LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM

LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM
SERANGAN DARI HAN ZHONG,


__ADS_3

"Kamu makan saja dulu, aku belum lapar."


ucap Yue Fei kemudian kembali menatap miniatur didepan nya.


Sin Yi menatap suaminya dengan tatapan kasihan, dia ingin membantu tapi dia tidak mengerti strategi militer.


Yang dia tahu hanya pertempuran satu lawan satu, kalau pertempuran beramai-ramai gini dia tidak tahu.


Bahkan dia belum pernah mengalaminya sekalipun, Sin Yi kemudian berjalan pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Tak lama kemudian dia kembali lagi dengan semangkuk besar nasi dan lauk yang di campur jadi satu.


Dia menarik sebuah kursi panjang, ke dekat suaminya.


Kemudian dia menarik Yue Fei untuk duduk di sisinya, dia mulai makan sesuap kemudian menyuapi Yue Fei sesuap.


Yue Fei hanya tersenyum melihat tingkah laku istrinya, akhirnya mereka berdua makan semangkuk berdua sampai habis.


Setelah habis Sin Yi pun berkata,


"Sekarang lanjutkan lah, aku tidak mengganggumu."


"Tapi ingat nanti malam harus kembali ke kamar temani aku tidur, aku tidak mau tidur sendirian."


Yue Fei tersenyum dan menatap istrinya dengan penuh rasa terimakasih, kemudian dia berkata.


"Baiklah... aku janji, akan kembali ke kamar tepat waktu."


Yue Fei memeluk pinggang istrinya dengan mesra dan mencium kening nya dan berkata,


"Bisa bersama mu adalah keberuntungan terbesar dalam hidupku, mati pun aku tidak menyesal."


"Hushh...!!"


"Jangan bicara sembarangan, itu sangat tidak baik, aku masih ingin hidup bersama mu sampai rambut kita ubanan."


ucap Sin Yi sambil melototi suaminya.


Sambil tertawa Yue Fei berkata,


"Bukankah kini kamu juga sudah ubanan ?"


"Cuma bukan memikirkan ku, tap dia.."


Sin Yi melotot dan mencubit gemas pinggang suaminya dan berkata,


"Masih berani bicara sembarangan rasakan ini...!"

__ADS_1


"Aduh...aduh...aduh...!"


teriak Yue Fei kesakitan bercampur geli, sesaat dia pun lupa dengan masalah yang sedang di hadapinya.


Yue Fei kemudian membalas dengan menggelitik istrinya yang membuat Sin Yi tertawa cekikikan dan minta ampun.


Setelah bersenda gurau sejenak pasangan muda ini kemudian berpisah, Sin Yi kembali ke kamarnya melanjutkan menyulam nya.


Sedangkan Yue Fei kembali fokus memikirkan cara mengantisipasi serangan yang datang dari dua arah.


Yue Fei tidak takut menghadapi serangan yang di pimpin jendral Bai dan putra jendral He,


Yang dia khawatirkan adalah serangan yang datang dari Han Zhong yang dipimpin oleh Shi Ma Jun.


Dari laporan mata-mata nya, Yue Fei tahu Shi Ma Jun datang membawa 500.000pasukan, yang jadi kekhawatiran Yue Fei adalah Shi Ma Jun selalu di kawal oleh seorang kakek cebol berjanggut panjang dan di kepang.


Ini berarti dia tidak bisa menyergap dan menyanderanya, agar menarik mundur pasukannya.


Ini berarti dia dan seluruh pasukannya harus bertempur mati-matian menghadapi serangan dua arah.


Meski bisa mengalahkan dan memukul mundur mereka, dia mungkin akan kehilangan 3/4 dari total Pasukan yang sudah mengikutinya begitu lama.


Hubungan di antara mereka sudah seperti saudara kandung, Yue Fei tidak tega bila harus melihat mereka semua harus menjadi korban.


Yue Fei ingin memikirkan strategi yang jitu, sebisa mungkin mengurangi korban jiwa di pihak nya.


Yue Fei kembali fokus melihat peta miniatur tersebut.


Yue Fei segera memanggil beberapa bawahannya membagi tugas tambahan kepada mereka masing-masing.


