
Silahkan anda bertiga kembali turun kebawah, sekarang bukan tanggal 1 dan tgl 15 ( tanggalan Imlek di China ).
"Kuil kami tidak sedang terbuka menerima tamu untuk berkunjung dan sembayang." ucap salah satu biksu tegas.
Wu Song membalas memberikan hormat dengan merangkapkan kedua tangannya didepan dada dan sedikit membungkuk, lalu berkata,
"Tujuan kedatangan kami bukan untuk sembayang, kami datang ingin bertemu dengan Hong San Fang Cang ( Ketua Biara Hong San )."
Keempat biksu itu sedikit terkejut karena Hong San adalah ketua Siauw Lim Si saat ini.
mereka berempat menatap Wu Song dengan curiga.
Akhir biksu tinggi. besar berwajah persegi yang dari tadi selalu menjadi juru bicara, kelihatannya dia adalah pimpinan dari mereka berempat Kembali berkata,
"Fang Cang ( Ketua biara ) kami sedang melakukan meditasi tertutup, tidak bisa di ganggu, silahkan anda bertiga segera tinggalkan tempat ini."
"Ada urusan apa kalian bisa sampaikan pada kami, setelah Fang Cang keluar dari ruang meditasi kami akan menyampaikan kepada beliau." ucap pria berwajah persegi sopan tapi tegas.
Wu Song menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tidak bisa ini hal penting, tolong anda sampaikan pada Fang Cang, aku Wu Song dan istri ku Lu Ping mohon bertemu."
Mendengar di sebutnya nama Wu Song dan Lu Ping, mereka berempat melompat mundur.
Membentuk formasi segi empat, si muka persegi kini bertanya,
"Bukankah anda Pendekar Suling Hitam yang beberapa waktu lalu pernah menimbulkan kekacauan, melecehkan saudara seperguruan kami."
Wu Song menghela nafas panjang melirik kearah istrinya dengan tidak berdaya, kemudian baru kembali menatap mereka berempat dan berkata,
"Benar orang-orang memanggil ku seperti itu karena aku selalu membawa suling ini."
ucap Wu Song sambil menunjukan suling hitamnya.
Lu Ping tidak perduli dia hanya tersenyum nakal, menatap keempat biksu itu.
Terutama kepala mereka yang botak sangat menarik minatnya.
Untuk segera pergi mengelus dan menciumnya.
Keempat biksu itu tentu pernah dengar
__ADS_1
kehebohan yang ditimbulkan oleh Lu Ping, karena keinginan nya yang aneh dan tidak masuk akal.
Tanpa sadar mereka berempat memegang kepala mereka saat melihat tatapan Lu Ping kearah kepala mereka.
Kemudian kembali menatap Wu Song dan berkata,
"Wu sicu ( tuan Wu ) kami sarankan bawalah istri mu kembali turun dari gunung ini, jangan berbuat onar di sini."
"Masalah dulu bila tidak memandang muka mertua mu Sang Jendral Naga Hitam, tentu anda sudah menjadi musuh Siauw Lim Si."
Wu Song menghela nafas dan berkata,
"Kesalahpahaman lama, memang itu kesalahan kami.
Kami minta maaf, dan masalah pun sudah di bicarakan dengan Hong San Fang Cang dan sudah selesai."
"Kedatangan kami bukan untuk bicarakan hal itu, ada permasalahan baru yang kami perlu bicarakan dengan Hong San Fang Cang."
"Jadi mohon sudilah kiranya salah satu di antara kalian naik kepuncak sampaikan kepada Fang Cang kalian tentang kedatangan saya." ucap Wu Song berusaha berbicara baik-baik.
Salah satu biksu yang bertubuh pendek menjadi tidak sabar dan berkata sambil melihat si muka persegi.
"Dia hanya ingin berbuat onar dan mencari gara-gara dengan Siauw Lim Si, bila tidak di beri pelajaran dia akan mengira kita pihak Siauw Lim Si takut dengan nya." ucapnya sambil melihat kearah Wu Song dengan geram.
Wu Song hanya menanggapinya dengan tersenyum canggung, bila bukan karena urusan membersihkan tuduhan pihak Xu San pada Lu Ping.
