LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM

LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM
KESEDIHAN HATI SE SE,


__ADS_3

Akhirnya Wu Song buka suara dan berkata,


"Sudah jangan menangis lagi, bukankah aku sudah pulang tenangkan dirimu."


"Dimana guru Hua? ada hal penting yang ku temukan dan perlu ku bicarakan dengan kalian berdua." ucap Wu Song sambil menjauhkan tubuh Se Se darinya dan menatapnya dengan senyum lembut seorang bapak terhadap anak atau seorang kakak terhadap adik.


Wu Song telah berhasil mengendalikan nafsu fana nya terhadap Se Se, jadi dia sudah merubah kasih sayang pria wanita menjadi kasih sayang keluarga.


Se Se sebagai seorang wanita yang memiliki perasaan halus, tentu dapat merasakan perubahan Wu Song ini.


Dulu meski Wu Song selalu menolaknya dia masih dapat merasakan adanya bara yang di pendam dan di tahan.


Tapi kini bara itu padam tak berbekas, yang ada hanya kasih sayang keluarga dekat.


Tidak ada lagi ketertarikan hubungan antara pria dan wanita.


Se Se mundur menjauh, dan berteriak.


"Aku tidak mau..aku tidak mau... !


Wu Song ke ke yang seperti ini...! aku tidak mau..! kembalikan Wu Song ke ke ku yang dulu..!!"


Se Se membalikkan badannya berlari meninggalkan Wu Song menutup mulutnya dengan air mata bercucuran.


Wu Song berdiri terpaku di tempat, apakah aku telah salah langkah.


Aku malah menyakitinya dengan sangat mendalam, tapi mungkin ini adalah sakit sementara.


Jelas lebih baik dari pada penderitaan berkepanjangan nanti dengan berjalan nya waktu dia akan paham sendiri niat baik ku ini.


Pikir Wu Song dalam hati.


Kemudian melangkah ke pondok tempat tinggal Hua Thian, tiba didepan pondok Wu Song berteriak,


"Guru..! aku sudah pulang! kamu di mana..!"


"Aku disini, tidak perlu teriak-teriak bikin telinga ku sakit.." ucap Hua Thian yang tiba-tiba muncul di samping Wu Song.


"Bocah nakal kamu kemana saja hampir satu tahun baru kembali kesini.?"


"Kamu enak-enak di sana, sementara aku di sini tiap hari di teriakin istri mu yang selalu menyalahkan ku, telah membuat mu menjadi tidak normal."


"Ini aku sudah hampir 3 bulan di hukumnya tidak makan nasi, setiap hari cuma di beri ubi sampai aku selalu buang angin." ucap Hua Thian mengeluh dan mengomeli Wu Song.


Wu Song tidak bisa menjawab hanya tersenyum pahit dan berkata,


"Maaf guru..."

__ADS_1


Hua Thian menarik napas panjang dan berkata,


"Aku tahu hubungan mu dengan nya ada masalah dan kurang baik, aku hanya bisa berkata, bagaimana pun dia sudah menjadi istrimu."


"Dia sudah menyerahkan semuanya padamu, bagaimanapun kamu tidak boleh mengecewakannya."


"Sudah tahu akan seperti ini, mengapa waktu itu kamu...?"


"Ahh sudahlah menyesal pun tiada guna, hadapi saja, bersikap lah lebih baik dengan nya."


"Bagaimana latihan mu?"tanya Hua Thian menatap Lu Sun penuh simpati.


"Aku sudah berhasil guru, dan aku sepertinya menemukan jalan keluar untuk meninggalkan tempat ini guru." ucap Wu Song penuh semangat.


Tapi respon Hua Thian mengejutkan Wu Song, Hua Thian berkata,


"Aku keluar dari sini rasanya juga tidak ada guna, aku juga sudah melepaskan kebencian dan dendam ku padanya."


"Lebih baik aku di sini saja setidaknya masih ada makamnya yang menemaniku." ucap Hua Thian tersenyum pahit.


