LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM

LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM
PULAU MISTERIUS,


__ADS_3

Tubuh mereka berdua tertarik dan berputar dengan cepat memasuki sebuah lubang gelap .


Wu Song tidak masalah.


Karena dia sanggup bernapas dalam air berkat kemampuan pengolahan udara, termasuk mengolah oxygen yang terkandung dalam air buat bernafas.


Tapi Se Se tentu tidak bisa, Wu Song setiap merasakan lengan Se Se mencekal nya dengan erat.


Dia akan memberikan oxygen melalui mulut ke Se Se.


tidak tahu berapa lama berputar-putar. dibawa arus air.


Bahkan Se Se sudah tidak sadarkan diri, tidak kuat menahan pusing dan kesulitan bernafas.


Arus air akhirnya mulai melemah,


Wu Song melihat ada cahaya di depannya,


dia segera berenang menuju cahaya tersebut, sambil membawa tubuh Se Se yang terikat bersamanya.


Keluar dari lubang bercahaya, Wu Song cepat-cepat berenang keatas permukaan air yang terang.


Wu Song sudah bisa bernafas seperti biasa, Wu Song membantu menyadarkan Se Se. Butuh beberapa saat sampai akhirnya Se Se sadar dan menatap sekitar dengan bingung.


Saat melihat Wu Song dia langsung memeluk Wu Song dan bertanya,


"Song ke ke kita masih hidup atau sudah..?"


Wu Song membalas pelukan Se Se dan berbisik,


"Tentu kita masih hidup, lihat di depan sana ada daratan kita coba mencari tahu kesana."


Se Se menoleh melihat ke belakang kearah yang di tunjuk Wu Song.


Se Se mengangguk kemudian berenang mengikuti Wu Song, menuju daratan yang terlihat garis pantai yang memanjang.


Tiba di pantai Wu Song dan Se Se bergandengan tangan berjalan menuju sebuah pohon yang rindang.


Duduk di bawah pohon itu Wu Song menggunakan tenaga sakti 9 matahari mengeringkan pakaian Se Se dan pakaiannya sendiri.


Setelah kering Wu Song membawa Se Se terbang mengelilingi daratan tersebut.


Daratan tersebut cukup luas tapi tidak berpenghuni.


Tempat apa ini? pikir Wu Song di dalam hati, kelihatannya mereka kembali terjebak tidak tahu di alam apa?


Dulu masih mendingan ada Hua Thian, kini mereka benar-benar cuma tinggal berdua.

__ADS_1


Lain pikiran Wu Song, lain pikiran Se Se, dia malah sangat gembira menikmati terbang bersama Wu Song, dan menikmati pemandangan di bawahnya.


Setelah mengelilingi pulau Wu Song tidak melihat ada penghuni, sekeliling adalah pantai, ditengah-tengah adalah hutan yang sangat lebat sampai cahaya matahari sulit menembus nya.


Dari atas Wu Song tidak dapat melihat apa-apa, Wu Song hanya melihat ada dua gunung di tengah pulau yang menjulang tinggi.


Yang satu adalah gunung yang di selimuti es terletak di bagian Utara, sedangkan yang satu lagi adalah gunung yang puncaknya selalu bersinar kemerahan, dugaan Wu Song itu gunung berapi aktip.


Wu Song sedikit khawatir bila gunung tersebut meletus pulau ini bisa hilang.


Wu Song sengaja terbang tinggi-tinggi,


agar dapat mengamati apakah ada daratan lain, tapi yang terlihat sepanjang mata hanya hamparan air laut.


Tempat apa ini sebenarnya? Wu Song bertanya-tanya dalam hati.


Apa kami sudah keluar dari neraka perut bumi,? dan ada di tempat yang sangat jauh dari daratan China tengah.


Atau kami masih berada di alam yang seperti neraka perut bumi, semakin berpikir semakin pusing Wu Song dibuatnya.


Apa aku di takdir kan seumur hidup tidak bisa bertemu dengan Lu Ping lagi. pikir Wu Song sedih.