Wu Song tidak akan bersedia datang ketempat ini, karena hanya akan membuka luka lama sakit hati pihak Siauw Lim Si kepadanya.
Yang hanya akan membuat permusuhan diantara mereka semakin runcing.
Biksu muka persegi tetap bersikap tenang menanggapi perkataan adik kedua nya, dia kembali menatap Wu Song dan berkata,
"Permintaan Sicu tidak dapat kami penuhi, maaf silahkan pergi."
ucapnya sambil menggunakan tangan kanannya mempersilahkan rombongan Wu Song untuk pergi.
Tapi Wu Song tetap tidak bergeming dan berkata,
"Kalau begitu maafkan kekasaran ku yang akan menerobos naik dengan paksa."
Wu Song Kemudian tanpa memperdulikan mereka menempelkan sulingnya di depan mulutnya, lalu mulai meniup sulingnya dan melangkah santai melewati mereka berempat.
__ADS_1
Mereka berempat belum sempat bergerak menyerang sudah jatuh terduduk lemas tidak kuat menghadapi tekanan suara suling Wu Song.
Yang membuat jantung mereka berdebar-debar, tubuh lemas kehilangan tenaga, pakaian mereka basah oleh keringat dingin mereka sendiri.
Wu Song sejak mendapatkan petunjuk dari Hua Thian di neraka perut bumi, ditambah dengan pencapaian kekekalan Semesta.
Permainan irama suling pencabut Sukma nya kini bisa di arahkan sesuka hati, efek hanya terjadi pada yang di arah.
Sedangkan yang tidak di arah tidak merasakannya, kecuali menghadapi musuh yang sangat Kuat yang memerlukan pengerahan sepenuh tenaga maka Wu Song tidak bisa mengendalikan efek suaranya lagi.
Makanya bila menghadapi lawan level atas Wu Song jarang menggunakan irama sulingnya karena efeknya selain bisa membunuh semua mahluk di sekitarnya .
Irama ini juga bisa merusak bangunan dan alam sekitarnya tanpa dapat Wu Song kendalikan lagi.
Wu Song berkelebatan cepat meninggalkan tempat tersebut, di ikuti oleh Lu Ping yang mencekal dan menenteng Cun Ming seperti menenteng anak kucing.
Setelah Wu Song pergi keempat biksu itu baru bisa bernapas lega dan membuka mata
mereka, si muka persegi mengeluarkan sebuah tabung dan melepaskan penutupnya.
Terjadi ledakan kembang api di udara, itu adalah sinyal tanda bahaya agar saudara-saudara yang menjaga jalan masuk di pos kedua bersiaga.
Wu Song tiba di pos kedua langsung di sambut 18 biksu yang membawa tongkat, mereka tadi telah melihat tanda bahaya dari pos pertama,
Makanya begitu rombongan Wu Song sampai, langsung di kepung oleh 18 biksu yang sudah bersiaga dengan tongkat mereka.
Wu Song tanpa banyak bicara lagi langsung meniup sulingnya yang kini mulai menimbulkan sinar keemasan melindungi rombongannya.
Sedangkan ke 18 biksu jatuh bergulingan sambil menutup lubang telinga mereka dengan tangan mereka, tapi percuma saja suara suling Wu Song tetap menembusnya.
Wu Song kembali melesat meninggalkan pos kedua menuju pos ketiga, di pos Ketiga Wu Song disambut segerombolan biksu yang membawa tongkat.
Mereka berjumlah 107 orang biksu semua memegang tongkat membentuk 3 barisan, menghadang pergerakan Wu Song.
Wu Song kembali menempelkan sulingnya di bibir dan memainkan irama suling pencabut Sukma nya.
Tapi ke 107 biksu ini menggabungkan kekuatan mereka memutar tongkat mereka mementalkan serangan irama Wu Song sambil sesekali berteriak "Hu...Ha...!"
Untuk meningkatkan kekuatan tenaga ayun tongkat mereka yang menimbulkan bunyi "Wung... Wung... Wung....!"
Seperti bunyi jutaan lebah meredam suara irama suling Wu Song.
__ADS_1