
"Anda ksatria luar biasa Raja muda Angga, tapi ku sarankan sekali lagi bawalah Pasukan mu mundur menjauh dari sini."
"Bila kamu melepaskan jurus pamungkas mu itu yang mati bukan aku tapi seluruh orang yang ada di sini kecuali kita berdua tidak akan ada yang hidup."
ucap Wu Song sambil tersenyum melihat kearah Raja Angga yang sedang merapalkan jurus pamungkas nya.
Raja Angga sambil merapal jurus pamungkas nya menjawab,
"Tidak bisa... kerajaan Wirata telah berani menyembunyikan dan memberikan perlindungan kepada rival abadi ku."
"Kecuali mereka mengusirnya dari sini, bila tidak aku tetap akan meratakan kerajaan ini."
Wu Song yang memilki kemampuan membaca semua jurus orang sudah dapat membayangkan bahaya apa yang akan di bawa oleh jurus tersebut.
Selain itu Wu Song melihat baju Zirah Emas raja Angga yang berkilauan tertimpa cahaya matahari, mengingatkan nya dengan baju zirah milik gurunya.
Jadi bila terjadi benturan sedahsyat apapun baju Zirah itu pasti akan melindunginya dari bahaya.
Mungkin hanya Pedang Naga Siluman
Semesta yang bisa melukai nya.
Tapi Wu Song tidak yakin, yang dia yakin adalah baik pedangnya maupun jurus pamungkas raja Angga akan membawa kehancuran di kedua belah pihak yang fatal.
Jadi Wu Song sebisa mungkin mencegah kejadian fatal itu terjadi.
Wu Song kemudian menoleh kearah raja Chedi Sisupala, dan berkata,
"Kamu masih tidak mau pergi, tunggu apalagi mau mengorbankan diri mu dan seluruh pasukan mu menyusul si pembawa gada itu.?"
ucap Wu Song sambil mengeluarkan pedangnya dari dalam cincinnya.
Sisupala gemetaran ketika melihat pedang hijau yang masih tersarung, tapi bisa mengeluarkan aura Pembunuh yang menggetarkan jantung nya.
Tadinya dia berharap banyak dengan kehadiran raja Angga temannya ini, dia bisa dengan alasan balas dendam memperluas wilayah kekuasaannya dengan menahlukkan kerajaan Wirata.
Tapi kelihatannya keadaan kini tidak sesuai harapan.
Tanpa menjawab lagi raja Chedi memberi tanda agar sisa pasukan nya untuk mundur.
Setelah Pasukan nya mundur raja Chedi berkata,
"Maaf yang mulia Raja muda Angga, aku tidak bisa menemanimu bertempur lagi."
"Kemampuan ku dan kalian selisih terlalu jauh, bila kalian bertarung yang mati adalah kami semua."
__ADS_1
"Selamat berjuang...sekali lagi maaf.."
setelah berucap Raja Chedi menarik tali kekang kudanya mundur meninggalkan tempat tersebut.
Kini di lokasi pertempuran tinggal Raja Angga beserta sisa pasukan setia nya saja.
Sedangkan di pihak kerajaan Wirata semua pasukan beserta pangeran Utara bersembunyi di dalam benteng.
Yang di hadapannya hanya ada Wu Song seorang yang sedang terbang di angkasa.
Raja Angga menjadi ragu, bila dia menggunakan jurus pamungkas nya yang pertama mati justru Pasukan nya sendiri.
Tapi bila tidak menggunakan hatinya penasaran dan merasa malu harus mundur dari pertempuran dan akan menjadi olok-olok orang tentang kekalahan pertamanya.
Bila hal ini sampai terdengar oleh rival abadinya dan menjadi bahan olok-olok nya nanti dia pasti akan kehilangan muka.
Wu Song yang bisa membaca pikiran dan gerak-gerik keraguan musuhnya berkata, dengan pesan suara yang hanya bisa didengar oleh Raja Angga.
"Bagaimana bila kita pura-pura bertempur dengan imbang, aku pura-pura terluka dan mundur."
"Kamu pun menarik mundur pasukan mu, karena kamu juga pura-pura terluka."
