
Pelayan tersebut tersenyum lebar dan berkata, " ada...ada... tentu ada tuan., arak Hang Zhou kedai kami yang terbaik dikota ini. Tuan tidak salah lagi memilih datang kemari.
Lu Fan hanya tersenyum menanggapi promosi dari pelayan tersebut,
"Berikan 5 guci ukuran sedang untuk ku ini uangnya cukup?"
Setelah itu Lu Fan meletakkan 1 tael mas diatas meja.
Pelayan itu terbelalak melihat uang yang diatas meja, seumur hidup baru sekali ini dia melihat uang seperti ini.
Dengan tangan gemetar dia mengambil uang tersebut, kemudian mencoba mengigit nya untuk memastikan keaslian uang tersebut.
Ternyata uang tersebut asli, dia sambil menunduk berkata,
"Uang ini berlebih banyak, tuan mau pesan yang lainnya atau apa?, saya akan antarkan buat tuan."
Lu Fan berpikir sejenak kemudian berkata,
"Tolong pesankan 3 bungkus mie goreng dan 30 biji bakpao terenak dikota ini."
"Satu bungkus antarkan kemari, dua bungkus lagi antarkan ke toko obat Yao."
"Sedangkan bakpao nya 5 kesini dan 25 kesana.
Ingat kalau di tanya, katakan saja itu dari Si Men Cing.
Sisa kembalian semua untukmu saja."
Pelayan itu menunduk hormat dan menjawab, "baik tuan saya segera menyiapkan semuanya."
Pelayan itu bergegas pergi sesaat kemudian dia meletakkan 5 guci arak didepan Lu Sun.
Kemudian dengan kepala tertunduk dia cepat meninggalkan kedai pergi mencari pesanan Lu Fan.
Si pelayan sudah meminta ijin dari pemilik kedai, sewaktu mengambil arak tadi.
Agar lebih tenang menjalankan tugas yang dipesankan Lu Fan padanya.
Lu Fan duduk dan mulai menikmati arak kesukaannya, ternyata rasanya memang lebih enak, si pelayan ternyata tidak berbohong dan asal promosi.
Sambil minum Lu Fan tanpa sadar teringat wajah Lin Lin, berbagai ekspresi Lin Lin muncul dalam ingatan nya satu-persatu.
Seperti sedang melotot marah, mencibir, mengerucutkan bibirnya, tersenyum cemberut, terkejut.
Semua ekspresi ini terbayang jelas sambil tersenyum sedih Lu Fan mengambil guci arak dan meneguknya.
Meski dia bisa membayangkan tapi dia tidak dapat mendekatinya, gadis itu sangat membenci dirinya.
Semua ini wajar pikir Lu Fan, siapa suruh nasibnya begitu sial. Setiap bertemu selalu berakhir dengan pelecehan, wanita baik-baik mana yang tidak akan marah, bila mengalami hal tersebut.
__ADS_1
Lu Fan tidak menyalahkan Lin Lin tapi dia lebih menyalahkan nasibnya yang tidak beruntung.
Lu Fan termenung membayangkan Lin Lin sedang asyik makan mie dan bakpao darinya, yang penting dia mau makan pikir Lu Sun.
Bila dia tahu sarapan itu darinya tentu dia tidak bersedia makan, biarlah keberuntungan ini buat si Si Men saja.
Baginya asal Lin Lin makan itu sudah cukup, dia tidak berharap Lin Lin berterimakasih atau membalas kebaikannya.
Biarkan semua berlalu seperti angin, dapat di nikmati tidak perlu terlihat.
Sambil menghela nafas Lu Fan kembali mengambil guci arak baru dan minum dengan galau.
Pelayan yang diminta Lu Fan sudah kembali, kini dia mengantarkan sebungkus mie goreng dan 5 bakpao buat Lu Fan.
"Bagaimana apa sudah beres ceritakan padaku," tanya Lu Fan antusias.
Pelayan itu pun mulai bercerita,
Saat pelayan tersebut mengantar Bakpao ke toko obat Yao, pelayan tersebut bertemu Yao Su yang sedang menyusun rumput-rumput obat yang sudah dikeringkan.
"Paman... benarkah disini toko obat Paman Yao..?" tanya pelayan kedai arak dengan hormat.
