LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM

LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM
MEMBEBASKAN PUTRI KIM,


__ADS_3

Bun Houw mengangguk setuju dan segera memanggil Yue Fei menulis sepucuk surat, kemudian di edarkan ke para tahanan untuk di tanda tangani.


Setelah selesai Bun Houw dan Jendral Bai menuju kediaman gubernur Xiang Ping, meninjau tahanan yang di kurung di sana.


Jendral Bai hanya menatap sekilas ke empat tahanan tersebut, setelah menyuruh mereka berempat tanda tangan.


Mereka pindah ke kamar tahanan lain, yang letaknya berjauhan dengan tahanan ke empat Jendral tersebut.


Di sini kamarnya lebih rapi dan bersih ada ranjang lemari meja kursi dan kamar mandi.


Saat pintu kamar tahanan terbuka terlihat Putri Kim sedang duduk santai seorang diri, menghadap meja didepan nya.


Jendral Bai yang terkenal cabul langsung melotot kedua matanya, seperti ingin meninggalkan rongga matanya.


Saat melihat kecantikan dan kemolekan tubuh putri Kim.


Putri Kim menatap Bun Houw dan berkata,


"Hai Bun Houw apa kabar? lama tidak bertemu kamu semakin ganteng saja."


"Bagaimana dengan tawaran ku kemaren? apakah kamu sudah mempertimbangkannya kembali.?" ucap Putri Kim sambil tersenyum penuh arti kepada Bun Houw.


Bun Houw tidak menjawabnya, dia hanya diam saja.


Jendral Bai melirik Bun Houw, kemudian berkata.


"Tawaran apa perwira Bun Houw coba di jelaskan."


Bun Houw terpaksa menjelaskan pada Jendral Bai.


Jendral Bai mengangguk kemudian berkata,


"Aku percaya padamu, kamu adalah perwira ku yang paling bisa di andalkan."


"Sekarang kalian berlima tinggalkan ruangan ini, ada yang ingin ku bicarakan pada Putri ini."


"Tanpa perintah dari ku tidak boleh ada yang mendekat, apalagi masuk kemari." ucap Jendral Bai memberi perintah.


"Mengerti..!" ucap Jendral Bai keras untuk memastikan.


"Baik ..di mengerti..!" ucap ke 5 perwiranya serentak kemudian keluar dari kamar tahanan.


Tak lama kemudian dari luar kamar terdengar suara kain robek dan suara tertawa Jendral Bai, bercampur suara jeritan minta tolong putri Kim.


Serta cacian sumpah serapahnya pada jendral Bai.


Putri Kim juga meneriakkan nama Bun Houw meminta tolong kepadanya.


Bun Houw menutup kedua telinganya dengan tangannya, seluruh tubuhnya gemetar menahan emosi.

__ADS_1


Keempat perwira lain hanya tertawa-tawa, mereka malah berdiskusi saat jendral Bai selesai, siapa yang mendapatkan giliran lebih dulu.


Saat suara jeritan makin keras, dan nama Bun Houw dipanggil-panggil dengan suara terisak-isak menahan tangis.


Bun Houw tidak dapat menahan diri lagi, dengan mata merah dan wajah merah padam. Dia berjalan kearah kamar tahanan putri Kim.


Keempat perwira maju menahannya tapi mereka berempat segera terhempas menabrak dinding oleh kekuatan yang terpancar dari tubuh Bun Houw.


Bun Houw menendang pintu kamar tahanan yang di kunci dari dalam, sekali tendang pintu besi itu copot jatuh terpental menghantam meja dan lantai menimbulkan suara hiruk pikuk.


Bun Houw semakin marah melihat Jendral Bai yang telanjang bulat, sedang menindih tubuh Putri Kim yang setengah telanjang.


Karena pakaian nya sebagian besar robek berserakan di lantai kamar tahanan.


Jendral Bai terkejut dan menunjuk Bun Houw dengan marah sambil berteriak,


"Apa yang kamu lakukan brengsek, ingin memberontak ya.?"


Sedangkan Putri Kim terlihat tertindih dibawah dengan sangat kasihan, matanya berlinang airmata sedang menatap Bun Houw dengan penuh permohonan minta di selamatkan.


Bun Houw yang melihat tatapan Putri Kim kepadanya membuatnya merasa bersalah kepada putri itu.


