LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM

LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM
TIBA DI KOTA JIANG LING.


__ADS_3

Yi Yi juga teringat saat-saat terakhir dia akhirnya memutuskan kembali kerumahnya,


Seperti biasanya bila Thian San sudah tidur Yi Yi akan duduk santai di bawah pohon Dao Hua yang rindang dan cantik.


Termenung memikirkan apa yang sedang di lakukan oleh Bun Houw kekasihnya bersama istrinya sekarang.


Bahagia kah Bun Houw saat ini hidup tanpa dirinya, ingin rasanya Yi Yi membawa Thian San menemui Bun Houw.


Tapi Yi Yi sadar ini hanya khayalan yang tidak mungkin terwujud, kehadirannya justru hanya menjadi perusak kerukunan rumah tangga Bun Houw.


Dan membuat kekasihnya berada dalam posisi sulit, Yi Yi menghela nafas panjang.


Menatap awan yang putih yang berarak tertiup angin.


Sesaat kemudian Yi Yi menoleh ke sampingnya, dia baru menyadari ternyata Nenek Yang sedang duduk di sebelahnya.


Sedang memperhatikannya dengan serius, Yi Yi pun bertanya,


"Ada apa Nek, kenapa terus memperhatikan ku ? bagaimana hasil penjualan panen ke kota apakah lancar?"


Nenek Yang tersenyum lembut dan berkata,


"Tenang saja Yi er semua berjalan lancar dan baik tidak ada masalah."


"Sebaliknya nenek melihat masalah hati mu yang tidak kunjung sembuh, Thian San pun sudah berumur setahun."


"Bila kamu tidak bisa melepaskannya, biarlah nenek menemanimu dan Thian San untuk meraihnya kembali."


"Tapi bila kamu tidak bersedia mengganggu hidupnya lagi, maka lepaskanlah dia, relakan lah, anggap saja semua adalah suatu kesalahan tak perlu di sesali lagi." ucap Nenek Yang memberi nasehat.


Yi Yi tersenyum pahit dan berkata,


"Bicara mudah melakukannya yang sulit, aku juga setiap hari berpikir seperti yang Nenek katakan tapi hati ini, tidak mau menuruti jalan pikiran ku."


"Bagaimana pun kami telah bersama-sama hampir 5 tahun, bagaimana mungkin bicara lupa langsung lupa." ucap Yi Yi sedih airmata kembali menetes.


Nenek Yang menghapus air mata Yi Yi meraih kepala Yi Yi dan memeluknya sambil berkata,


"Sudahlah jangan menangis lagi anak baik, apa kamu masih merasa airmata mu masih tidak cukup asin kah?"


"Kita jangan bahas hal itu lagi bila hanya mengundang kesedihan mu,"


"Ohh ya, tadi aku mendengar kabar ayah mu sedang mengajukan pengunduran dirinya."

__ADS_1


"Kota raja sedang bergolak hebat, kabarnya Kaisar berencana mengangkat Si Ma Yan menggantikan dirinya."


""Karena Si Ma Ong ternyata bukan putra kandung kaisar, kini Si Ma Ong sedang berada di Souw Chun mengumpulkan kekuatan nya bersiap melakukan kudeta."


Yi Yi sangat kaget mendengar kabar ini, selain mengkhawatirkan ayahnya.


Dia juga mengkhawatirkan nasib Bun Houw.


Yang merupakan abdi setia Si Ma Ong, Bun Houw pasti akan ikut terlibat.


Yi Yi menatap Nenek Yang dengan bingung, dan bertanya,


"Apa yang harus ku lakukan sekarang nek,? aku mengkhawatirkan mereka, aku tidak bisa berdiam diri di sini."


Nenek Yang terlihat berpikir sejenak kemudian berkata,


"Ada baiknya kamu kembali ke sisi ayah mu, beliau sudah tua dan kamu putri satu-satunya."


"Bila kamu kembali tentu dia hidupnya akan lebih bahagia di masa pensiunnya, di sisi lain dengan kemampuan mu kamu bisa melindunginya."


"Selain itu Thian San juga harus dipertemukan dengan kakeknya."