Yao Su mengangkat kepalanya dan melihat kearah pelayan itu dengan sedikit heran dia menjawab sambil bertanya,
"Ya saya sendiri Yao Su, ada keperluan apa?ada yang bisa saya bantu anak muda? kalau periksa penyakit pasien saya tidak bisa.
Tapi bila kamu tahu nama obat atau ada resepnya saya bisa ambilkan."
"Tidak saya bukan ingin membeli obat dan memeriksa penyakit, saya datang karena mengantar pesanan ini buat toko obat Paman Yao."
Yao Su mengerutkan alis berpikir siapa yang begitu baik pagi-pagi menyuruh pelayan datang mengantar sarapan untuknya.
Yao Su dengan heran bertanya,
"Siapa yang mengirimkan makanan ini?"
Pelayan itu sambil tersenyum menjawab,
Ini dari tuan Muda Si Men Cing.
Begitu mendengar nama tersebut, Yao Su wajahnya berubah menjadi masam, dengan ketus dia berkata,
"Salah alamat bawa kembali."
Kebetulan Lin Lin keluar dari dalam sambil membawa nampan berisi daun segar.
Melihat sikap ayahnya yang terlihat sedang tidak senang, Lin Lin berjalan menghampiri mereka bertanya,
"Ada apa ayah?"
__ADS_1
"Bukan urusanmu masuklah," jawab Yao Su ketus.
Lin Lin mengerutkan alisnya, dia tidak masuk tapi melihat kearah pelayan kedai meminta penjelasan.
Pelayan menatap sejenak kearah Yao Su kemudian berpaling ke Lin Lin sambil berkata,
"Nona saya di utus oleh tuan Si Men Cing untuk mengantarkan sarapan ini ke toko obat Yao.
Lin Lin melirik kearah ayahnya sejenak, kemudian tersenyum ramah dan menerima bungkusan tersebut dan berkata,
"Terima kasih, maaf sudah merepotkan mu, ini sedikit ongkos jalan buatmu."
Lin Lin mengulurkan tangannya memberikan beberapa koin pada pelayan itu.
Tapi pelayan tersebut langsung mundur dan menolaknya sambil berkata,
"Tidak perlu nona saya sudah menerima upahnya dari tuan Si Men, saya cuma menjalankan tugas saja."
Pelayan membalikkan badan terlihat terburu-buru mau pergi, tapi Lin Lin langsung memanggilnya,
"Tunggu... tolong sampaikan terimakasih ku pada tuan Si Men."
Setelah mengatakan itu dengan tersenyum malu-malu, Lin Lin berlari masuk kedalam rumah sambil membawa bungkusan makanan yang sebenarnya dari Lu Fan.
Pelayan pun menutup ceritanya pada Lu Fan.
Baiklah terima kasih banyak, kamu boleh kembali bekerja lagi. Maaf telah merepotkan mu." ucap Lu Fan sungkan.
Aah tidak apa-apa, kalau begitu saya permisi.
Kalau ada perlu apa panggil saja.
Lu Fan sambil tersenyum tidak berdaya, membuka bungkusan mie dan Bakpao.
Lu Fan makan sambil berpikir ternyata Lin Lin sangat menyukai pria bernama Si Men itu
Terlihat dia begitu antusias, saat mengetahui sarapan itu dari orang bernama Si Men itu pikir Lu Fan.
Ketika sedang asyik makan Lu Fan mendengar suara ribut-ribut diluar, "ada apa? tanya Lu Fan kepada pelayan kedai itu yang terlihat pucat
"Gawat tuan Si Men...jawab pelayan tersebut panik.
"Emangnya ada apa katakan yang jelas, jangan setengah-setengah..?" tanya Lu Fan santai sambil makan Bakpao.
Itu...itu...itu tuan Si Men pasukan keamanan kota mendatangi Toko obat Yao menangkap Paman Yao dan Putrinya. jawab pelayan itu tergagap dan panik.
Lu Fan yang sedang santai makan bakpao terkejut mendengarnya,
"apa katamu barusan, coba ulangi lagi."
__ADS_1
Maaf tuan Si Men ini benar aku melihat sendiri pasukan kota menangkap dan membawa paman Yao dan Putrinya dengan tangan terikat menuju balai kota.
Lu Fan memukul meja murka, meja didepannya keempat kakinya langsung melesak kedalam tanah sedalam 30 centi.