
Kakek itu terus melanjutkan langkahnya tanpa menoleh kebelakang.
"Wu Song kembali berteriak 5 x lipat."
Tiba-tiba pemuda kekar itu yang menjawab,
"Biar aku saja bila ayah ku tidak mau."
Orang tua itu mendelik dan memakinya,
"Anak Setan, kamu mau cari mati.?
Tidak sayang nyawa lagi hah..? istri mu sebentar lagi akan melahirkan, kamu mau anak mu lahir tanpa bapak ."
"Pikir pakai otak mu, yang kecil itu." ucap orang tua itu dengan emosi memarahi anak nya.
Tapi pemuda hitam itu tidak perduli dia tetap melangkah kearah Wu Song dengan santai.
"Berhenti kamu...! anak durhaka...!"
Pemuda itu berhenti dan berkata,
"Akan lebih durhaka, bila aku terus menggantungkan hidup ku terus menerus dengan ayah.'
"Kini anak ku sebentar lagi akan lahir beban akan semakin bertambah, bila aku terus bergantung pada ayah, maka sia-sialah hidup ku."
Mendengar kata-kata anaknya orang tua itu memejamkan matanya, dan menghela nafas panjang, lalu berkata.
"Kamu sudah dewasa, cepat lambat kapal ini akan menjadi milik mu, gunakan kapal ini saja."
"Jangan gunakan kapal kecil mu yang sudah tua itu."
"Hati-hati dijalan cepat pergi cepat pulang."
Setelah mengucapkan hal itu kakek itu pun berjalan pergi meninggalkan kapalnya.
Pemuda hitam itu menjatuhkan diri berlutut dan berteriak,
"Terimakasih ayah...aku akan selalu ingat pesan ayah...!"
Pria tua itu hanya berjalan pergi sambil diam-diam menghapus airmatanya.
Wu Song menepuk pundak pemuda itu dan berkata,
"Tenang saja, aku jamin kamu dan kapal mu pasti bisa pulang dengan selamat."
Tak lama kemudian kapal pun mulai berlayar meninggalkan dermaga, butuh menempuh perjalanan 3 hari dua malam.
Kapal tersebut baru sampai ke lokasi yang di tuju, dari ke jauhkan mulai terlihat sebuah pulau berwarna merah.
__ADS_1
Pemuda itu menunjuk dan berkata dengan gembira,
"itu pulau karang merah, sebentar lagi kita akan sampai."
Wu Song menatap ke arah yang di tunjuk sambil mengangguk dia memberikan sekantung uang perak kepada nelayan muda itu dan berkata,
"Cukup sampai di sini saja, 3 hari kemudian datanglah kemari menjemput kami."
"Bila sampai matahari terbenam kami belum juga muncul, segera Tinggalkan tempat ini, jangan pernah datang lagi."
"Gunakan uang itu dengan baik, demi.masa depan anak dan istri mu." ucap Wu Song sambil menepuk-nepuk pundak pemuda itu.
"Tapi kalian berdua bagaimana kesana...?" ucapan belum selesai dia sudah melongo.
Melihat Wu Song dan Lu Ping terbang di atas laut menuju pulau tersebut.
Pemuda itu langsung menjatuhkan diri berlutut dan berkata,
"Dewa... terima kasih Dewa Sudi menumpang perahu kami dan membantu keluarga kami dengan rejeki ini."
Setelah memanjatkan doa, pemuda itu segera memutar perahunya meninggalkan lokasi tersebut untuk kembali ke dermaga Cin.
Pemuda itu berjanji di dalam hati 3 hari kemudian dia pasti akan kembali untuk memenuhi janjinya kepada kedua Dewa tersebut.
Sedangkan Wu Song dan Lu Ping kini sudah mendarat ringan di atas pulau karang merah.
Wu Song dan Lu Ping menanggapinya dengan tenang sedikitpun tidak terlihat rasa takut di wajah mereka berdua.
Wu Song menunjuk para anak buah bajak sungai dan berkata,
"Kalau tahu diri cepat panggil ketua kalian si Cucut hitam dan anak angkatnya Cun Ming kemari."
