LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM

LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM
BAHAYA MENGANCAM XIAO PEI,


__ADS_3

Di saat Alung sedang terpana melihat sinyal tanda bahaya dari istrinya, para pasukan Macan Hitam yang menyerah.


Tiba-tiba berlarian menabrakkan diri mereka kearah kumpulan Pasukan Alung dan meledakkan diri mereka dengan menyalakan sumbu mesiu yang ada ditubuh mereka.


Terdengar ledakan di mana-mana Pasukan Rajawali Merah terlempar ke mana-mana dengan tubuh hancur.


Terlihat potongan tubuh berserakan di mana-mana, Alung tidak sampai terkena ledakan, karena terhalang oleh para prajurit yang melindunginya.


Wajah dan rambut Alung penuh dengan debu yang berhamburan akibat ledakan yang terjadi.


Hampir 20.000 Pasukan Alung yang tidak bisa ikut melanjutkan pertempuran lagi, ada yang meninggal, ada yang terluka parah, ada yang cacat kak ataupun tangan.


Mereka semua terpaksa di tinggalkan, tidak bisa di bawa ikut melanjutkan pertempuran lagi.


Alung hanya membawa 10.000 Pasukan nya menyusul ke dermaga Dun Qiu untuk melakukan pertolongan.


Tapi akibat termakan siasat menyerang kota kosong, dan terkena jebakan ledakan.


Pergerakan Alung memberikan bantuan kepada Istrinya menjadi terlambat, sampai di dermaga Dun Qiu Alung menatap dengan sepasang mata terbelalak tak percaya.


Ternyata 10.000 Pasukan Rajawali Merah yang di pimpin oleh istrinya telah musnah tanpa sisa.


Alung yang bergerak kesana-kemari memanggil-manggil nama istrinya, tidak berhasil menemukan jasad istrinya.


Alung melakukan pengecekan ke pinggiran sungai, Alung tidak melihat ada tanda-tanda keberadaan istrinya.


Kini hanya ada dua kemungkinan pertama istrinya tertangkap dan ditawan oleh musuh.


Kedua istrinya terjatuh kedalam Sungai ada kemungkinan sudah tewas terseret arus sungai.


Karena Alung tahu secara pasti, istrinya tidak memiliki kemampuan berenang sama sekali.


Alung sedikit menyesal dengan keputusannya, membiarkan istrinya menyerang dermaga.


Padahal istrinya tidak memiliki kemampuan bermain di air.


Alung akhirnya memimpin pasukan nya kembali ke Pu Yang untuk berkumpul dengan sisa pasukan nya yang dia tinggalkan di sana.


Sampai di Pu Yang Alung kembali terbelalak pucat menatap sisa pasukan nya yang kini malang melintang terkapar tidak bergerak lagi.


Padahal sewaktu berangkat tadi masih ada 2000 Pasukan yang dalam keadaan segar bugar, di tinggalkan khusus untuk merawat Pasukan yang terluka terkena ledakan.

__ADS_1


Tapi kini semuanya baik yang sehat maupun yang terluka, semuanya terkapar diatas tanah kehilangan nyawa.


Setelah melakukan pemeriksaan kesana kemari, akhirnya Alung menemukan penyebab tewasnya Pasukan yang ada ditempat tersebut.


Di sebabkan oleh air yang mereka minum telah di beri racun oleh pasukan Shi Ma Liang.


Alung memeriksa beberapa sumber air, ternyata benar semua sumur di setiap sudut kota tersebut telah di taburi racun mematikan.


Alung sangat marah dan kesal, tapi dia juga tidak bisa menyalahkan sepenuhnya kepada Shi Ma Liang.


Ini adalah perang, bila tidak waspada dan masuk dalam perangkap musuh inilah akibat dan resiko yang harus dia hadapi.


Dalam hal ilmu silat Alung memang berada di atas Yue Fei, tapi dalam hal taktik ilmu perang Alung kalah jauh di bawah Yue Fei.


Alung kemudian memimpin sisa pasukannya bertahan di pelabuhan Dun Qiu, Alung mengirimkan Jabar lewat merpati pos ke Bun Houw di Shouchun .


Sambil menunggu perintah lebih lanjut dari Bun Houw, Alung menyelidiki kemana rombongan pasukan Shi Ma Liang melarikan diri.