Setelah itu, melihat hari sudah sore, Yue Fei pun berjalan keluar dari ruangan rapat, kembali ke kamarnya menemui Sin Yi sesuai janjinya.


Melihat kedatangan Yue Fei, tentu saja Sin Yi sangat gembira.


Dia segera menghampiri suaminya membantu melepaskan pakaian luar Yue Fei.


Kemudian menyediakan air hangat buat Yue Fei mencuci muka, baru mereka makan bersama.


Selesai makan, Yue Fei duduk di kursi santai. Sambil memangku Sin Yi yang menyuapi potongan buah ke mulut Yue Fei.


Sambil menyuapi suaminya, Sin Yi bertanya,


"Bagaimana sayang kamu sudah menemukan strategi yang tepat untuk menghadapi serangan musuh.?"


Yue Fei menggeleng kecil dan berkata,


"Belum semuanya," Yue Fei pun menceritakan semua situasi dan strategi yang akan di lakukannya kepada Sin Yi.

__ADS_1


Dan mengakhiri ceritanya dengan keluhan belum menemukan strategi jitu, menghadapi serangan dari Shi Ma Jun yang di jaga orang sakti.


"Sudahlah jangan terlalu pusing memikirkan serangan dari para tikus itu, aku pasti akan membantumu menghabisi mereka semua."


Ucap Sin Yi menenangkan Yue Fei.


Sin Yi memang tidak berbuat, Sin Yi memiliki ilmu yang memang lebih tinggi dari Yue Fei.


Bahkan Sin Yi memiliki ilmu rahasia yang mampu menghabisi ratusan ribu pasukan dalam sekejap.


Cuma efek buruk dari ilmu itu bisa membahayakan nyawa Sin Yi sendiri.


Dan itu sudah terjadi sekali saat Sin Yi berhadapan dengan Wu Song, yang membuat rambut Sin Yi jadi putih semua.


Bila Kembali terulang kemungkinan besar nyawa Sin Yi lah taruhannya, dan Yue Fei sangat mengerti itu.


Sehingga dalam berbagai pertempuran, sebisa mungkin dia akan berusaha menjauhkan istrinya ikut terlibat.


Yue Fei yang mendengar ucapan Sin Yi barusan tiba-tiba matanya berbinar-binar, dia tertawa keras dan menggendong Sin Yi berputar-putar dengan gembira.


Sin Yi sangat terkejut sampai menjerit kecil, tapi kemudian dia pun ikut tertawa dan bertanya,


"Sayang kamu kenapa ? kenapa tiba-tiba begitu gembira ?"


Sambil tertawa-tawa dan terus berputar-putar menggendong Sin Yi istrinya, Yue Fei menjawab,


"Berkat kata-kata mu tadi aku jadi teringat sesuatu, dan menemukan ide mengatasi serangan dari Han Zhong."


Keesokan sorenya dari arah Han Zhong terlihat barisan pasukan yang sangat panjang seperti ular panjang yang tidak putus-putus.


Sedang bergerak meninggalkan perbatasan Han Zhong dan mulai memasuki Wilayah perbatasan Chang An.


Pasukan panjang yang di perkirakan mencapai 300.000 orang, kini berdiri diam tidak bergerak, Mengikuti kode yang diberikan oleh seorang pemuda tampan, yang duduk di atas seekor kuda hitam yang bertubuh tinggi besar.


Di sisi kanan pemuda itu terlihat seorang kakek cebol yang naik diatas punggung seekor keledai berwarna coklat.


Sedangkan di sisi kirinya, terlihat seorang pria yang di punggungnya menggendong sepasang pedang duduk santai di atas punggung seekor Panther hitam.


Si kakek cebol menatap pemuda itu dan bertanya,


"Pangeran kenapa kita berhenti di sini ?"


"Kakek Setelah melewati jalan sempit dan panjang yang di apit oleh dua tebing tinggi ini, kita akan langsung sampai ke Chang An."


ucap pemuda itu menjelaskan tanpa menoleh.


"Aku khawatir di depan ada jebakan yang menanti kita."

__ADS_1


Kemudian pemuda itu memberi instruksi pada dua orang Jendral nya, agar waspada.


Dan Pasukan mereka di bagi jadi dua kelompok.


__ADS_2