
Begitu memasuki tenda Wu Song dan Karna melihat seorang gadis yang sedang di peluk oleh seorang pria bertubuh tinggi besar dengan wajah penuh brewok dan sedang tertawa senang.
Sedangkan gadis itu terlihat menangis pilu dengan wajah penuh airmata, dan terus berusaha meronta sambil menepis dan menjauhkan tangan pria bertubuh tinggi besar dan brewokan itu, dari bagian sensitif ditubuhnya.
Sementara di bagian agak bawah bersujud seorang prajurit dengan muka lebam-lebam dan terus menangis memohon ampun agar wanita itu dapat di lepaskan.
Dari kata-katanya Wu Song dan Karna pun tahu wanita itu adalah istri prajurit tersebut.
Dan Karna pun akhirnya mengenali prajurit yang mukanya lebam-lebam adalah salah satu prajurit nya.
Sedangkan wanita itu adalah petugas bagian dapur yang baru di nikahi oleh prajurit tersebut 2 hari yang lalu.
Karna dengan mengerutkan alisnya berkata,
"Wahai teman ku tolong jangan seperti ini, ini akan sangat mempengaruhi loyalitas mereka kepada kita."
Pria bertubuh tinggi besar itu tertawa keras, dialah Pangeran Duryodana yang ingin dipertemukan dengan Wu Song.
Pangeran Duryodana sambil tertawa berkata,
"Tidak apa-apa teman ku, kalau dia tidak loyal penggal saja masih banyak prajurit lain selain dia."
"Lagi pula gadis ini terlalu manis untuk dilepaskan begitu saja, si bodoh itu sudah menikahinya 2 hari."
"Tapi gadis ini masih belum dia sentuh, jadi biar saya memberinya contoh..."
"Ha..ha..ha...ha..."
ucap Duryodana sambil tertawa-tawa.
Wu Song berusaha menahan emosi nya melihat ketidakadilan didepan mata nya yang sedang berlangsung.
Wu Song menyerahkan masalah ini pada teman barunya karna untuk di bereskan, bila tidak bisa baru dia yang akan turun tangan memusnahkan pangeran biadab ini.
Yang mengingatkan kepada nya akan Si Ma Ong pangeran bajingan itu.
Karna Kembali berkata,
__ADS_1
"Ini bukan masalah loyalitas dia seorang, ini akan menyangkut loyalitas seluruh pasukan kita, ingat tujuan kita kesini teman."
"Saingan mu masih berkeliaran di luar sana, dengan munafik menebar kebajikan, sedangkan kamu di sini malah melukai hati Pasukan yang setia pada mu sadarlah teman ku ku mohon."
Orang yang berdiri dibelakang Duryodana yang bermuka licik seperti kambing dengan hidung bengkok seperti paruh elang maju kedepan dan berkata,
"Raja Angga sadarkah kamu sedang berbicara dengan siapa ? pantaskah kamu berkata begitu pada pangeran Duryodana yang mengangkat mu dari lumpur kotor penuh hinaan sampai memiliki posisi sekarang.?"
"Paman Sengkuni kata-kata ku ini semua demi kebaikan masa depan teman ku coba kamu katakan di mana letak kesalahan ku ?"
ucap karna tidak mau kalah.
"Kau ingin tahu di mana kesalahan mu baik akan kukatakan, kau menghina temanmu tidak becus hanya bisa melukai hati bawahan, itu kesalahan pertama.'
"Kesalahan kedua kau memuji ke 5 musuh teman mu menebar kebajikan itu kesalahan kedua."
"Ketiga..."
"Cukup paman...!" ucap Duryodana keras memotong pembicaraan pamannya.
"Kenapa kalian berdua malah bertengkar sendiri, dan membuat malu didepan tamu undangan."
"Ini ambil istri mu dan pergilah..!"
ucap Duryodana dengan kesal dan melempar wanita tersebut dengan kasar kearah prajurit yang sedang bersujud di lantai.
