Ke ke, kedatangan ku untuk mengucapkan terima kasih atas sarapan pagi yang kamu kirim setiap pagi."
Si Men Cing dalam hati terkejut, tapi diwajahnya tidak terlihat.
Dia berpikir ini adalah sebuah
kesalah pahaman yang membawa berkah sungguh bodoh bila dia menolaknya.
Dia harus memanfaatkan peluang ini sebaik-baiknya untuk mendekati Lin Lin yang sangat cantik ini.
Sambil tersenyum lembut Si Men Cing berkata,
"Itu cuma hal kecil jangan terlalu di ambil hati dan dibesar-besarkan."
Si Men Cing melihat tangan Lin Lin membawa sebuah keranjang, ini kesempatan pikirnya,
"Adik Lin Lin membawa apa di tangan?" tanya Si Men Cing pura-pura bodoh.
Sambil tersenyum Lin Lin menjawab,
"Ini saya hari ini ada membuat Coi Pan, (sejenis kue tradisional cina yang berisi bengkuang cincang dan daging ayam dan udang yang dihaluskan) saya membawanya untuk di cicipi Si Men ke ke."
"Kalau rasanya kurang enak harap di maklumi ya." ucap Lin Lin malu-malu.
__ADS_1
"Bicara disini sungguh tidak enak, ayo kita masuk kedalam ngobrol sambil makan Coi Pan ini." ucap Si Men Cing sambil menerima keranjang Lin Lin.
"Maaf Si Men Ke ke ini.. ini.. toko ku sedang sibuk tidak bisa di tinggal lama sehabis mengantarkan ini saya harus segera pulang." ucap Lin Lin sedikit ragu, kemudian menggunakan alasan toko yang sibuk menutupi rasa Canggung dan malunya yang berinisiatif mengunjungi seorang pria duluan.