
Kubah pelindung itu bukan hanya melindungi dirinya tapi langsung melindungi mereka berempat.
Suara suling terdengar merdu dan menyayat hati, membuat orang yang mendengar nya menjadi sedih dan ingin menangis.
Ketujuh Pendekar Thian San dan ketua nya terlihat tidak terpengaruh, karena mereka sudah menyumbat lubang telinga mereka dengan kapas.
Atas nasehat dari ketujuh Pendekar Thian San yang pernah melawan Wu Song dulu, mereka sudah mengantisipasinya saat ini.
Mereka saat ini berkonsentrasi menyatukan kekuatan membentuk ribuan bayangan pedang yang bergabung menjadi satu mencoba menerobos Kubah pelindung Wu Song.
Wu Song menambah kekuatan tiupan irama lagunya, ke 5000 tentara elit yang sudah mempersiapkan diri menutup telinga mereka dengan kapas.
Mereka mulai terpengaruh irama itu berhasil menembus kapas yang menutup telinga mereka, satu persatu mulai mewek dan menitikkan air mata.
Tak lama kemudian satu persatu mulai jatuh dari atas kuda mereka, dan menangis menggerung-gerung bergulingan diatas tanah.
Kondisi ini seperti virus yang cepat sekali menyebarnya, dalam sesaat saja 5000 pasukan berkuda kini semua menangis bergulingan diatas tanah.
Sedangkan Yang Jian Sie Jin Kui dan ajudannya kini duduk bersila menenangkan pikiran kemudian menambah sumbatan kapas ditelinga mereka.
Ketujuh Pendekar Thian San sempat mengerutkan alisnya, tanda mereka juga terpengaruh.
Yang Su menambah kapas menutup telinga seperti memberi kode dan contoh untuk ke 7 saudara seperguruannya.
Mereka kembali memperkuat serangan mereka begitu irama suling yang mengganggu berhasil mereka atasi.
Wu Song melihat kubah pelindungnya hampir tembus dia mengempis semangat mencoba jurus yang belum dia kuasai sepenuhnya.
Karena sejak dia keluar dari jurang di tebing Hua San dia tidak banyak memiliki waktu untuk berlatih.
Dari sudut bibir Wu Song mengalir darah, kondisinya sedikit membaik ketika punggungnya ditempeli telapak tangan Lu Ping yang mengalirkan hawa hangat membantu dirinya.
Kubah pelindung mementalkan ribuan pedang yang mencoba menerobos. Ke 7 Pendekar Thian San yang mengendalikan penyerangan juga ikut terpental bergulingan.
Kemudian masing-masing memuntahkan darah segar, mereka terluka parah terkena tenaga pentalan balik dari tenaga serangan mereka sendiri.
Sedangkan Yang Su hanya terdorong mundur sudut bibirnya meneteskan darah.
Yang Su membuka kedua tangannya kesamping memutar setengah lingkaran kemudian melepaskan ilmu rahasia terlarang yang belum dilatihnya dengan sempurna.
Muncul sebuah bayangan pedang raksasa yang berputar seperti mata bor, dibelakang bayangan pedang muncul sebuah gambar Taichi yang menyinari pedang yang terus berputar-putar itu.
Kemudian bayangan itu meluncur deras kearah kubah pelindung Wu Song, Wu Song menggunakan seluruh kekuatan gabungan dirinya dan Lu Ping untuk memainkan Jurus Irama penembus pori.
Suara suling Wu Song langsung menembus pori-pori Yang Su dan ke 7 Pendekar Thian San yang berada paling dekat dengannya.
__ADS_1
Mengikuti aliran darah dan sampai ke otak mengganggu syaraf motorik perasaan lawannya.
Bayangan pedang yang meluncur deras dan sudah beberapa centi didepan hidung Wu Song tiba-tiba sirna.
Seiring dengan Yang Su yang kehilangan kesadarannya, begitu juga ke 7 Pendekar Thian San.
Hanya Yang Jian, Sie Jin Kui dan ajudannya masih selamat karena efek jurus itu belum kuat.
Belum bisa mencapai tempat mereka berada,
Setelah keadaan sunyi, Yang Jian perlahan-lahan membuka matanya dia melihat ke 7 paman, bibi dan ayahnya pingsan diatas tanah.
