LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM

LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM
BEBAN PIKIRAN YI YI


__ADS_3

Setelah kota Ye berhasil di tahlukan langkah Wu Song selanjutnya adalah menahlukkan kota Ping Yuan.


Di mana Raja kerajaan Liau Yelu Sanggha,, kini bertahta di sana.


Bersama 750.000 Pasukan miliknya.


Untuk sementara Wu Song tidak bisa langsung bergerak, dia memerintahkan pasukan Jendral Wu, memperbaiki bendungan yang jebol.


Sambil beristirahat menunggu kondisi Pasukan Jendral Wu pulih, mereka baru akan bergerak menyerang Ping Yuan.


Jendral Wu hanya memiliki 300.000 Pasukan, meskipun di pihak Jendral Wu ada dia yang membantu.


Tapi dalam pertempuran besar seperti itu yang melibatkan jutaan orang, kemampuan dan kesaktian pribadi tidak akan berarti banyak.


Jadi Wu Song harus memikirkan strategi yang tepat untuk menyerang Ping Yuan.


Sementara Wu Song sedang memikirkan strategi dan solusi terbaik.


Di kediaman Jendral Sie yang baru mendapatkan surat perintah dari kaisar baru Shi Ma Yan, agar segera bergerak menyerang Lu Jiang Shouchun Ru Nan dan Jiang Xia.


Dan menggabungkan kekuatan dengan Pasukan para pendekar pimpinan si Topeng besi.


Bukan hal sulit bagi Jendral Sie untuk menggerakkan Pasukannya pergi merebut dermaga Wan Kou dan kota Lu Jiang, serta dermaga Ru Xu.


Tapi yang paling sulit adalah permintaan kaisar agar menghubungi dan bekerja sama dengan si Topeng besi.


Yang sangat sulit ditebak di mana keberadaannya, dan bagaimana cara menghubungi orang tersebut.


Karena Si Topeng Besi,.sama seperti orang sakti lainnya, seperti seekor naga sakti yang terlihat kepala tidak terlihat ekornya.


Atau sebaliknya terlihat ekor tapi tidak terlihat Kepalanya, ini bagaikan menyuruhnya mencari jarum di dalam lautan.


Jendral Sie sempat teringat, si Topeng besi pernah muncul menolong putrinya dan mereka terlihat cukup akrab dan saling mengenal satu sama lainnya.


Tapi saat dia menanyakan kepada Yi Yi, Yi Yi dengan wajah merah menjawab dia juga tidak tahu di mana keberadaan si Topeng besi tersebut.


Hal ini membuat Jendral Sie kembali larut dalam kepusingan.


Yi Yi sebaliknya tidur dengan gelisah di kamarnya, membolak-balik kan badannya kesulitan tidur.


Dia merasa sangat bersalah tidak bisa memberikan bantuan apa pun kepada ayahnya.


Di saat ayahnya memerlukan bantuannya, selain itu dia juga tidak tega menyaksikan ayahnya yang sudah tua larut dalam kepusingan tanpa solusi.


Karena tidak bisa tidur, dia akhirnya bangun keluar dari kamarnya berjalan menuju kamar Nenek Yang.

__ADS_1


Yi Yi yang sudah terbiasa, bila sedang pusing, menghadapi beban pikiran berat atau pun menghadapi masalah tanpa solusi.


Selalu mencari nenek Yang untuk berdiskusi, ataupun mendapatkan saran-saran bijak dari Nenek Yang.


Untuk meringankan beban pikiran nya, bahkan tidak jarang dia akan tidur bersama nenek yang dan Thian San bersama-sama.


Di mana dia bisa merasakan kehangatan kasih sayang yang tulus, dan kehangatan serta perhatian yang tidak pernah, dia rasakan dari seorang ibu sejak dia kecil.


Yi Yi berdiri di depan pintu kamar Nenek Yang dan mengetuk pintunya dengan pelan, karena dia takut membangunkan Thian San anaknya yang sedang tidur.


Thian San memang sejak bayi, selalu tidur bersama Nenek Yang, hubungan mereka sangat dekat.


Thian San akan rewel bila tidur tidak ditemani oleh Nenek Yang, lama kelamaan mereka pun tak bisa terpisahkan.


