
Wu Song tersenyum kagum dengan perlawanan mereka, di dalam hati Wu Song berpikir Siauw Lim Si benar-benar tempat gudang pendekar.
Wu Song menambah kekuatan suara sulingnya setahap demi setahap menguji ketahan formasi yang menghadang di depannya.
Sambil bertahan lapis ketiga melengkungkan tongkat mereka kemudian melepaskannya untuk menghantam Wu Song.
Tongkat yang di tangkis oleh kaki Wu Song akan di pentalkan kembali kearah Wu Song oleh lapis pertama dan kedua yang sedang memutar tongkat menekan irama suling Wu Song.
Wu Song menjejakkan kakinya terbang keatas menghindari serangan tongkat yang datang bertubi-tubi, yang dapat merusak irama suling yang sedang ditiupnya.
Tapi para pengepung tidak menyerah mereka juga ikut melesat ke udara sambil menembakkan tongkat yang di lengkungkan kearah Wu Song.
Wu Song menjejak kakinya sendiri dan terbang semakin tinggi, hingga para biksu tidak bisa menjangkaunya.
Para pengepung kembali ke posisi mereka untuk memperkuat pertahanan, karena mereka berpikir Wu Song cepat lambat akan turun.
Tapi kenyataan nya Wu Song bertahan diudara, meningkatkan kekuatan irama suling nya.
Hal ini membuat 107 biksu yang berada dalam formasi mereka mulai goyah, tidak kuat menghadapi irama suling Wu Song yang memberikan tekanan yang semakin kuat.
Akhirnya baris satu dan dua terhuyung-huyung mundur kebelakang, seperti orang mabuk.
Bila tidak di tahan oleh baris ke 3, mereka semua tentu telah rebah malang melintang. saat kondisi mereka semakin sulit.
Tiba-tiba muncul 3 orang biksu baju merah dari dalam pos jaga ketiga, dan dari mulut mereka terus terdengar suara lantunan doa
Yang lembut dan halus yang mengandung tenaga dalam dahsyat.
Suara lantunan doa itu mampu memulihkan kondisi barisan para biksu itu, yang kini merasa lebih nyaman.
Dan mulai kembali bisa menahan suara irama suling Wu Song, dengan suara ayunan tongkat mereka yang kembali berbunyi,
"Wung...wung...wung....!"
Melihat kemunculan ketiga biksu itu, Wu Song menghentikan irama sulingnya dan melayang turun dari udara.
berdiri di hadapan mereka merangkapkan kedua tangannya di depan dada dan memberi hormat kearah 3 biksu jubah merah di depannya dan berkata,
"Apakah saya saat ini sedang berhadapan dengan Hong San Fang Cang..?"
__ADS_1
Ketiga biksu itu menggelengkan kepalanya, salah satu diantara mereka berkata,
"Suheng ( kakak seperguruan ) kami sedang menutup diri bulan depan baru keluar, Siau Sicu ( Tuan muda ) ada keperluan apa ? bisa sampai kan saja pada kami bertiga."
Wu Song menatap mereka bertiga sejenak kemudian berkata,
"Aku sedang mencari seorang biksu yang wajahnya hanya di kenal oleh saudara kecil itu."
ucap Wu Song sambil menunjuk Cun Ming.
"Apakah anda bertiga dapat membantu ku, mengumpulkan seluruh biksu Siau Lim Si untuk di kenali wajahnya oleh saudara kecil itu.?" tanya Wu Song sopan.
Ketiga biksu itu saling pandang kemudian salah satu diantara mereka berkata,
"Kalau anda ingin melihat wajah seluruh biksu di kuil kami, terus terang itu agak sulit."
"Ada di antara mereka yang sedang menjalankan tugas diluar belum pulang, kami tidak bisa memanggil mereka pulang."
"Selain itu ada beberapa tetua kami yang sudah memutuskan hubungan dengan duniawi, tidak mungkin pula kami yang junior ini berani mengusik ketenangan mereka."