Bukankah guru ingin mencari putra guru? tanya Wu Song berusaha membangkitkan semangat gurunya.


Hua Thian tersenyum dan menepuk pundak Wu Song sambil berkata,


"aku saja sudah hidup ribuan tahun di sini, ketemu pun hanya melihat tulang putihnya, itu pun kalau masih ada."


"Tapi setidaknya Guru ada harapan bertemu lagi dengan keturunan mu?" ucap Wu Song masih berusaha membujuk gurunya.


Hua Thian tertawa dan berkata,


"Kami tidak saling kenal, bisa-bisa aku malah di anggap gila. Manusia mana yang akan percaya ada seorang manusia yang bisa hidup sampai ribuan tahun."


Hua Thian kemudian tertawa dan menatap Wu Song,


"Sudahlah putusan ku sudah bulat."


"Lebih baik kamu manfaatkan waktu mu, pergi temui dan bujuk lah dia, mungkin lebih bermanfaat daripada buang waktu di sini.


Ucap Hua Thian sambil memberi kode dengan tangan mengusir Wu Song, kemudian berjalan memasuki pondoknya


Wu Song Kembali ke pondoknya, tapi tidak melihat Se Se, dia kemudian mengelilingi pulau mencari Se Se.


Akhirnya menemukan Se Se sedang duduk termenung di atas sebuah batu tidak jauh dari air kolam air terjun yang jernih sampai terlihat bebatuan di dasarnya.


Air terjun yang jatuh dari atas terlihat seperti sebuah tirai putih yang berkilauan saat tertimpa sinar matahari.


Bahkan di sudut yang agak gelap terlihat bias pelangi.

__ADS_1


Wu Song mendekati Se Se duduk di sebelahnya dan bertanya,


"Se Se kamu sedang apa di sini? Lapar tidak bagaimana bila ku bakar kan beberapa ekor ikan untuk mu?"


Se Se menggeleng kepala dan menjawab,


"Aku tidak lapar."


Wu Song pun diam tidak tahu mau bicara apa.


Suasana yang hening dan sepi diantara mereka menimbulkan perasaan hampa dan menyedihkan di hati Se Se.


Seakan-akan tidak ada lagi yang perlu di bicarakan lagi soal hubungan mereka.


Se Se perlahan-lahan menoleh menatap


Wu Song dan berkata,


"Wu Song ke ke tinggalkanlah aku sendiri di sini, kamu pulang saja."


Wu Song mengangguk dan berkata,


"Baiklah.."


Kemudian dia berdiri membalikkan badan nya melangkah pergi meninggalkan Se Se.


Hati Se Se bagai di sayat sembilu jati nya terasa begitu dingin dan sepi.


Se Se memalingkan wajahnya agar airmata yang runtuh cukup dia sendiri saja yang tahu.


Wu Song setiba di pondok berbaring di kasur berbantalkan lengannya menatap langit-langit sambil melamun.


Sebentar memikirkan bagaimana cara mengakhiri hubungannya dengan Se Se tanpa ada penyesalan dan sakit hati.


Sebentar lagi berpikir bagaimana Lu Ping melewati hidupnya selama 1 tahun setengah ini tanpa dirinya.


Setelah bolak-balik berpikir tanpa solusi akhirnya Wu Song tertidur, di dalam mimpinya Wu Song bermimpi Se Se tersenyum padanya dan berkata,


"Wu Song ke ke selamat tinggal, jaga dirimu baik-baik kedepannya Se Se tidak akan jadi beban pikiran mu lagi."


"Se Se tidak pernah menyesal bertemu dengan mu."


Kemudian Se Se membalikkan badannya berjalan pergi menghilang menjadi butiran cahaya.


Wu Song ingin memanggilnya tapi suaranya tercekat di tenggorokan tidak bisa keluar, karena Wu Song terus meronta akhirnya terbangun dari mimpinya.


Wu Song membersihkan keringat di wajahnya dengan lengan bajunya, Wu Song melihat kearah jendela hari sudah gelap.

__ADS_1


__ADS_2