Tidak butuh waktu lama pintu pun terbuka, Nenek Yang memberi tanda agar Yi Yi jangan ribut.


Kemudian dia berjalan keluar dari kamar menutup pintunya Kembali.


Kemudian dia mengajak Yi Yi berbicara di taman.


Yi Yi menceritakan semua beban pikiran dan beban pikiran ayahnya, serta masalah yang sedang di hadapi oleh ayahnya.


Dia menceritakan semua kepada Nenek Yang, Nenek Yang menganggukkan kepalanya, dan mendengarkan dengan serius, setiap ucapan dan kata-kata yang keluar dari mulut Yi Yi.


Hingga Yi Yi menyelesaikan semua cerita nya, Nenek Yang baru berkata,


"Percayalah ayah mu sudah menyebarkan orang mencarinya, begitu dia mendengar kamu dan ayah mu membutuhkan bantuan nya."


"Yakinlah beberapa hari kemudian, dia pasti akan datang kemari menemui kalian."


Yi Yi menatap heran Nenek Yang dan berkata,


"Kenapa nenek bisa begitu yakin dia pasti akan datang ?"


Nenek Yang tersenyum dan berkata,


"Yi er lupa kah kamu, setiap kali kamu dalam kesulitan dan membutuhkan bantuan, dia selalu muncul tiba-tiba dan menolong mu."


"Jadi menurut nenek sekali ini pun, tidak akan terkecuali."


Yi Yi mengangguk tapi sejenak kemudian dia kembali menatap nenek Yang dan berkata,


"Tapi ku dengar dia memiliki bawahan di berbagai kota, membantu melindungi kota-kota."


"Mungkin saja dia sedang berkeliling dan tidak tahu ayah sedang mencarinya."

__ADS_1


Nenek Yang tersenyum dan menepuk punggung tangan Yi Yi dengan lembut.


"Anak bodoh.. tidak kah kamu masih tidak memahami perasaan nya pada mu."


Mendengar ucapan Nenek Yang, wajah Yi Yi langsung memerah dan berkata,


"Perasaan apa nenek ? jangan bercanda dan menggoda ku."


"Mana mungkin pendekar dan patriot besar tanpa pamrih seperti dia bisa menaruh perhatian kepada janda beranak satu yang tidak di kehendaki oleh suaminya.?"


"Kalaupun ya, aku tidak pantas untuk nya nek.."


ucap Yi Yi tertunduk sedih.


Nenek Yang membelai kepala Yi Yi dan berkata,


"Anak bodoh..kamu jangan hanya memandang dari satu sisi saja, Nenek percaya dia tidak akan memandang status dan keadaan mu."


"Nenek yakin dia tidak pernah benar-benar pergi jauh dari sisi mu, dia selama ini tidak muncul dan mendekati mu."


"Karena dia tidak yakin kamu sudah bisa melupakan sepenuhnya pria tidak berperasaan itu."


"Menurut pengamatan nenek dia tidak ingin membuat mu terbebani dan berada dalam dilema."


Yi Yi menatap heran Nenek Yang dan berkata,


"Mengapa nenek bisa menebak seperti itu ?"


Nenek Yang kembali tersenyum dan berkata,


"Kalau jawaban itu harus kamu tanyakan kepada hati mu sendiri, apakah kamu masih menyimpan perasaan tidak terhadap Bun Houw ?"


"Yang paling nenek cemaskan saat ini bukanlah muncul atau tidak nya dia membantu ayah mu."


"Tapi yang nenek cemaskan adalah kelak bagaimana kamu akan memilih saat berhadapan dengan Bun Houw."


"Karena cepat atau lambat kalian pasti akan bertemu di Medan perang."


"Nenek sangat khawatir perasaan lama dan keraguan mu akan mencelakakan diri mu."


Yi Yi terlihat termenung mendengar ucapan Nenek Yang, yang seolah mengupas habis isi hatinya.


Melihat Yi Yi termenung sedih, Nenek Yang kembali membelai rambut Yi Yi dan berkata,


"Kalau kamu masih ragu, nenek menyarankan kamu jangan ikut terlibat dalam peperangan ini."

__ADS_1


"Lebih baik kamu fokus membesarkan Thian San, dan memikirkan cara untuk menjelaskan kepada Thian San siapa ayah kandungnya."


__ADS_2