""Bila tidak kalian semua akan merasakan akibatnya." ucap Wu Song sambil tersenyum dingin.
Menurut pikiran Wu Song menghadapi para penjahat seperti ini tidak ada cara lain, bila tidak menurut hanya ada satu jalan.
Hajar sampai mereka mau menurut.
Para bajak sungai tertawa-tawa dan salah satunya yang wajahnya di penuhi brewok berkata,
"Pemuda sombong, saat kami menikmati gadis disebelah mu beramai-ramai, saya masih mau melihat apakah kamu masih bisa sombong."
"Teman ayo maju tangkap mereka...!!" teriak pria brewokan itu pada teman-teman nya yang lain.
Maka puluhan bajak sungai itu langsung mengayunkan berbagai jenis senjata kearah Wu Song.
Wu Song hanya menggeser kakinya dengan langkah tanpa bayangan dan beberapa pukulan dan tendangan jurus dasar ilmu silat, sesaat saja para bandit yang berjumlah puluhan orang itu jatuh tunggang-langgang..
Lu Ping juga tidak tinggal diam dengan sepasang cakarnya dia bergerak terbang kesana kemari dengan ringan.
__ADS_1
Lu Ping memadukan Cou Sang Fei dengan cakar tulang putih, sekejap saja puluhan bajak sungai bergulingan mengaduh-aduh tulang tangan ataupun kaki mereka remuk terkena cengkraman Lu Ping.
Saat Lu Ping melepaskan pukulan es abadi puluhan bajak sungai berdiri mematung tak bergerak seperti potongan es beku.
Saat ditendang tubuh .mereka jadi hancur berkeping-keping.
Sisa bandit bajak sungai hanya berani mengepung tapi tidak berani maju.
Saat Wu Song dan Lu Ping dengan santai berjalan maju mereka pada melangkah mundur.
Ada beberapa yang nekat melakukan serangan membokong dari belakang.
Mereka harus menerima konsekwensi berubah menjadi patung es.
Hal ini membuat rombongan bandit sungai semakin pecah nyalinya, beberapa berlari ketengah pulau melapor
Sisanya hanya berani mengepung dan main mundur.
Beberapa bandit yang pergi melapor, tiba di depan pintu ruangan sebuah rumah besar berteriak-teriak.
"Ketua....! Ketua ...! ketua gawat,. ada dua orang sakti datang menyerang pulau kita...!"
Beberapa orang pelapor napasnya tersengal-sengal mereka beberapa kali terjatuh dan merangkak kedalam ruangan memberikan laporan.
Ketua ketiga yang berjuluk Buntut Cucut Hitam Lo Kai berdiri dari kursinya dan membentak,
"Bikin malu saja...! dasar tak berguna...! kalian jumlahnya hampir 300 orang menghadapi dua orang penyusup saja panik sampai begini...!"
Orang kedua yang berjuluk Sirip Cucut Hitam Lo Que juga ikut menegur,
"Kalian ber 4 ceritakan dengan jelas, jangan bikin malu, kita lagi ada tamu penting di sini."
Ke 4 anggota bandit sungai mencoba menenangkan diri, Kemudian mulai menjelaskan secara rinci termasuk bagaimana teman-teman mereka tewas menjadi batu es dan tulang remuk.
Kedua tamu undangan terlihat tertarik, mereka saling pandang dan tersenyum.
Jiwa petarung mereka terpancing begitu mendengar cerita anak buah bajak sungai itu.
Salah satu tamu undangan berwajah gagah berjenggot putih berkata,
"Wah adik Lo Ih ini jadi menarik, ayo kita pergi melihat-lihat kesana."
Lo Ih adalah orang pertama pimpinan dari kelompok Cucut hitam, Julukan nya adalah Kepala Cucut Hitam.
Dia segera mengangguk dan berkata sambil tertawa,
"Ha...ha...ha...! benar senior Zhou, mari kita pergi lihat siapa yang punya nyali begitu besar berani mencari gara-gara di sini."
"Senior Zhou, senior Wen silahkan.." ucap Lo Ih sambil dengan sedikit membungkuk mengulurkan tangan mempersilahkan kedua tamu undangan nya berjalan di depan.
__ADS_1