
Untungnya meski terlihat stress berat dan pikirannya terganggu, tapi So Soo selalu menghabiskan makanan dan minuman yang di kirimkan oleh para pelayan ke kamarnya..
"Sayang bangunlah,.. lihatlah aku selalu menuruti permintaan mu untuk hidup dengan baik."
"Aku selalu rajin makan dan minum agar tetap sehat, begitu pula dengan anak kita.."
"Aku akan hidup dengan baik, aku akan merawat dan membesarkannya, setelah itu aku akan pergi menyusul mu, agar kita bisa berkumpul bersama lagi.."
"Ahh tidak...! tidak...! aku salah..! kamu tidak pergi..kamu hanya tidur saja...ya benar kamu hanya tidur saja.."
"Aku akan terus menjaga mu dan menunggu mu untuk bangun dan berkumpul dengan ku lagi..."
"Pelayan....! pelayan...!! mana pelayan..!!"
Beberapa pelayan berlari pontang-panting masuk kedalam ruangan mereka berlutut di depan So Soo dan berkata dengan suar takut-takut.
"Ya tuan putri..ada pesan apa ?"
"Aku ingin mandi cepat siapkan.. cepat-cepat..!"
"Aku tidak boleh kotor dan bau..suamiku tidak suka cepat...!"
Beberapa pelayan itu langsung bergegas pergi menyiapkan peralatan buat mandi tuan putri mereka.
Setelah mandi dan berganti pakaian bersih, So Soo langsung kembali ke kasur di mana suaminya tergeletak di sana.
Dia kembali duduk memangku dan memeluk mayat suaminya dan berkata,
"Yong ke ke lihatlah, aku sudah mandi dan ganti pakaian bersih, aku sudah wangi sekarang, ciumlah kamu pasti suka.."
"Ayo bangunlah sayang ciumlah, bukankah kamu selalu mengatakan paling suka mencium wangi tubuh ku setiap habis mandi..ayo bangunlah sayang..."
"Sudahlah kamu pasti masih ngantuk, tidurlah, aku tidak mengganggumu lagi..."
Hari demi hari berlalu dengan cepat perjalanan pulang menuju Goguryeo menjadi jauh lebih lambat karena harus menantang arus sungai Huang Hp.
Berbeda dengan kedatangan mereka yang hanya mengikuti arus sehingga perjalanan lebih cepat.
Semakin hari tubuh Lee Yong semakin di penuhi benang ulat sutra yang keluar melilit seluruh tubuhnya.
Awalnya So Soo bisa membersihkan benang-benang itu, tapi semakin lama semakin banyak dan sangat sulit di bersihkan.
Di hari ketujuh, So Soo sambil menangis dan mengoceh sendiri masih berhasil mempertahankan wajah suaminya tetap terlihat tidak tertutup oleh benang-benang halus itu.
Tapi pada hari ke 14 seluruh tubuh Lee Yong sudah habis tertutup semua berubah menjadi sebuah gulungan benang sutera putih.
Kini So Soo sudah tidak bisa memangku atau menggendong gulungan yang semakin lama semakin besar itu.
Dia hanya bisa duduk menangis dengan sedih melihat gulungan benang putih yang membungkus jasad suaminya.
"Yong ke ke maafkan So Soo, So Soo benar-benar tidak berguna."
__ADS_1
"Bahkan cuma menjaga dan melindungi jasad mu tetap utuh sampai kita pulang pun aku tidak bisa."
"Gara-gara So Soo kamu harus kehilangan nyawa di negeri orang, gara-gara So Soo pula kamu tidak bisa kembali kerumah dengan mayat utuh.."
"Hu...hu..hu...hu...! maafkan So Soo Yong ke ke, So Soo sungguh tidak berguna.."
ucap So Soo sambil menangis sedih di samping kepompong ulat sutra itu.
Tiba-tiba So Soo mengangkat kepalanya matanya menjadi beringas,
"Kalian para pendekar daratan tengah sungguh keji dan kejam, kalian mengeroyok Yong ke ke sampai tewas..!"
"Aku So Soo bersumpah suatu hari nanti aku pasti akan kembali ke daratan tengah mencari kalian satu persatu..!"
