LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM

LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM
MENANGKAP BAI LUN


__ADS_3

Jendral Kam sedikit terkejut saat mendengar ada yang memutuskan rantai dan mendobrak pintu tahanan.


Dia mengangkat kepalanya melihat kearah pintu saat dia melihat siapa yang memasuki ruangan Penjara.


Jendral Kam sangat senang tapi juga khawatir, dia segera berdiri dan berkata,


"Saudara Song bagaimana kamu bisa ketempat ini ? disini berbahaya sebaiknya kamu cepat tinggalkan tempat ini."


Wu Song tersenyum santai, dia tidak menjawabnya, langsung memutuskan rantai kaki dan tangan Jendral Kam.


Jendral Kam semakin terkejut dengan tindakan yang Wu Song lakukan, ini bukan masalah ringan.


Menerobos penjara, membebaskan tahanan ini adalah tindakan makar, hukuman nya adalah seluruh keluarga bisa terancam dipenggal kepalanya.


"Saudara Song apa yang kamu lakukan ?"


tanya Jendral Kam terlihat panik.


Wu Song menunjukkan sebuah lambang yang berbentuk Plakat Emas yang ada tulisan Thai Huang (Ayahanda Kaisar).


Jendral Kam yang melihat plakat itu, langsung menjatuhkan diri berlutut didepan Wu Song dan menempelkan dahinya kelantai.


"Jendral Kam dengar perintah...! Ibukota sedang darurat segera ambil alih kekuasaan militer."


ucap Wu Song tegas.


Kemudian Wu Song kembali berkata,


"Ambil ini dan segera bertindak lah, mengamankan Istana dan Ibukota, tidak boleh ada kesalahan mengerti..?"


Jendral Kam mengangkat tangannya keatas menerima dua bungkus kain kuning yang berisi stempel kekuasaan militer milik Bai Cu dan Bai Mao.


Setelah menyerahkan kedua stempel itu, tanpa banyak bicara Wu Song langsung meninggalkan ruangan tersebut.


Menuju keruangan lainnya mencari di mana Shi Ma Yan di tahan, tanpa kesulitan Wu Song menemukan pangeran tersebut.


Karena dia di tahan persis di seberang ruang tahanan Jendral Kam, Wu Song kemudian merusak pintu Sel tahanan secara paksa.


Kemudian masuk kedalam sel Tahanan tersebut yang disambut oleh pangeran Shi Ma Yan dengan tatapan terkejut.


Sama seperti Jendral Kam tadi pangeran Shi Ma Yan juga bertanya dengan cemas,


"Kakak Song kenapa kamu kemari ? lebih baik.."


Sebelum ucapan pangeran Shi Ma Ong selesai Wu Song yang tidak mau buang waktu lama, langsung mengeluarkan Plakat Emas menunjukkan kepada Pangeran Shi Ma Yan.


Melihat plakat itu, Shi Ma Yan langsung menjatuhkan diri berlutut dan menempelkan dahinya di atas tanah.


Sambil berkata,


"Yang Mulia ayahanda kaisar panjang umur...panjang umur...panjang umur...!"

__ADS_1


Wu Song segera membangunkan Shi Ma Yan, dan berkata,


"Segera selamatkan para menteri dan pejabat setia yang di kurung, bersiaplah mengambil alih kekuasaan."


"Ini pesan kakek mu, titahnya ada pada ku, saat ini waktu sempit, tolong bantu aku bereskan masalah di sini bersama Jendral Kam."


"Aku harus pergi mengurus Bai Lun saat ini.. permisi..."


ucap Wu Song


Kemudian langsung berkelebat meninggalkan Shi Ma Yan, yang masih berdiri terpaku sesaat karena perubahan besar terjadi dengan begitu cepat dan tiba-tiba.


Sesaat kemudian Shi Ma Yan tersadar dia segera berlari keluar dari kamar tahanan


Lalu mulai membantu Jendral Kam melepaskan tahanan penting, serta mengatur dan membagi-bagi tugas kepada mereka.


Sedangkan Wu Song tanpa kesulitan kini sudah berdiri di depan sebuah bangunan mewah yang tidak jauh dari kompleks istana.


Bangunan megah ini adalah milik Panglima yang baru saja diangkat, Panglima Bai Lun ayah mertua kaisar Shi Ma Hui.