Bun Houw menghilang dari posisinya berdiri, muncul di belakang Jendral Bai mencengkram lehernya dengan kuat dan menghempaskan tubuhnya yang telanjang bulat menjijikkan keluar dari kamar tahanan.


Bun Houw membuka baju luarnya menyelimuti tubuh Putri Kim yang langsung menggunakan jubah itu menutupi tubuhnya.


Bun Houw menatap Putri Kim dan berkata,


"Maaf aku terlambat, kamu tidak apa-apa kan? apakah bajingan itu sudah....?"


Putri Kim menggelengkan kepalanya.


Bun Houw mengangguk mengerti kemudian berkata,


"ganti pakaian mu.. aku akan membebaskan kalian pulang ke Goguryeo."


Ucap Bun Houw sambil memutuskan rantai besi yang mengikat tangan dan kaki Putri Kim dengan sekali sentak.


Bun Houw harus mengambil keputusan cepat, menolong orang harus tuntas tidak boleh setengah-setengah.


Bun Houw tahu bila tidak sekarang, dia tidak akan punya kesempatan lagi.


Bila Jendral Bai sadar nanti, semua yang di lakukan nya saat ini akan sia-sia.


Dia sendiri tetap tidak akan lepas dari hukuman baik melepaskan mereka atau pun tidak.


Dengan tergesa-gesa Bun Houw membawa Putri Kim meninggalkan kamar tahanan.


Saat melewati jendral Bai, Bun Houw menggunakan totokan jari matahari.

__ADS_1


Membuat Jendral Bai tidak bisa bergerak dan berbicara dalam kurun waktu 2 x 24 jam.


Bun Houw juga membebaskan ke empat Jendral yang terlihat bingung dengan tindakan Bun Houw.


Bun Houw tidak perduli, dia terus bergerak cepat membawa mereka berlima meninggalkan ruang tahanan.


Para penjaga meski heran mereka juga tidak berani menghalangi Bun Houw, Bun Houw langsung membawa mereka menuju kamp tahanan perang.


Sampai di sana Bun Houw memerintahkan Alung dan Yue Fei membebaskan seluruh pasukan Goguryeo.


Kemudian mengantar mereka menuju kapal besar Goguryeo yang pernah di tenggelam kan oleh Bun Houw.


Tapi dalam kurun waktu 4 bulan ini Bun Houw dan Pasukan nya telah memperbaiki kapal ini.


Tadinya kapal-kapal ini akan diserahkan ke jendral Bai sebagai sitaan perang.


Kini kelihatannya tidak perlu lagi.


Bun Houw juga meminta ke 5 komandannya menyiapkan perbekalan untuk rombongan Putri Kim.


Setelah semua selesai kapal siap berangkat.


Putri Kim dengan berlinang airmata berkata,


"Mengapa kamu begitu berkeras tidak mau ikut,? ikutlah denganku aku akan menjamin kesejahteraan mu dan anak buah mu."


"Kakak Bun Houw kumohon ikutlah denganku." ucap Putri Kim sedih.


Bun Houw tersenyum dan menggeleng.


Putri Kim menggenggam tangan Bun Houw dengan tidak rela berkata,


"Sadar kah kamu, melepaskan tawanan perang hukumannya adalah penggal kepala."


"Ikutlah denganku Bun Houw jangan sia-siakan hidupmu, untuk atasan yang jahat dan tidak berguna itu."


Bun Houw tersenyum melepaskan pegangan Putri Kim sambil berkata,


"Pria sejati tahu ada hal yang boleh di lakukan dan ada hal yang tidak boleh dilakukan."


Bun Houw menepuk pundak Putri Kim melanjutkan kata-katanya,


"Menolong mu adalah tugas ku sebagai seorang pendekar, tidak meninggalkan tanggung jawab dan menghianati negara sendiri, adalah bakti ku sebagai perwira kerajaan Jin."


"Pergilah selamat jalan, senang berkenalan dengan mu, sampai Jumpa..." ucap Bun Houw kemudian membalikkan badannya diikuti oleh seluruh anggota pasukan nya berbaris rapi mengikutinya dari belakang.


Putri Kim masih tidak rela meninggalkan Bun Houw, dengan berlinang airmata dia berteriak,


"Kakak Bun Houw sarang hamnida...!!!"

__ADS_1


__ADS_2