
Perlahan-lahan Yue Fei melepaskan ciumannya ketika merasa istri nya mulai kesulitan bernafas.
"Tapi dia melanjutkan dengan menggendong istrinya berputar-putar sambil tertawa senang
"Sayang jangan nanti kuahnya menumpahi baju mu..!"
tegur Sin Yi setengah berteriak karena kaget dan tangannya masih memegang semangkuk pangsit kuah.
Mendengar ucapan Istrinya Yue Fei sambil tertawa menghentikan gerakannya, dan segera menurunkan istrinya.
Mengajaknya duduk, Kemudian dia membuka mulutnya menunggu suapan dari istrinya.
Sambil tersenyum Sin Yi menyuapi Yue Fei, Yue Fei sambil mengunyah memberi kode agar Sin Yi makan juga.
Akhirnya semangkuk Pangsit yang di siapkan oleh Sin Yi buat Yue Fei, akhirnya mereka habiskan bersama-sama.
Sin Yi dan Yue Fei saling menatap Kemudian mereka berdua tertawa bahagia.
Yue Fei membisikkan strategi nya kepada istrinya, Sin Yi mengangguk sambil tersenyum dan memberikan jempolnya yang mungil kepada Yue Fei.
Sambil tertawa gembira Yue Fei menggendong Sin Yi keluar dari kemah utamanya, menuju kemah Sin Yi yang lebih kecil.
Kemah tersebut adalah kemah tempat peristirahatan suami istri tersebut.
Beberapa hari kemudian Wu Song yang sedang berdiri di atas benteng Hu Lao Kuan.
Dia terus memandang kearah perkemahan Pasukan rajawali merah tanpa berkedip.
Wu Song sedang berpikir apa yang akan di lakukan oleh pasukan Rajawali Merah, kenapa mereka sudah berkemah di sana hampir 2 Minggu, belum ada tanda-tanda bergerak.
Apa yang sedang mereka rencanakan, Wu Song paham betul siapa Pemimpin Pasukan tersebut.
Yue Fei bukan lah orang yang suka menunggu bermalas-malasan menghabiskan waktu, Yue Fei sangat banyak akal dan seorang ahli strategi perang yang tidak kalah darinya maupun Bun Houw.
Selagi Wu Song sedang termenung, terdengar teriakan panjang dari seorang prajurit, yang sedang berlari dengan wajah pucat.
"Laporrrrr...!!"
Prajurit itu menjatuhkan diri berlutut dengan kaki sebelah dan berkata,
"Lapor Jendral ada seorang Kasim kecil bernama Xiao Xian Ci datang melapor, katanya Di Chang An putri Shi Ma Sian dan putri Shi Ma Ling di culik oleh seorang kakek misterius.."
__ADS_1
"Kakek itu mengatakan bila ingin mereka selamat harus Jendral Wu Song sendiri yang datang ke Hua San menemuinya."
"Dia memberi tempo waktu 3 hari bila anda tidak datang, dia akan memperkosa dan menjual kedua putri itu ke negeri Persia untuk dijadikan pelacur."
Wu Song yang mendengarnya mengepalkan tinjunya dia sangat geram.
Dia tahu ini adalah strategi memancing harimau meninggalkan sarang, tapi dia tidak bisa menolaknya, sepertinya musuh sangat mengenal sifatnya.
Dan yakin dia pasti akan pergi kesana, disana juga pasti sudah menyiapkan jebakan mematikan untuk menyambutnya.
Tap Wu Song tidak punya pilihan meski harus mendaki gunung golok ataupun masuk kedalam kawah minyak panas dia tetap harus pergi menolong mereka.
"Cepat panggil Jendral Wu dan Jendral Kam kemari, sekalian bawa Xiao Xian Ci kemari.!"
ucap Wu Song.
Prajurit itu segera berlalu dari sana, tak lama kemudian terlihat Jendral Wu dan Jendral Kam datang terburu-buru menghadap Wu Song.
Mereka berdua tadinya sedang berpatroli di dua tempat berbeda, saat mendengar Wu Song memanggil mereka.
Mereka berdua pun buru-buru datang menghadap.