Dia segera membuka penyumbat telinga, berlari kearah Ayah dan 7 Pendekar Thian San, dia melepaskan penyumbat telinga mereka dan berteriak sambil menggoyang-goyangkan tubuh mereka,
"Ayah...ayah...ayah... Paman..paman...paman...
bibi... bibi..!"
Yang Jian mengendong mereka satu persatu kearah kereta kuda, saat menggendong orang terakhir dari 7 Pendekar Thian San.
Yang Jian memberi hormat kepada Wu Song dan berkata,
"Terima kasih pendekar muda Wu, atas kemurahan hati mu untuk tidak mengambil nyawa mereka."
Wu Song membalas penghormatan nya sambil berkata,
Yang Jian mengangguk sambil tersenyum pahit.
Setelah itu dia melihat kearah Yi Yi yang kebetulan juga sedang menatapnya.
Yang Jian berkata,
"Yi Yi aku mendoakan semoga kamu bahagia, maafkan kami atas kejadian ini."
Yi Yi menatap Yang Jian dengan perasaan menyesal dan bersalah kemudian berkata,
"Maafkan aku Yang Ta Ke, aku telah menyakiti hatimu. Jagalah dirimu baik-baik sampai kapanpun kamu tetap adalah Yang Ta Ke ku yang berhati baik."
Yang Jian memejamkan matanya dan tersenyum sedih, suara Yi Yi yang begitu lembut meresap kedalam hatinya membuat perasaan nya bercampur aduk.
Ada perasaan nyaman seiring itu juga ada perasaan sakit dan sedih .
Sesaat kemudian Yang Jian membuka matanya menatap Bun Houw sambil berkata,
"Jagalah Yi Yi dengan baik, jangan pernah mengecewakannya.
__ADS_1
Atau aku akan mengejar mu sampai ke ujung dunia."
Bun Houw tersenyum mengejek berkata,
"Urusanku dan Yi Yi tak perlu kau mencampurinya, urus saja ayah dan pamanmu itu jangan sampai mampus."
Ucapan Bun Houw yang kasar membuat Wu Song sedikit mengerutkan alisnya tapi dia tidak berkata apa-apa.
Yang Jian tidak terpancing sama sekali dia hanya berkata,
"Aku hanya mengingatkan mu agar tidak menyesalinya suatu hari nanti."
Setelah itu Yang Jian membalikkan badannya berjalan menuju kereta sambil menggendong paman ke 7 nya.
Yang Jian kemudian berjalan kedepan Sie Jin Kui dan berkata,
"Paman Sie jaga diri mu baik-baik, aku tidak berjodoh dengan Yi Yi tidak perlu dipaksakan.
Semoga Yi Yi berbahagia bersama pilihannya."
Sie Jin Kui mengangguk sambil menepuk pundak pemuda itu dan berkata,
"Yi Yi tidak memilihmu itu adalah kebodohannya, suatu hari nanti dia pasti akan menyesal melewatkan pemuda sebaik dirimu."
"Nasibku kurang beruntung, tidak berjodoh menjadi ayah mertua, pria sebaik kamu."ucap Sie Jin Kui dengan kecewa.
Yang Jian tidak berkata apa-apa setelah memberi hormat dia berjalan kearah kereta kemudian membawa kereta kuda tersebut pulang ke Thian San.
Wu Song dan rombongannya berjalan melewati Jendral Sie, terdengar suara lembut Yi Yi berkata,
"Ayah jaga diri..."
Jendral Xie menghela nafas panjang, untuk mengurangi perasaan kecewa menyesal dan tidak berdaya.
Jendral Sie sadar dia tidak sanggup menghalangi rombongan Wu Song.
Rombongan Wu Song bergerak menuju Lembah Alam Penebus Dosa Dewa Buangan.
Sepanjang perjalanan Bun Houw sangat antusias dan bersemangat mempelajari ilmu-ilmu Wu Song.
Karena dia memiliki bakat dan tingkat kecerdasan otak yang bagus, dia dalam waktu singkat hampir menguasai semua ilmu Wu Song.
Yang kurang hanya kekuatan tenaga dalamnya, bahkan pemahaman nya lebih baik dari Wu Song.
Wu Song sangat kagum dengan kecerdasan dan bakat yang dimiliki Bun Houw.
__ADS_1
Wu Song harus akui di dalam hatinya, dia masih kalah sama Bun Houw dalam kedua hal itu.
Bila dia tidak secara kebetulan mendapatkan buah Bodhi Darah, dia juga belum tentu bisa sekuat saat ini.