
Pagi itu di perkemahan Wu Song terjadi kehebohan.
Jendral Wu Menemukan sepucuk surat yang ditinggalkan dari Wu Song kepada dirinya, yang mengatakan Luo Yang kini sedang berada dalam bahaya.
Jadi Wu Song di minta harus segera kembali ke Luo Yang, jadi Wu Song tidak bisa menemani mereka melanjutkan Pertempuran.
Wu Song meminta Jendral Wu melanjutkan memimpin sisa pasukannya melanjutkan perang merebut kota Ping Yuan dari Raja Sanggha.
Menanggapi surat ini,
Jendral Wu sangat marah dan emisi, sebagai reaksi kemarahannya dia menerbalikkan meja dan kursi didepan anak buahnya, dan mengumpat-ngumpat dengan emosi mencaci maki Wu Song.
Para bawahannya berusaha menenangkan Jendral Wu, meski hati mereka juga panik dengan hilangnya pilar andalan mereka, hati mereka menjadi goyah.
Dalam waktu singkat berita tentang kepergian Wu Song sudah tersebar luas di kalangan Pasukan Jin.
Sehingga moril Pasukan Jin mulai terganggu. oleh kabar tersebut.
Hal ini semakin di perparah dengan kabar ransum perbekalan Pasukan mereka mulai menipis.
Kabar ini membuat pasukan Jin semakin was-was dan cemas.
Ketika jam makan siang tiba, masalah yang mereka cemaskan pun akhirnya pecah.
Mulai terjadi keributan antara seorang komandan pasukan yang biasa di panggil komandan Lui.
Dengan kepala juru masak di dapur.
Yang biasa di panggil kakak Kui.
Kakak Kui ini juga berpangkat komandan sama dengan komandan Lui.
Hanya saja Paman Kui ditugaskan di garis belakang, mengurus perbekalan dan ransum makanan sehari-hari Pasukan.
Keributan di pacu oleh Masalah pembagian jatah makan siang, untuk hari ini .
Dimana ransum makanan siang hari ini dikurangi dengan alasan penghematan. oleh bagian dapur.
Yang di bawahi oleh kepala juru masak Komandan Kui, atau biasa di panggil Paman kui.
Jadi semua pasukan hari ini, masing-masing hanya mendapatkan semangkuk bubur cair sebagai jatah makan siang mereka.
Hal inilah yang memicu seorang komandan Lui, yang merupakan komandan kepercayaan dan paling dekat dengan Jendral Wu.
__ADS_1
Merasa sangat tidak puas lalu memimpin bawahannya, melakukan protes kepada kepala juru masak Paman Kui.
Adu mulut PUterjadi masing-masing mempertahankan argumen mereka masing-masing, hingga akhirnya terjadi perkelahian massal, antara pasukan pimpinan Komandan Lui dan Komandan Kui.
Akhirnya Jendral Wu yang mendengar kabar tentang hal ini, dengan sangat marah keluar dari tendanya.
Jendral Wu yang dalam kondisi mabuk karena masih kesal dengan kepergian Wu Song disaat-saat paling genting.
Kini dia segera maju melampiaskan amarahnya memukul dan menendangi kedua belah pihak yang bertikai.
Hingga akhirnya pertikaian itu pun bubar, begitu mereka semua menyadari kehadiran Jendral besar mereka disana
"Akui dan Alui kalian berdua ikut aku ke tenda."
ucap Jendral Wu menahan emosi yang hampir meledak.
Kedua orang itu segera mengikuti langkah Jendral Wu masuk kedalam tenda.
Melihat kedua Komandan mereka kini sudah di bawa oleh Jendral besar mereka ke tenda.
Para pasukan yang bertikai tidak berani melanjutkan pertikaian mereka, mereka kembali ketempat mereka masing-masing.
Akibat pertikaian tersebut seluruh makanan siang itu tumpah berantakan.
Tak lama kemudian terlihat Paman Kui keluar dari tenda dengan wajah senang dan puas.
Komandan Lui menyusul di belakangnya dengan kepala tertunduk, wajahnya babak belur di hajar Jendral besar Wu.
Yang menemukan tempat pelampiasan emosi, apalagi Jendral Wu sedang mabuk sehingga lepas kontrol.