"Jadi permintaan Sicu dengan sangat menyesal kami menolaknya."
"Tapi bila Sicu ingin melihat selain yang tadi saya sebutkan, saya bisa bantu Sicu, tapi hanya sebatas itu kemampuan kami."
Wu Song pun mengangguk dan berkata,
"Baiklah saya setuju, terimakasih banyak kepada anda bertiga yang sudi membantu kami mencari seseorang."
Akhirnya semua biksu Siau Lim Si yang berjumlah hampir 1000 orang di kumpulkan semua, untuk di kenali oleh Cun Ming.
Tapi sampai orang terakhir tidak ada satupun biksu yang di cari oleh Cun Ming ada di sana.
Cun Ming dengan lesu menatap Wu Song dan menggelengkan kepalanya.
Wu Song menghela nafas panjang, menemukan orang itu seperti mencari jarum dalam lautan, tapi Wu Song tidak bisa menyerah.
"Bagaimana?"" tanya salah satu dari tiga pimpinan kuil Siauw Lim Si yang berjubah merah kepada Wu Song.
Wu Song menggelengkan kepalanya dan berkata,
__ADS_1
"Belum ketemu, terima kasih banyak, maaf telah merepotkan Anda dan semua biksu di sini."
"Tapi bolehkah anda memberitahu pada saya ada berapa orang biksu yang sedang tugas di luar ? kalau ada rincian nama dan wajahnya lebih baik."
Ketiga biksu kepala saling pandang kemudian berkata,
"Jumlahnya ada 20 orang, daftar namanya kami punya kalau rincian wajah kami tidak punya."
"Sicu mencari seperti ini sangat sulit dan menguras tenaga, kenapa Sicu tidak pergi menemui pelukis Ning Po yang tinggal di kaki gunung ini."
"Setelah mendapatkan rincian gambar wajahnya, mungkin kami dapat membantu Anda mengenalinya." ucap salah satu biksu memberi saran dan petunjuk.
Wu Song setelah mengucapkan terimakasih dan pamit, disKemudian membawa rombongannya pergi mencari tukang lukis Ning Po yang tinggal di kaki gunung Siong ini.
Beberapa hari kemudian Wu Song sendirian membawa sebuah gambar sketsa wajah seorang biksu.
Kembali ke biara menemui ketiga biksu kepala, kali ini Wu Song tidak menerima hambatan dan dapat bergerak bebas tidak ada yang menghalangi jalannya lagi.
Setelah menunjukkan sketsa wajah itu, Ketiga biksu kepala mengerutkan alisnya dan berkata,
"Sicu mencari orang ini sebenarnya ada urusan apa? bolehkah Sicu memberitahukan kepada kami."
Wu Song dalam hati berpikir kenapa ketiga biksu ini jadi tertarik,
dan ingin tahu permasalahannya.
Apakah mereka mengenal orang ini.?
Wu Song sedikit curiga karena sebelumnya mereka bertiga tidak begitu perduli dengan masalah dia mencari orang ini untuk apa.
Sambil melihat reaksi mereka bertiga Wu Song pun bercerita tentang keributan yang terjadi antara dirinya dan Xu San Pai.
Dan kunci dari pelaku yang melemparkan fitnah keji ini pada istrinya, mungkin bisa dia temukan lewat biksu yang ada dalam sketsa gambar di tangannya ini.
Ketiga biksu itu mengangguk dan berkata,
"Maaf kami tidak bisa membantu banyak dalam urusan ini."
"Semoga anda bisa cepat menemukan pelakunya...San chai...San chai...San chai..." ucap Ketiga biksu itu kompak.
__ADS_1
Wu Song pun pamit mengundurkan diri, meninggalkan kuil Siaw Lim Si, tapi tiba di kaki gunung Wu Song langsung terbang kembali ke Puncak Gunung.
Kali ini Wu Song kembali secara diam-diam dengan cara terbang di atas langit, kemudian diam-diam memantau gerak-gerik Ketiga biksu kepala itu.