"Dan aku akan menasehati raja Wirata agar mencari dan mengusir rival mu dari kerajaan ini."
Tawaran ini menjawab keraguan Raja Angga tadi, dia langsung menarik kembali jurus pamungkas nya dan mengganti dengan jurus lain.
Pertukaran serangan ini membuat pundak Wu Song tertembus panah jatuh melayang dari udara menghantam tembok benteng baru tertahan di sana.
Sedangkan Raja Angga sendiri juga terkena tebasan sinar sarung pedang Wu Song dan terpental dari kereta kudanya.
Beberapa saat kemudian raja muda Angga naik kembali keatas kereta kuda nya memberi tanda agar Pasukan nya untuk mundur.
Wu Song pura-pura bangun dan berjalan tertatih-tatih sambil melemparkan senyum kearah Raja muda Angga.
Yang di balas anggukan kecil dari muda Angga sebelum mundur dari menghilang dari lokasi pertempuran.
Pasukan kerajaan Wirata hanya berani bersembunyi di dalam benteng menunggu hasil dari Wu Song.
Sampai terdengar suara gedoran di pintu benteng dan suara teriakan Wu Song,
"Duk..duk...duk..! Buka pintu...! buka pintu...! Duk...Duk...Duk...!"
Tak lama kemudian baru terdengar suara pergerakan di balik pintu, tak lama kemudian pintu gerbang pun terbuka dari dalam.
Wu Song berjalan masuk, langsung di sambut oleh pangeran Utara sendiri yang dengan cemas bertanya,
__ADS_1
"Bagaimana kondisi mu kakak Song ? apa yang sebenarnya terjadi ?"
Wu Song memberi tanda agar Pangeran Utara mengikuti nya menuju pos jaga.
Setelah duduk dan mencabut anak panah dari pundaknya, lalu menaburkan bubuk obat luka dari dewa obat.
Wu Song baru berkata,
"Raja Angga yang tidak ku ketahui siapa namanya pemuda itu, yang jelas dia sangat sakti dan berbahaya."
"Segera kalian cari dan mintalah baik-baik agar rival abadi nya, yang tentu memiliki kemampuan yang tidak berada di bawahnya, agar segera meninggalkan kerajaan Wirata."
"Jangan ikut campur dan terlibat dalam permusuhan yang bukan urusan kalian dan akan membawa kehancuran bagi kerajaan dan rakyat kalian."
Pangeran Utara menatap Wu Song dengan serius dan bertanya dengan hati-hati,
"Bukannya Raja Angga sudah mundur ? buat apa kita mencari masalah dengan rivalnya ?"
Wu Song menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Dia cuma mundur sementara saja, kekuatan kami berimbang, bila kami meneruskan pertempuran."
"Takutnya seluruh kerajaan Wirata akan rata dengan tanah."
ucap Wu Song serius.
Pangeran Utara mengangguk dan berkata,
"Aku setuju, tapi masalah ini harus dibicarakan dengan ayah ku lebih dulu."
"Kalau begitu sekarang juga kita pulang temui ayah mu." ucap Wu Song cepat.
"Tapi bagaimana dengan luka mu kakak Song ?" ucap Utara cemas.
"Tidak perlu khawatir sebentar lagi juga sembuh, lebih baik kita segera temui ayah mu sekarang."
"Dan sekarang kamu ingatkan pada pasukan mu jangan menambah gosip dan bumbu aku telah mengalahkan Raja Angga, agar kerajaan Wirata tidak menjadi sasarannya."
Utara mengangguk lalu cepat-cepat mengumpulkan jendral dan komandan pasukan nya dan berkata,
"Tolong awasi dan jaga mulut Pasukan kalian masing-masing jangan pernah berani menyebarkan gosip Raja Angga kalah oleh pelindung kita tuan Wu Song."
"Bagi yang melanggar akan langsung dijatuhi hukuman militer langsung ditempat, mengerti ?!"
Para pempinan Pasukan menjawab dengan kompak,
__ADS_1
"Kami mengerti...!"
Setelah itu Utara buru-buru berlari menghampiri Wu Song, Wu Song kemudian menggendong Utara duduk dipinggangnya dan terbang kearah istana.