Komandan Lui yang sedang sial kembali kepasukannya, dengan tidak puas dia bercerita kepada teman-temannya.
Hasilnya malam itu Komandan Lui, Komandan Song dan Komandan Lin memutuskan kabur bersama seluruh pasukan bawahan mereka.
Mereka bertiga memilih melarikan diri menyerah kepada Pasukan khitan di Ping Yuan.
Raja Sanggha menerima penyerahan diri mereka dengan senang hati.
Raja Sanggha menempatkan mereka semua di kamp militer terpisah dan mendapatkan makanan dan minuman yang layak.
Tapi mereka di larang membawa senjata apapun di kamp militer yang mereka tempati.
Total Pasukan yang menyerah itu setelah di hitung mencapai 50.000 personil.
__ADS_1
Raja Sanggha sebenarnya sudah mendapatkan informasi tentang keributan di perkemahan Pasukan kerajaan Jin, yang di picu oleh masalah ransum makanan.
Selain itu dia juga mendapatkan kabar Wu Song yang sangat ditakuti itu, kini tengah kembali ke Luo Yang.
Karena Pasukan Rajawali Merah kini sudah menguasai Hu Lao Kuan, yang menjadi benteng pertahanan terakhir Luo Yang.
Mendapatkan dua informasi ini hatinya sangat senang dan gembira, kini dengan datangnya, Ketiga komandan dari pihak Pasukan kerajaan Jin.
Ini melengkapi kegembiraan nya, tanpa mengorbankan satu prajurit pun, mereka berhasil menahan 50.000 Pasukan Jin ini benar-benar hal yang sangat di luar dugaan.
Seakan-akan langit sedang berpihak kepada dirinya.
Keesokan paginya Raja Sanggha kembali mendapat laporan bahwa, kembali terjadi keributan di kemah utama.
Antara Jendral Wu dan dua jendral muda bawahannya.
Akibat keributan ini, kedua jendral muda menarik mundur masing-masing 100.000 Pasukan dengan tujuan kembali ke dermaga Bai Ma.
Kini Jendral Wu juga sedang bersiap-siap besok pagi kembali ke kota Ye.
Menjelang matahari tenggelam Raja Sanggha kembali mendapat laporan bahwa, Jendral Wu malam ini akan mengadakan pesta besar-besaran sebelum besok pagi mereka kembali ke kota Ye.
Awalnya raja Sanggha sangsi, sebagai seorang jendral terbaik Jin, agak tidak masuk akal Jendral Wu berbuat seperti itu.
Tapi ketika menjelang malam, dari atas menara tertinggi, terlihat jelas perkemahan Pasukan Jin.
Sedang mengadakan pesta dengan musik hinggar-binggar, terbawa angin terdengar sampai ke benteng pertahanannya.
Menjelang tengah malam dia kembali mendapatkan, kabar, seluruh pasukan Jin yang berada di perkemahan sebagian besar sedang mabuk berat.
Mendengar hal ini Raja Sanggha dan Panglima nya berunding, kemudian mereka memutuskan malam ini akan membawa seluruh kekuatan mereka melakukan serangan mendadak.
Raja Sanggha ingin menangkap Jendral Wu, dan merebut kembali kota Ye, karena dia mendengar bocoran Mimi saat ini sedang ada di kota Ye.
Jadi Raja Sanggha tidak akan mensia-siakan kesempatan besar yang sedang ada di hadapannya.
Raja Sanggha hanya menyisakan 50.000 Pasukannya untuk menjaga dan mengawasi benteng dan tahanan yang tidak bersenjata dan tidak berbahaya.
Lalu dia membawa 250.000 Pasukan bersama panglima Burhan bergerak melakukan serangan penyergapan ke perkemahan Pasukan Jin.
Saat mereka tiba suara musik sudah tidak terdengar, tapi bau arak yang menyengat mulai tercium, di bawa angin yang berhembus kearah mereka.
Raja Sanggha semakin gembira dia dan Panglima Burhan saling pandang dan tertawa.
__ADS_1
Mereka langsung bergerak cepat melakukan penyergapan dari segala arah ke perkemahan Pasukan kerajaan Jin, dibawah pimpinan Jendral Wu.