"Aku tidak akan membiarkan kalian hidup dengan tenang, Wu Song Lu Sun kalian tunggulah aku pasti akan membalas dendam...!"
"Bila tidak berhasil lebih baik aku tidak usah menjadi orang...Hu...hu...hu..hu...!"
Teriak So Soo sambil menangis.
Keempat tetua yang berada di luar hanya menghela nafas panjang dengan wajah berduka.
"Ketua muda kamu tenanglah di sana, bila nyonya muda ingin membalas dendam dan kembali kesana, aku tetua kilat pasti akan pergi menemaninya.."
"Aku akan menggunakan nyawa tua ini untuk mewujudkan misinya.."
ucap Tetua kilat bertekad sambil bersumpah menghadap langit.
"Aku tetua hujan,!
"Aku tetua Petir..!
"Kami bersumpah akan membantu nyonya muda balas dendam...!!"
ucap ketiga orang itu kompak.
Tetua kilat menatap ketiga saudaranya dan berkata,
"Bila nyonya muda punya tekad itu, kita terpaksa harus membantunya berlatih kitab pusaka terlarang dewa petir."
"Hanya dengan Wu Jie Qian Kun Lei Sien Ta FA, nyonya muda punya peluang mengalahkan musuh-musuhnya."
"Kakak apa tidak berlebihan jika kita harus mengeluarkan pusaka yang sudah berumur ratusan ribu tahun, tersimpan di dekat jasad leluhur kita itu."
"Tetua kilat menghela nafas panjang dan berkata,
"Adik angin kamu juga bukan tidak melihat, bagaimana bahayanya jurus pemuda pedang hijau itu.."
"Kurasa hanya ilmu itulah yang bisa menandingi ilmu pedang pemuda itu.."
ucap tetua kilat.
__ADS_1
"Kakak kilat benar kita juga bisa memberikan senjata cambuk petir semesta ke nyonya untuk menghadapi keganasan pedang itu.."
ucap tetua petir.
"Adik kalau benda itu keluar dari sarangnya, aku takutnya Dunia akan musnah."
"Sebaiknya hal ini kita rundingan dengan ketua lama dulu sebelum bertindak.."
ucap Tetua kilat sedikit ragu.
Tetua hujan juga mengangguk dan berkata,
"Aku sependapat dengan kakak kilat.."
"Baiklah kalau begitu kita putuskan begitu saja sementara waktu, hingga kita bertemu ketua lama Lee Kong baru kita mengambil keputusan."
"Aku sudah tidak sabar ingin melihat wajah-wajah manusia daratan tengah yang sombong itu, saat melihat ilmu dan senjata pusaka perguruan kita."
"Biar mereka tahu perguruan Dewa petir bukan bisa mereka anggap main-main."
ucap Tetua angin dengan emosi.
"Tapi kakak kilat apa nyonya muda punya bakat dan mampu menahan kedua kekuatan itu ?"
tanya tetua hujan ragu-ragu.
"Tidak perlu diragukan lagi, aku pernah menggendong dan memindahkan nyonya muda ketika dia pingsan tidak sadarkan diri disebelah jasad ketua muda."
"Saat memindahkannya itulah aku menemukan kualitas tulang, bakat bahkan struktur tata letak organ bagian dalam tubuh nyonya muda.."
"Adalah kualitas dan mutu terbaik untuk melatih ilmu perguruan kita, bahkan bakatnya jauh melampaui ketua muda."
ucap Tetua kilat memberi penjelasan.
Tetua petir memukul telapak tangan nya sendiri dan berkata,
"Ini benar-benar langit ingin membantu kita.."
"Kita tidak boleh sia-siakan peluang ini."
"Tapi saat ini nyonya muda pikiran nya terganggu seperti itu, apa bisa ?"
ucap Tetua angin ragu.
"Justru pikiran terganggu itulah yang tepat, orang pikiran terganggu, tidak punya rasa takut, terutama rasa takut mati.."
"Itu adalah salah satu syarat untuk bisa mencapai puncak tertinggi ilmu itu.."
Sementara kelima orang itu sedang berunding, Bun Houw yang berada di dalam bilik ruangannya mendengarkan semua nya dengan seksama.
Sangat sulit ditebak apa yang sedang dia pikirkan, setelah mendengar pembicaraan ke 4 Tetua itu.
__ADS_1