Se Se merasakan Wu Song agak kecewa dan sedih, dia menoleh menatap Wu Song dan memegang wajah Wu Song agar melihat kearah nya.


"Song ke ke jangan bersedih dan putus asa, aku akan selalu menemani dan mendukung mu."


"Anggap saja ini pertualangan kita, kita akan terus mencoba dan berpetualang sampai kita bisa kembali ketempat asal kita.


ucap Se Se lembut sambil membelai punggung Wu Song.


Wu Song mengangguk kemudian membawa Se Se mendarat dan berkata,


"Kamu benar, ayo kita selidiki ke dalam hutan mencari makanan, untuk mengisi perut.


Hutan agak gelap. Wu Song berjalan pelan sambil menggandeng tangan Se Se.


Tangan Se Se yang lain menggenggam sebatang pedang, yang selalu dia titipkan di cincin Wu Song.


Wu Song melihat di dalam hutan banyak gundukan berkilauan, tertimpa sinar matahari yang tembus dari sela-sela dedaunan lebat.


Gundukan itu tertutup oleh daun-daun kering, Wu Song mengajak Se Se mendekati salah satu gundukan yang berkilauan berwarna putih.


Saat dedaunan di singkirkan, terlihat lah gundukan intan berlian yang bertumpuk-tumpuk.


Se Se ternganga melihat gundukan di hadapannya,


"Ini batu mulia langka.." ucapnya terkejut.

__ADS_1


Wu Song mengangguk dan berkata,


"Coba kita periksa gundukan lain yang masih banyak di sekitar sini."


Setelah dedaunan yang menutupi gundukan di singkirkan semua, ternyata gundukan lain terdiri dari emas perak berlian yang jumlahnya tidak terhitung banyaknya.


Wu Song menghela nafas panjang dan berkata,


"Bila di dunia kita, benda-benda ini akan jadi rebutan orang-orang, tapi ditempat seperti ini justru benda-benda ini tidak berharga."


Wu Song melihat-lihat sekeliling kemudian berkata,


"Kita simpan saja, nanti bila kembali ke dunia kita, benda-benda ini akan sangat berguna."


Wu Song memasukkan semua gundukan ke dalam cincinnya.


Kemudian kembali melanjutkan perjalanan, baru ingin melangkah.


Dari arah kiri dan kanan terdengar suara bergemerasakan, tanah tempat Wu Song dan Se Se berpijak juga bergetar hebat seperti ada gempa.


Akhirnya dari balik pepohonan, muncul dua ekor mahluk berbulu raksasa yang tingginya hampir mencapai 30 meter.


Yang satu berbulu putih keperakan yang satu lagi berbulu merah keemasan.


Kedua mahluk menatap dengan ganas dan penuh kemarahan kearah Wu Song dan Se Se.


Wu Song cepat mengeluarkan sulingnya dan mendorong Se Se mundur kebelakang nya.


Sebelum kedua mahluk bergerak menyerangnya, Wu Song memainkan sulingnya.


Terdengar irama suling yang lembut dan halus dari suling Wu Song.


Wu Song ingin menjinakkan kedua mahluk itu lewat suara irama sulingnya.


Tapi diluar perkiraan kedua mahluk itu meraung marah, suara raungan mereka menggetarkan seluruh pulau.


Membuat efek suara suling Wu Song tertindih, oleh suara raungan kedua mahluk itu.


Wu Song memberikan dua buah penyumbat lubang telinga ke Se Se, dan memberinya kode mundur menjauh.


Setelah melihat Se Se memakai pelindung lubang telinga dan mundur menjauh,


Wu Song menambah suara lengkingan sulingnya. Untuk mengalahkan suara raungan kedua mahluk berbulu raksasa itu.


Kedua mahluk itu mulai merasa terganggu dan menutup lubang telinga mereka dengan sepasang tangan mereka yang berbulu.


Mereka kemudian secara bergantian membuka mulut mereka meraung ke arah

__ADS_1


Wu Song.


Wu Song terdorong mundur oleh kekuatan angin yang keluar dari mulut mereka.


__ADS_2