"Soal Bun Houw aku tidak tahu pasti dia akan mengambil sikap apa? tapi yang jelas keberadaan mu di sisi ayah mu, mungkin bisa menghindarkan bentrokan di antara mereka."


Saat kembali pulang ke rumah suasana mengharukan mewarnai pertemuan ayah dan anak yang hampir 5 tahun berpisah.


Yi Yi tidak menyangka saat dia pulang kerumah ayahnya, dalam kondisi memalukan seperti ini.


Kata-kata pertama yang terucap dari ayahnya yang terkenal keras dan tanpa kompromi adalah,


"Tidak apa-apa anak ku, asal kamu pulang itu sudah sangat baik."


"Tidak ada yang perlu kurisau kan lagi,


di hari tua ku ini, hidup ayah tidak ada penyesalan lagi."


Yi Yi tidak bisa berkata apa-apa lagi dia hanya bisa menangis terharu dalam pelukan ayahnya.


Sie Jin Kui berusaha menenangkan putri nya dan berkata,


"Sudah jangan menangis lagi, sudah besar malu di lihat orang.


Ayo kita masuk ke dalam, kamu datang bersama siapa? kamu belum kenalkan pada ayah."

__ADS_1


Yi Yi mengangguk dan melepaskan pelukannya dengan kepala tertunduk berkata,


"Anak kecil itu putra ku, dan Nenek itu adalah Nenek Yang, yang selama ini banyak menolong diri ku."


"Tanpa dirinya mungkin ayah tidak bisa bertemu lagi dengan kami."


Setelah masuk kedalam rumah, Yi Yi menceritakan semua tentang dirinya dan Bun Houw.


Jendral Sie hanya menghela nafas panjang dan berkata,


"Sudahlah lupakan saja dia, mulai sekarang kamu dan Thian San cucu ku ini, hidup bersama ayah saja di sini."


Maka sejak hari itu Yi Yi pun hidup bersama ayahnya, ada satu hal yang membuat Jendral tua itu bangga adalah putrinya berhasil mewarisi kesaktian ilmu pulau es.


Sehingga dia tidak perlu khawatir lagi, bila suatu hari dia tiada, putrinya bisa melindungi dirinya sendiri dan Thian San cucunya.


Sementara itu Wu Song dan Lu Ping sudah diam-diam meninggalkan kediaman Jendral Sie, setelah melihat kondisi di sana sudah aman.


Wu Song tidak berani berlama-lama disana, karena di sana ada Si Ma Ling, yang nanti bisa menimbulkan salah paham dan kecemburuan istrinya


Sepanjang jalan mereka berdua cuma membahas kesaktian pemuda bertopeng dan pemuda berpakaian tambal-tambalan yang cukup mengejutkan.


Tanpa terasa mereka berdua telah kembali lagi ke penginapan.


Wu Song kembali ke penginapan hanya untuk makan minum sepuasnya, setelah itu dia memutuskan hari itu juga meninggalkan Xiang Yang .


Wu Song tidak mau berlama-lama di Xiang Yang adalah demi istrinya yang akhir-akhir ini sangat sensitif.


Mudah marah dan menangis, Wu Song tidak ingin melihatnya bersedih yang nantinya bisa berefek buruk dengan kandungan istrinya.


Berdasarkan pengalaman Ceng Ceng, Wu Song sangat takut bila Lu Ping nanti mengalami nasib sama seperti Ceng Ceng.


Jadi Wu Song berusaha sebisa nya membuat Lu Ping bahagia dan tersenyum.


Wu Song melanjutkan perjalanan nya menuju selatan yang memiliki pemandangan yang indah


Setelah menempuh perjalanan selama 6 hari akhirnya mereka berdua tiba d kota Jiang Ling.


Memasuki kota Jiang Ling, Wu Song langsung mencari sebuah penginapan dan restoran yang paling besar di kota itu


Saat memasuki restoran Wu Song yang melihat restoran terlalu ramai jadi malas, Wu Song berpesan kepada pelayan agar makanan di antar ke kamar saja.


Wu Song berpikir makan di kamar lebih tenang dan nyaman, mengurangi keributan tak perlu

__ADS_1


__ADS_2