Selain itu Alung juga menggunakan perahu menyusuri sungai Huang He menyelidiki keberadaan mayat istrinya.


Dari hasil penyelidikan akhirnya di ketahui Shi Ma Liang melarikan diri ke Xiao Pei.


Sedangkan keberadaan Yang Chai Ni istri Alung tetap tidak bisa di ketemukan.


Langsung bergerak menuju Chen Liu, membantu pasukan kerajaan Liau menahlukkan Chen Liu.


Beberapa hari setelah Alung menerima surat tugas datanglah Pasukan dan perbekalan tambahan buat Alung yang di pimpin oleh putra kedua dewa pedang Zhou Wei, yang bernama Zhou Xuan.


Zhou Xuan ini sangat pintar membawa diri di depan ayahnya, tapi di belakang ayahnya dia adalah pemuda yang kejam licik juga sombong.


Mendengar kekalahan Alung melawan Shi Ma Liang dia sangat penasaran dan ingin menjajal kemampuan Shi Ma Liang.


Jadi begitu sampai, dia langsung membujuk Alung pergi membalaskan dendam nya kepada Shi Ma Liang di Xiao Pei.


Setelah menahlukkan Xiao Pei mereka baru akan bergerak menyerang Chen Liu.


Alung yang sangat setia terhadap Bun Houw, menatap Zhou Xuan dengan ragu-ragu, dia berkata,


"Tuan muda Zhou maaf, tapi di surat panglima Sie jelas di sebutkan kita bergerak menyerang Chen Liu bukan Xiao Pei."


Sambil tersenyum Zhou Xuan berkata,

__ADS_1


"Memang di surat di katakan seperti itu, karena jendral Sie ketika menulis surat ini, tidak tahu musuh berbahaya Shi Ma Liang, sedang berada di Xiao Pei di belakang kita."


"Bila tidak di musnahkan lebih dulu, orang licik itu bisa membahayakan pergerakan kita yang sedang fokus menyerang Chen i."


"Kita jangan sampai mengulangi kekonyolan, Guan Yun Zhang, menyerang kedepan tidak mewaspadai belakang."


"Akhirnya terjebak dan kehilangan nyawa ditangan musuh yang dia anggap remeh."


perkataan Zhou Xuan sangat masuk akal, Alung yang jujur dan kurang cerdik, mana sanggup membantahnya.


Apalagi di dalam hati Alung sendiri sangat ingin mengejar Shi Ma Liang, untuk menanyakan keberadaan istrinya Yang Chai Ni.


Untuk semakin meyakinkan Alung yang masih terlihat ragu.


Zhou Xuan pun berkata,


"Kamu jangan khawatir, bila ada apa-apa biar aku yang bertanggung jawab kepada atasan mu, ayah ku dan yang mulia Shi Ma Ong berteman baik."


"Jadi kamu boleh bertenang hati, serahkan saja urusan ini padaku."


Alung akhirnya mengangguk dan berkata,


"Baiklah kalau begitu Alung akan mengikuti perintah Tuan muda Zhou."


Zhou Xuan tersenyum lebar sambil menggoyangkan kedua tangannya berkata,


"Asisten panglima Alung anda tidak boleh berkata begitu, kita hanya mitra."


"Kamu tidak harus mendengarkan perintah dari ku, kita hanya mitra teman sejawat."


"Kita memutuskan sesuatu dengan berunding dan mengambil keputusan bersama."


Alung tersenyum senang mendengar ucapan Zhou Xuan yang sopan dan ramah.


Dia tertawa gembira menepuk bahu Zhou Xuan lalu merangkulnya berjalan memasuki perkemahannya.


Setelah merundingkan strategi yang akan mereka ambil, maka berangkatlah rombongan Pasukan Rajawali Merah menuju Xiao Pei.


Lewat jalan belakang yang bisa mempersingkat waktu perjalanan sampai seminggu.


Meski perjalanan nya tidak terlalu mulus karena harus melewati rawa-rawa, tapi jarak tempuh dari waktu bisa berhemat banyak.

__ADS_1


Sementara itu di kota Xiao Pei yang kecil dan damai pagi itu terlihat Lu Fan dan Lin Lin sedang duduk di depan Yao Su melakukan sarapan pagi bersama.


__ADS_2