Seorang prajurit lain juga datang membawa seorang Kasim cilik yang wajahnya terlihat capek dan letih.
"Katakan kamu sudah menghabiskan waktu berapa hari dari Chang An sampai kemari."
Kasim itu dengan ketakutan awalnya menunjukkan 1 jari kemudian berubah menjadi 2 jari dan berkata dengan takut-takut.
"Dua hari satu malam."
Wu Song segera menoleh kearah Jendral Wu dan Jendral Kam dan berkata,
"Selama saya tidak ada, apapun yang terjadi jangan pernah keluar dari Hu Lao Kuan menyambut musuh."
"Tetap bertahan di benteng, bila tidak sanggup bertahan lagi mundur ke Han Gu Kuan bertahan lah di sana."
"Kalian mengerti ?"
"Siap laksanakan.."
ucap Jendral Wu dan Jendral Kam kompak meski tidak tahu ada masalah apa yang membuat Wu Song yang biasanya tenang terlihat sedikit panik.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara Wu Song memejamkan matanya memanggil Lu Fan untuk datang menggantikannya mengawasi Hu Lao Kuan.
Dia juga menghubungi ayahnya Lu Sun agar meminta Ibu Xue Yen berjaga-jaga di dermaga Guan Du.
Setelah itu Wu Song pun langsung terbang ke udara bergerak cepat menuju Chang An.
Di tempat lain Lu Fan yang sedang bersantai di markasnya, tiba-tiba mendapat pesan telepati dari kakak iparnya Wu Song.
Tanpa pikir panjang, Lu Fan langsung terbang dengan Jin Tou Yun menuju Hu Lao Kuan
Hanya butuh waktu sebentar saja, Lu Fan sudah mendarat di hadapan Jendral Wu dan Jendral Kam yang menatap kehadiran Lu Fan dengan wajah terkejut.
"Kalian berdua jangan khawatir, aku adalah Lu Fan."
"Aku datang atas permintaan kakak ipar ku Wu Song agar membantunya mengawasi benteng ini."
Kedua jendral yang sempat khawatir, kini mereka bisa tertawa tenang.
Dengan hadirnya Dewa Sadis di sini, Pasukan Rajawali Merah bila berani maju, mereka pasti akan dirubah menjadi genangan darah.
"Hormat kepada Dewa Sadis Lu Fan, terima kasih anda sudah datang kemari memberikan bantuan."
ucap Jendral Wu sambil memberi hormat dan Jendral Kam pun menyusul memberi hormat.
Lu Fan terbelalak mata nya menatap kedua orang itu dan berkata,
"Eh nama ku Lu Fan benar tapi julukan apa itu Dewa Sadis kenapa aku tidak tahu ? sejak kapan aku yang jarang muncul di dunia ini bisa punya julukan ? Ha..ha..ha..ha..!"
Kedua jendral itu saling pandang, mereka merasa canggung untuk memberitahu Lu Fan, bahwa tindakan sadisnya di Chen Liu lah yang membuatnya mendapatkan julukan tersebut.
"Suami ku tentu saja karena tindakan keren mu di Chen Liu yang membantai Pasukan Rajawali Merah dan pemimpin nya tanpa sisa lah, yang membuat orang-orang memberi mu julukan itu."
ucap Sonia dengan wajah gembira penuh semangat melihat Lu Fan berdiri di hadapannya.
Sebaliknya Lu Fan yang tadinya sedang tertawa senang begitu mendengar suara lembut dari Sonia, dia langsung tersenyum kecut.
Menatap kearah Sonia dengan sikap canggung tidak tahu mau bicara apa.
Sonia langsung berlari maju memeluk Lu Fan melepaskan kerinduan nya yang sudah tertahan lama, dia terlihat sangat bahagia.
Sebaliknya Lu Fan terlihat sangat kaku dan risih, tapi dia tidak berdaya menolaknya.
__ADS_1
Sehingga hanya bisa berdiri diam dan tersenyum aneh.
Di tempat lain Lu Sun yang juga mendapat pesan dari Wu Song, dia segera meminta Xue Yen berangkat ke Guan Du gantikan posisi Lu Fan.