Untung Wu Song bergerak gesit menyambut wanita itu yang hanya bisa berteriak ngeri, bila tidak disambut oleh Wu Song tentu wanita itu akan tewas di hadapan suaminya dengan kepala pecah.
Wu Song meletakkan wanita yang telah pingsan karena ngeri disamping suaminya sambil menepuk bahu prajurit itu mengalirkan energinya keseluruh tubuh orang itu menyembuhkan luka-lukanya dan berkata,
"Cepat ucapkan terima kasih pengampunan pangeran Duryodana dan segera bawa pergi istri mu."
Prajurit itu merasa tenaganya pulih dan tubuhnya tidak sakit lagi, dia cepat-cepat menghaturkan terima kasih kepada Duryodana karna dan Wu Song.
Lalu sambil menatap Wu Song dengan penuh rasa terimakasih, dia cepat-cepat menggendong istrinya keluar dari tenda Duryodana.
Duryodana sambil tertawa seakan-akan tidak ada sesuatu yang terjadi, dia menepuk-nepuk bahu Wu Song dan berkata,
__ADS_1
"Aku sudah dengar kehebatan mu teman, mari duduk dengan santai dan berbincang-bincang dengan bebas."
Tepukan Duryodana sangat keras dan bertenaga bila yang menerimanya bukan Wu Song tentu tulang orang tersebut akan patah-patah dibuatnya.
Wu Song cukup terkesan dengan kekuatan pangeran ini, meski agak kasar kejam dan brutal.
Wu Song harus akui orang ini sangat polos dan jujur apa adanya tidak pandai menyembunyikan perasaan dan prilakunya.
Berbeda dengan si muka kambing yang di belakang nya, Wu Song sudah dapat menebak kejahatan Duryodana pasti datang dari manusia licik itu.
Wu Song pura-pura tidak tahu karena hal ini semua tidak ada hubungan dengan dirinya.
Hanya bila ada kesempatan dia pasti akan menasehati temannya karna untuk menjauhi mereka sebelum terseret ke arus kejahatan yang lebih dalam.
Setelah mengobrol basa-basi sesaat kemudian Duryodana mulai membujuk Wu Song untuk bergabung dengan nya.
Bahkan dia menawarkan Wu Song jabatan raja dan wilayah kekuasaan seperti raja Angga.
Tapi Wu Song menolaknya dengan halus dan beralasan keberadaannya di negeri ini tidak akan lama.
Dia sendiri masih ada urusan yang harus di selesaikan di negerinya sendiri.
Selain itu Wu Song akan menepati janjinya mengusir ke 5 Pandawa keluar dari kerajaan Wirata dan Wu Song juga berjanji tidak akan pernah terlibat dalam permusuhan antara Pandawa dan Kurawa.
Duryodana meski tidak berhasil merekrut Wu Song tapi dia sudah sangat puas dengan janji dan sikap Wu Song yang bersahabat.
Sementara Sangkuni tidak berkomentar, dia memilih diam saja, dia orang cerdik dia tahu mencari permusuhan dengan Wu Song tidak akan menguntungkan.
Menurut pengamatan Sengkuni yang cerdik dia bahkan dapat menebak kemampuan Wu Song berada di atas karna kemungkinan besar masih diatas guru Drona dan Bhisma yang agung.
Mungkin yang dapat menandingi Wu Song hanya Kresna raja kaum Yedawa itu.
Sengkuni sempat berpikir bila bisa merekrut Wu Song maka dia tidak perlu lagi khawatir dengan Kresna.
Tapi setelah melihat penolakan tegas dari Wu Song dia tahu tidak ada gunanya memaksa, yang nanti malah menimbulkan hubungan buruk.
Setelah pesta makan minum usai, Wu Song pun pamit kembali ke kerajaan Wirata diantar oleh karna.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan melewati beberapa desa kecil Wu Song melihat temannya karna setiap di hampiri oleh pengemis ataupun pertapa yang minta sedekah dia tidak pernah menolaknya.
Wu Song dan Karna tidak langsung pulang mereka singgah disebuah bukit hijau duduk di sana ngobrol menceritakan diri masing-masing dengan asyik.