Wu Song yang melihat bangunan mewah itu terjaga dengan ketat.


Dia segera mencari area tembok yang sepi kemudian melayang masuk kedalam bangunan yang mewah dan megah tersebut.


Wu Song melihat ada sebuah bangunan utama yang besar, terdengar suara musik yang ramai berasal dari bangunan tersebut.


Wu Song menebak Bai Lun tentu berada di sana sedang bersenang-senang.


Wu Song melihat ada seorang pelayan muda, yang baru keluar dari bangunan tersebut sedang berjalan menuju kearahnya.


"Kalau ingin selamat bawa aku menemui Panglima Bai Lun, kalau berani macam nasib mu akan seperti batu ini.."


Wu Song menendang sebuah hiasan batu gunung, yang langsung hancur menjadi debu tanpa mengeluarkan suara berisik samasekali.


Pelayan muda itu terbelalak ketakutan dan cepat berkata,


"Baik..baik..tolong ampuni orang kecil seperti saya tuan Pendekar."


Wu Song membebaskan totokan nya dan berkata,


"Jalan... antarkan saya..!"


Pelayan itu cepat-cepat melangkah kembali menuju gedung utama yang terang benderang.


Sesuai dugaan Lu Sun tadi, Pelayan tersebut membawa Wu Song ke gedung tersebut.


Sampai di depan pintu Pelayan yang gemetaran berkata,


"Tuan Pendekar...tuan besar Bai ada didalam sana, bila dia melihat saya mengantar mu kedalam."


"Dia pasti akan sangat marah kepada saya, saya dan keluarga saya bisa celaka."

__ADS_1


Lu Sun mengangguk dan berkata,


"Baiklah kamu boleh pergi sekarang.."


Wu Song berjalan santai memasuki halaman tersebut, baru saja dia mau menaiki undakan tangga.


Terdengar suara teguran dari atas tangga,


"Berhenti...! siapa kamu ? berani sekali kamu menerobos kemari ?"


Sebelum dia sempat berteriak lebih jauh dia dan teman-temannya telah berdiri kaku tidak bisa bergerak.


Karena terkena totokan jarak jauh yang dilepaskan oleh Wu Song.


Wu Song kemudian berjalan santai menaiki undakan tangga, melewati mereka tanpa ada yang bisa mencegahnya.


Wu Song mendorong pintu memasuki ruangan besar dan mewah tersebut.


Kedatangan Wu Song yang mendadak, membuat semua orang yang berada dalam ruangan terkejut.


Musik dan tarian pun berhenti seketika, semua orang menatap Wu Song dengan kaget.


Semua wanita yang berada di day ruangan berdiri terpana, menatap ketampanan pria yang ada di hadapan mereka.


Sebaliknya Panglima Bai Lun sangat marah,


Dia menunjuk Wu Song dan berkata,


"Siapa kamu...? besar sekali nyali mu datang kesini merusak kesenangan dan suasana hati ku..!!"


Wu Song tersenyum dingin dan berkata,


"Hei muka pucat, cepat serahkan diri mu sebelum saya bertindak kasar..!"


"Semua yang tidak berhubungan segera tinggalkan ruangan ini..!"


ucap Wu Song dingin.


Para penari pemain musik wanita penghibur, langsung melarikan diri berhamburan meninggalkan ruangan tersebut.


Kini hanya tersisa ke 4 selir Jendral Bai yang terlihat ragu-ragu mengambil sikap.


Bai Lun sangat marah dia langsung berteriak memanggil pengawalnya.


Tapi setelah di panggil beberapa kali tetap saja tidak ada pengawal masuk, wajah Bai Lun segera berubah.


Dia langsung berdiri menyambar golok besar terbuat dari emas, di sampingnya.


Menghunusnya kemudian menerjang kearah Wu Song dengan sekuat tenaga.


Memberikan tiga tebasan beruntun kearah kepala leher dan perut, saking cepatnya sampai menimbulkan seberkas sinar keemasan mengiringi tebasannya.

__ADS_1


Tapi semua jadi Sia-sia karena tebasannya menemui tempat kosong.


Tiba-tiba dia merasa kaki tangannya kesemutan tanpa sebab sebelum jatuh berlutut, golok di tangannya jatuh berkerontangan tergeletak di lantai..


__ADS_2